Kedelai, tidak hanya dikenal berprotein tinggi. Lebih dari itu kedelai juga memiliki kandungan isoflavon sebagai antioksidan dan antikanker. Sejumlah peneliti di tanah air pun siap mengeluarkan varietas kedelai dengan kandungan isoflavon cukup tinggi.
Dr. M. Muchlish Adie, MS
(Kabid Kerjasama dan Pandayagunaan Hasil Penelitian Pemulia Kedelai)
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Kedelai dan tempe merupakan contoh sumber protein nabati yang dikenal masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Selain kandungan protein yang tinggi, kedelai dan tempe memiliki potensi lain yaitu isoflavon. Keistimewaan isoflavon yang telah diketahui sampai saat ini ialah kemampuan sebagai antioksidan dan antikanker.
Lantaran itulah, wajar jika kedelai kini termasuk dalam jenis functional food yang digemari oleh banyak orang di dunia. Bahkan disejumlah negara maju, kedelai sudah dikelola untuk bahan baku berbagai industri seperti kosmetik dan farmasi.
Ragam kandungan isoflavon pada kedelai selain ditentukan oleh faktor lingkungan juga beragam antar varietas kedelai. Genotype kedelai asal Brasilia, yaitu BRM95-50570 memiliki kandungan isoflavon cukup tinggi yaitu 290 mg/100 g biji kedelai.
Hasil identifikasi yang dilakukan di Cina juga memperoleh tiga kedelai dengan kandungan isoflavon antara 548 hingga 656 mg/100 g biji kedelai. Isoflavon pada kedelai merupakan sifat yang diwariskan dan keberadaanya dikendalikan oleh gen-gen sederhana yang bersifat resesif.
Peningkatn isoflavon pada kedelai di Indonesia sangat penting. Genotype IAC 100 (asal Brasilia) juga memiliki kandungan isoflavon 447,5 mg/100 g biji, dan genotype tersebut tersedia di Indonesia.
“Jika gen IAC 100 pada kedelai asal Brasil juga terdapat pada kedelai di Indonesia, kenapa tidak kita ciptakan varietas baru yang memiliki isoflavon yang mendekati. Apalagi zat tersebut begitu penting guna mencegah penyakit kanker sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia,” jelas M. Muchlish Adie, Ka. Bid Kerjasama & Pendayagunaan hasil penelitian dan Pemulia Kedelai dari Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Departemen Pertanian Republik Indonesia.
Kedelai sebagai bahan makanan sehat, juga didukung oleh pernyataan FDA (Food and Drug Administration) tahun 2000, dengan cara melakukan pelabelan pada produk olahan asal kedelai, yang berisi pernyataan bahwa konsumsi 25 g protein kedelai per hari, efektif untuk mengurangi resiko penyakit kardiovaskular.
Strategi peningkatan isoflavon pada kedelai di Indonesia, akan diawali dengan mengidentifikasi kedelai yang ada di plasmanutfah dan selanjutnya direkombinasikan dengan kedelai berdaya hasil tinggi sehingga sesuai dengan peruntukannya untuk bahan pangan maupun industri.
Peruntukan biji kedelai di Indonesia saat ini digunakan sebagai bahan baku tempe dan tahu. Kedua olahan tersebut memerlukan ukuran biji kedelai yang berlainan. Industri tahu umumnya menghendaki kedelai berukuran biji sedang, sebaliknya industri tempe lebih menekankan pada penggunaan kedelai berbiji besar.
“Karenanya strategi perbaikan untuk peningkatan isoflavon pada kedelai di Indonesia dapat diarahkan pada perbaikan kedelai berbiji besar (Argomulyo, Burangrang, Brono, Mahameru dan Anjasmoro) dan kedelai berbiji sedang (Wilis, Kaba, Sinabung dan sebagainya),” tambah Muchlis.
Saat ini pengembangan varietas kedelai dengan isoflavon mendekati 200 mg/ 100 g biji sudah memasuki tahap multilokasi. Syarat terakhir untuk dapat mengeluarkan varietas kedelai terbaru. Dengan begitu pemanfaatannya kelak dapat diserap oleh sektor industri lain diluar pemakaiannya sebagai bahan pangan. (Azis)
Elfi Anis Saati menulis pada Minggu, 20 Maret 2011, 10:26
Ya, saya sangat setuju dengan upaya pemberdayaan kedelai lokal tsb. Saya juga sedang berupaya meningkatkan profil isoflavon olahan kedelai (susu kedelai) agar digemari masyarakat karena kaya antioksidan (anti kanker, anti tumor dll), juga penggunaan essens alami (panili, kayu manis, cengkeh, jahe dll) yang kaya polifenol juga. Good luck. Kalau saya/kami butuh bahan baku tsb ,ohon dibantu ya Pak (Kabid Kerjasama dan Pandayagunaan Hasil Penelitian Pemulia Kedelai)