<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Budidaya Padi Organik dengan Paket Teknologi GSM</title>
	<atom:link href="http://bangkittani.com/wacana/news-test/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bangkittani.com/wacana/news-test/</link>
	<description>Majalah Edukasi</description>
	<pubDate>Wed, 23 May 2012 05:03:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: H.Tambunan</title>
		<link>http://bangkittani.com/wacana/news-test/comment-page-1/#comment-1374</link>
		<dc:creator>H.Tambunan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 04:40:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bangkittani.com/?p=46#comment-1374</guid>
		<description>Saya berminat melakukan pengembangan padi organik di Nusa Tenggara Timur, sementara mempersiapkan sutau Lembaga Pertanian Sehat.  Kami ingin bekerjasama dengan teman2 yang sudah melakukan pengembangan padi organik di pulau jawa..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya berminat melakukan pengembangan padi organik di Nusa Tenggara Timur, sementara mempersiapkan sutau Lembaga Pertanian Sehat.  Kami ingin bekerjasama dengan teman2 yang sudah melakukan pengembangan padi organik di pulau jawa..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: befridesi upastri</title>
		<link>http://bangkittani.com/wacana/news-test/comment-page-1/#comment-1176</link>
		<dc:creator>befridesi upastri</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 09:38:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bangkittani.com/?p=46#comment-1176</guid>
		<description>apakah budidaya padi organik bisa diterapkan di sawah yang tadah hujan? ataukah hanya bisa diterapkan pada lahan sawah yang mempunyai irigasi? terimakasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>apakah budidaya padi organik bisa diterapkan di sawah yang tadah hujan? ataukah hanya bisa diterapkan pada lahan sawah yang mempunyai irigasi? terimakasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: edy purnomo</title>
		<link>http://bangkittani.com/wacana/news-test/comment-page-1/#comment-925</link>
		<dc:creator>edy purnomo</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 14:48:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bangkittani.com/?p=46#comment-925</guid>
		<description>giman cara menenam padi dengan sistem SRI</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>giman cara menenam padi dengan sistem SRI</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ardiansyah al Ertha</title>
		<link>http://bangkittani.com/wacana/news-test/comment-page-1/#comment-900</link>
		<dc:creator>Ardiansyah al Ertha</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 04:25:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bangkittani.com/?p=46#comment-900</guid>
		<description>BUKAN SEBUAH SANDIWARA, Ada suatu kenyataan yang aneh, dilihat dari geografisnya Indonesia lebih tepat disebut negara maritim, kenyataan hingga kini tetap kokoh dengan label negara agraris. Artinya, Indonesia bukannya dikenal dan terkenal karena batu bara, timah, minyak, emas maupun hasil industrinya, tetapi mencuat dan dicatat karena hasil buminya yang melegenda berabad-abad. Buktinya, teh, kopi, kopra, kelapa sawit, rempah-rempah, minyak atsiri, telah lama melanglang buana dengan membawa trade mark Indonesia. Ya, petani kita telah membuat Indonesia punya nama di dunia ! Pernyataan ini bukannya untuk membesar-besarkan jasa petani. Sebab petani Indonesia memang " orang besar ". Dan justru terasa lebih besar lagi ketika nama mereka jarang dikenal. Di Jawa, petani sering hanya disebut dengan perumpamaan Si Dadap atau Si Waru, Si Suta atau Si Naya. Seolah nama mereka tak layak dicatat. Karyanya saja yang ditunggu, buah tangannya saja yang perlu. Ibarat, semua suka makan berasnya, tetapi tidak ingin terpercik lumpur dari sawahnya. Dalam pandangan banyak orang, petani hanyalah " wong cilik ". Sama halnya rumputan yang tumbuh di permukaan tanah. Memang, jasa mereka besar dalam mencegah erosi permukaan bumi ini. Tetapi, resikonya terus juga terinjak dan diinjak oleh jutaan kaki hewan dan manusia. Mungkin, gara-gara posisi petani selalu terletak dibawah, dekat dengan tanah, banyak generasi muda anak cucu petani yang enggan mewarisi profesi ini, dan kepengin mencicipi hidup di alam yang " lebih benderang dan tinggi ". Entah jadi pegawai negeri, guru, dosen, pengusaha dll. Yang penting meninggalkan desa, meninggalkan predikat " wong tani " yang dinilai tak punya masa depan karena akan terus dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan di sekitarnya. Oleh cangkul, tengkulak, pasar, mall, hingga selera-selera modern dan global yang makin berkuasa di dunia. Potret kecil ini tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Sebab, dunia pertanian Indonesia rasanya memang belum pernah menjadi subjek. Para peteni pun belum memproleh kemandiriannya secara individu, social, dan professional. Pada realitasnya, dunia pertanian selalu mengalami tarik-menarik, baik oleh kekuasaan, ilmu pengetahuan, pasar, hokum, ekonomi, perdagangan, hingga dinamika social politik di tanah air. Bertahun-tahun dunia pertanian telah menjadi “ lapangan sepak bola “ bagi para avonturir yang mencari keuntungan disana, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh “ menanam “ benih-benih bermutu dan layak dikenang zamannya. Setidak-tidaknya karena alasan seperti diataslah, relawan media komunikasi pertanian SIDATANI melakukan gerakan menjumpai para petani diseluruh pelosok negeri, menyambung silaturahmi positif konstruktif. Sekaligus membangun tradisi belajar bersama “ asah-asih-asuh “ secara terbuka (seperti difatwakan oleh Ki Hajar Dewantara), yang dijiwai semangat tenggang rasa dan patembayatan tinggi. Soalnya, sesuatu yang tak pernah berubah di dunia ini, adalah perubahan itu sendiri. Dengan demikian, para petani pun akan menghadapi perubahan demi perubahan yang kadang terlampau cepat, kadang belum sepenuhnya dimengerti, sehingga tidak sampai diketahui dan diantisipasi sama sekali. Untuk itu, relawan media komunikasi pertanian SIDATANI benar-benar ingin membantu menemukan celah lorong untuk lolos dari berbagai permasalahan yang membelit petani selama ini. Mungkin, gerakan jumpa petani ini kesannya terlalu tinggi, terlampau berlebihan. Namun, kami para relawan SIDATANI yakin. Tidak ada jalan yang tiba-tiba mulus di masa awal. Tidak ada bukit yang tiba-tiba rata. Tidak ada sawah yang tiba-tiba berpematang. Seluruh tatanan itu harus dibuat dan membutuhkan cucuran keringat. Pendek kata, relawan SIDATANI telah bertekad  jumpa petani menjadi saudara, menjadi sahabat petani di seluruh Indonesia. Kami akan sama-sama menyangkul, merumput, membuat benih, menanam, memelihara, memberantas hama penyakit, hingga memanen, dan bergandengan tangan menangani berbagai kegiatan pasca panen yang cukup rumit di lapangan. Terakhir sekali, kami mengetuk hati para dermawan,  untuk membiayai perjalanan relawan SIDATANI jumpa petani, dalam bentuk penjualan : PAKET JUMPA PETANI, senilai Rp. 57.500,- (lima puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) berupa 1 (satu) liter pupuk bio organic HERBAFARM + 1 EKS MAJALAH SIDATANI, dari penjualan paket tersebut, Rp. 7.500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah) akan kami gunakan untuk biaya perjalanan  JUMPA PETANI ke seluruh Indonesia. Paket JUMPA PETANI akan kami kirimkan kepada para dermawan, atau bisa juga di sumbangkan kepada para petani, melalui relawan SIDATANI. Bagi dermawan yang berminat bisa transper melalui : Ardiansyah al Ertha, SE – Bank Central Asia (BCA), Cabang Katamso Yogyakarta, rekening : 4450941943 atau Bank Mandiri, Cabang Katamso Yogyakarta, rekening : 1370005425307. Bukti transper, mohon FAX : 0274 – 370324 atau Telp/SMS ke : 08172346363, 081321490378.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>BUKAN SEBUAH SANDIWARA, Ada suatu kenyataan yang aneh, dilihat dari geografisnya Indonesia lebih tepat disebut negara maritim, kenyataan hingga kini tetap kokoh dengan label negara agraris. Artinya, Indonesia bukannya dikenal dan terkenal karena batu bara, timah, minyak, emas maupun hasil industrinya, tetapi mencuat dan dicatat karena hasil buminya yang melegenda berabad-abad. Buktinya, teh, kopi, kopra, kelapa sawit, rempah-rempah, minyak atsiri, telah lama melanglang buana dengan membawa trade mark Indonesia. Ya, petani kita telah membuat Indonesia punya nama di dunia ! Pernyataan ini bukannya untuk membesar-besarkan jasa petani. Sebab petani Indonesia memang &#8221; orang besar &#8220;. Dan justru terasa lebih besar lagi ketika nama mereka jarang dikenal. Di Jawa, petani sering hanya disebut dengan perumpamaan Si Dadap atau Si Waru, Si Suta atau Si Naya. Seolah nama mereka tak layak dicatat. Karyanya saja yang ditunggu, buah tangannya saja yang perlu. Ibarat, semua suka makan berasnya, tetapi tidak ingin terpercik lumpur dari sawahnya. Dalam pandangan banyak orang, petani hanyalah &#8221; wong cilik &#8220;. Sama halnya rumputan yang tumbuh di permukaan tanah. Memang, jasa mereka besar dalam mencegah erosi permukaan bumi ini. Tetapi, resikonya terus juga terinjak dan diinjak oleh jutaan kaki hewan dan manusia. Mungkin, gara-gara posisi petani selalu terletak dibawah, dekat dengan tanah, banyak generasi muda anak cucu petani yang enggan mewarisi profesi ini, dan kepengin mencicipi hidup di alam yang &#8221; lebih benderang dan tinggi &#8220;. Entah jadi pegawai negeri, guru, dosen, pengusaha dll. Yang penting meninggalkan desa, meninggalkan predikat &#8221; wong tani &#8221; yang dinilai tak punya masa depan karena akan terus dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan di sekitarnya. Oleh cangkul, tengkulak, pasar, mall, hingga selera-selera modern dan global yang makin berkuasa di dunia. Potret kecil ini tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Sebab, dunia pertanian Indonesia rasanya memang belum pernah menjadi subjek. Para peteni pun belum memproleh kemandiriannya secara individu, social, dan professional. Pada realitasnya, dunia pertanian selalu mengalami tarik-menarik, baik oleh kekuasaan, ilmu pengetahuan, pasar, hokum, ekonomi, perdagangan, hingga dinamika social politik di tanah air. Bertahun-tahun dunia pertanian telah menjadi “ lapangan sepak bola “ bagi para avonturir yang mencari keuntungan disana, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh “ menanam “ benih-benih bermutu dan layak dikenang zamannya. Setidak-tidaknya karena alasan seperti diataslah, relawan media komunikasi pertanian SIDATANI melakukan gerakan menjumpai para petani diseluruh pelosok negeri, menyambung silaturahmi positif konstruktif. Sekaligus membangun tradisi belajar bersama “ asah-asih-asuh “ secara terbuka (seperti difatwakan oleh Ki Hajar Dewantara), yang dijiwai semangat tenggang rasa dan patembayatan tinggi. Soalnya, sesuatu yang tak pernah berubah di dunia ini, adalah perubahan itu sendiri. Dengan demikian, para petani pun akan menghadapi perubahan demi perubahan yang kadang terlampau cepat, kadang belum sepenuhnya dimengerti, sehingga tidak sampai diketahui dan diantisipasi sama sekali. Untuk itu, relawan media komunikasi pertanian SIDATANI benar-benar ingin membantu menemukan celah lorong untuk lolos dari berbagai permasalahan yang membelit petani selama ini. Mungkin, gerakan jumpa petani ini kesannya terlalu tinggi, terlampau berlebihan. Namun, kami para relawan SIDATANI yakin. Tidak ada jalan yang tiba-tiba mulus di masa awal. Tidak ada bukit yang tiba-tiba rata. Tidak ada sawah yang tiba-tiba berpematang. Seluruh tatanan itu harus dibuat dan membutuhkan cucuran keringat. Pendek kata, relawan SIDATANI telah bertekad  jumpa petani menjadi saudara, menjadi sahabat petani di seluruh Indonesia. Kami akan sama-sama menyangkul, merumput, membuat benih, menanam, memelihara, memberantas hama penyakit, hingga memanen, dan bergandengan tangan menangani berbagai kegiatan pasca panen yang cukup rumit di lapangan. Terakhir sekali, kami mengetuk hati para dermawan,  untuk membiayai perjalanan relawan SIDATANI jumpa petani, dalam bentuk penjualan : PAKET JUMPA PETANI, senilai Rp. 57.500,- (lima puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) berupa 1 (satu) liter pupuk bio organic HERBAFARM + 1 EKS MAJALAH SIDATANI, dari penjualan paket tersebut, Rp. 7.500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah) akan kami gunakan untuk biaya perjalanan  JUMPA PETANI ke seluruh Indonesia. Paket JUMPA PETANI akan kami kirimkan kepada para dermawan, atau bisa juga di sumbangkan kepada para petani, melalui relawan SIDATANI. Bagi dermawan yang berminat bisa transper melalui : Ardiansyah al Ertha, SE – Bank Central Asia (BCA), Cabang Katamso Yogyakarta, rekening : 4450941943 atau Bank Mandiri, Cabang Katamso Yogyakarta, rekening : 1370005425307. Bukti transper, mohon FAX : 0274 – 370324 atau Telp/SMS ke : 08172346363, 081321490378.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

