Tuesday, 22 May 2012
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian

Kembali Bertani Dasar Budi Pekerti

Sabtu, 10 Oktober 2009, 20:19

beras2Sebagai salah satu insan pecinta pertanian  organik, sejujurnya sungguh kagum dan bangga kepada para petani di Kabupaten Tasikmalaya yang pada perte­­­­­­­­­­­­­­­­n­g­a­­han Agustus 2009 telah meluncurkan ekspor perdana beras organik ke Amerika, ini prestasi yang patut kita teladani, selamat!

Kejadian tersebut mengingatkan saya pada tahun 2005, saya bekerja sama de­ngan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indo­nesia  (LIPI) melakukan penelitian tempurung  / cangkang kelapa sawit, kesimpulannya cangkang kelapa sawit dari bahan baku senilai Rp 350.000 / ton mampu memberi edit value kurang lebih Rp 8 juta karena memberikan produk turunan menjadi asap cair, karbon aktif, arang briket, bahan bakar obat nyamuk dan ener­gi potensi tinggi.

Tapi sayangnya tidak bisa diproduksi skala industri karena ditolak setelah dilakukan tes produk di pasar Eropa se­bagai pemilik pangsa pasar terbesar dan harga tertinggi. Alasannya hanya satu, yaitu produk tersebut “Tidak Ramah Lingku­ngan” atau singkat kata “Non-Organik”, sekalipun karena proyek tersebut saya pribadi habis dana Rp 46pupuk-hayati15 juta.

Dana tersebut cukup banyak untuk ukuran saya, namun positifnya telah melahirkan hikmah proses pembelajaran yang sangat berarti, telah menabur berjuta benih motivasi, cepat lambat niscaya tumbuh besar dan berbuah yang bernama penelitian-penelitian tiada henti dan intuisi-intuisi yang lebih manusiawi pada ak­hir­nya mendorong terwujudnya pertanian organik di negeri agraris ini.

Berangkat dari permasalahan tersebut, sangat penting kita sekarang juga harus berani mengevaluasi diri pola kelola pertanian kita yang sudah sangat tergantung de­ngan bahan kimia sintetis sebagai alasan jalan pintas menuju sukses. Padahal belum tentu!

Seakan kita telah terlena dan hampir lupa betapa pentingnya peranan mikroba penambat nitrogen (N), pelarut phospat kalium(P, K) dan lain-lainya, yang populasi­nya saat ini di lahan pertanian kita menurun drastis karena dampak pemakaian pupukkimia berlebih­an dan jangka panjang.

Sehingga menjadi hal yang mutlak, untuk membiakan secara besar-besaran mik­roba-mikroba yang banyak membantu para petani karena simbiosis mutualisme, agar kehidupan ini seimbang yang pada akhirnya kita menjadi insan pengelola pertanian secara hayati yang berbudi pekerti dengan memberi kesempatan lestarinya kehidupan mahluk lain seperti tertulis dalam Kitab Suci, mohon maaf sekalipun saya non-muslim:

“Irhammu man fil ardhi yarhamkum man fissama” (Kasihi yang di bumi, pasti yang di langit mengasihimu)-Nabi SAW, Wahjul Fashahah-320. (**)

Oleh :

Wayan Supadno | 0811763161

(www.wayansupadno.com)

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

Tulis Komentar Anda