Sebagai salah satu insan pecinta pertanian organik, sejujurnya sungguh kagum dan bangga kepada para petani di Kabupaten Tasikmalaya yang pada pertengahan Agustus 2009 telah meluncurkan ekspor perdana beras organik ke Amerika, ini prestasi yang patut kita teladani, selamat!
Kejadian tersebut mengingatkan saya pada tahun 2005, saya bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian tempurung / cangkang kelapa sawit, kesimpulannya cangkang kelapa sawit dari bahan baku senilai Rp 350.000 / ton mampu memberi edit value kurang lebih Rp 8 juta karena memberikan produk turunan menjadi asap cair, karbon aktif, arang briket, bahan bakar obat nyamuk dan energi potensi tinggi.
Tapi sayangnya tidak bisa diproduksi skala industri karena ditolak setelah dilakukan tes produk di pasar Eropa sebagai pemilik pangsa pasar terbesar dan harga tertinggi. Alasannya hanya satu, yaitu produk tersebut “Tidak Ramah Lingkungan” atau singkat kata “Non-Organik”, sekalipun karena proyek tersebut saya pribadi habis dana Rp 46
5 juta.
Dana tersebut cukup banyak untuk ukuran saya, namun positifnya telah melahirkan hikmah proses pembelajaran yang sangat berarti, telah menabur berjuta benih motivasi, cepat lambat niscaya tumbuh besar dan berbuah yang bernama penelitian-penelitian tiada henti dan intuisi-intuisi yang lebih manusiawi pada akhirnya mendorong terwujudnya pertanian organik di negeri agraris ini.
Berangkat dari permasalahan tersebut, sangat penting kita sekarang juga harus berani mengevaluasi diri pola kelola pertanian kita yang sudah sangat tergantung dengan bahan kimia sintetis sebagai alasan jalan pintas menuju sukses. Padahal belum tentu!
Seakan kita telah terlena dan hampir lupa betapa pentingnya peranan mikroba penambat nitrogen (N), pelarut phospat kalium(P, K) dan lain-lainya, yang populasinya saat ini di lahan pertanian kita menurun drastis karena dampak pemakaian pupukkimia berlebihan dan jangka panjang.
Sehingga menjadi hal yang mutlak, untuk membiakan secara besar-besaran mikroba-mikroba yang banyak membantu para petani karena simbiosis mutualisme, agar kehidupan ini seimbang yang pada akhirnya kita menjadi insan pengelola pertanian secara hayati yang berbudi pekerti dengan memberi kesempatan lestarinya kehidupan mahluk lain seperti tertulis dalam Kitab Suci, mohon maaf sekalipun saya non-muslim:
“Irhammu man fil ardhi yarhamkum man fissama” (Kasihi yang di bumi, pasti yang di langit mengasihimu)-Nabi SAW, Wahjul Fashahah-320. (**)
Oleh :
Wayan Supadno | 0811763161
(www.wayansupadno.com)