Kita pasti masih ingat di awal tahun 2008, di negeri yang kita cintai ini yang katanya negeri agraris negeri yang berbasis pertanian terjadi gonjang ganjing yaitu puluhan ribu karyawan dirumahkan oleh industri tahu tempe yang merupakan makanan idola masyarakat kita, tersungkur gulung tikar akibat pukulan telak melambungnya harga kedelai dunia. Kenapa ini semua bisa terjadi kalau bukan karena kita sudah terlanjur bergantung terhadap kedelai impor bahkan hampir senilai Rp 6 triliun/ tahun (70% dari total kebutuhan nasional). Karena kita tidak mampu memproduksi sesuai jumlah kebutuhan kita sendiri. Tidak swasembada kedelai!
Sungguh data yang sangat mempermalukan kita padahal data ini kita juga yang menyusunnya dan sebenarnya ini semua bisa dicegah dengan mengantisipasi melalui perencanaan yang matang. “Sukses membuat rencana berarti mengantongi 50% dari kesuksesan yang sebenarnya, gagal membuat rencana berarti merencanakan membuat kegagalan dan berarti pula menempatkan diri jadi tercecer”. Akankah kejadian tersebut tidak menjadi pelajaran yang sangat barharga? Akankah kita sebagai insan berbekal akal mau jatuh pada lubang yang sama? Akankah kejadian tersebut tidak kita jadikan sumber motivasi untuk bangkit?
Jika tahun 2009 kebutuhan riil terhadap kedelai 1,8 juta ton. Tentu tahun 2010 kebutuhan riil terhadap kedelai minimal 10 kg per kapita x 230 juta jiwa = 2,3 juta ton / tahun. Padahal indeks produktivitas kedelai kita baru 1,3 ton / ha. Berarti jika benar kita mau swasembada kedelai kita harus menanam seluas 2,3 juta ton : 1,3 ton / ha = 1,8 juta ha atau kita harus menanam cukup 1 juta ha dengan syarat produktivitas 2,3 ton / ha. Atau yang paling aman adalah menanam seluas 1,8 juta ha dengan produktivitas 2,3 ton / ha. Berarti total produksi 1,8 juta ha x 2,3 ton / ha = 4,14 juta ton / tahun, berarti kita jadi eksportir kedelai dan semestinya predikat inilah yang paling ideal untuk negeri agaris ini. Sudahkah kita merencanakan hal tersebut? Jika tidak, jangan pernah kita bermimpi di siang bolong untuk berswasembada kedelai.
Saya tidak akan jemu-jemu untuk mengingatkan dengan cara selalu menghidangkan permasalahan menonjol untuk kita bahas bersama. Hal ini sebagai wujud implementasi cara mencintai negeri ini. Masalah kedelai bukan sebuah masalah milik pemerintah saja, tapi milik kita karena negeri ini milik kita bersama. Merangkum dari hasil analisa, menyarankan pertimbangan-pertimbangan sebagai salah satu alternatif solusi dengan langkah-langkah sbb;
1. Promosi edukasi tiada henti, agar terbangun kembali kepercayaan para petani mau menanam kedelai secara intensif. Para pelaku industri agro berbasis kedelai mau menjadikan kedelai non-impor pilihan utama pertama dan para peneliti terpacu bangkit terus meneliti guna menemukan varietas serta sarana pendukung paling produktif.
2. Melakukan stabilitas harga kedelai dengan cara memberikan kepastian pasar dan kepastian harga jual yang dikelola oleh BUMN daripada harus memberi subsidi, agar petani merasa dilindungi dan hasil produksinya dijamin oleh negara.
3. Rekapitulasi dan revitalisasi infrastruktur pertanian, agar tercipta iklim investasi yang menyejukkan para investor mulai dari petani melarat hingga petani konglomerat sekalipun, sehingga peluang investasi di sektor pertanian kedelai laku.
4. Ekstensifikasi luasan lahan, agar lahan-lahan milik PTP Nusantara dan Perhutani yang belum tergarap tapi layak yang jumlahnya lebih dari 1 juta ha lekas tergarap dan lahan di luar pulau Jawa masih menanti mengalirnya arus investasi.
5. Stimulus membumi yang proaktif jemput bola, agar para petani dan pelaku industri agro lebih bersemangat terlebih kaum litbang, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas secara makro.
6. Hadirkan para pempimpin ke lapangan di tengah-tengah kesulitan para petani bukan sekedar saat panen raya saja tapi justru di tengah kesulitan para petaninya. Agar para pemimpin tahu persis yang terjadi di lapangan guna memberi solusi dan menjadi sumber kekuatan tersendiri bagi para petani. “Kebanggaan hakiki seorang Komandan saat hadir di tengah pasukannya dan mampu menjadi obor saat kegelapan menimpa pasukannya”.(**)
Wayan Supadno | 0811763161
(wayansupadno@yahoo.com)