Tuesday, 21 October 2014
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian

Menyiasati Karakter Jagung Sebagai Indikator Nitrogen

Jumat, 23 Juli 2010, 16:47

siasatTanaman jagung merupakan komoditas strategis untuk pertanian lahan kering. Permasalahan umum yang dihadapi petani jagung antara lain: penggunaan benih bukan varietas unggul, jarak tanam tidak teratur, serta pemupukan yang tidak sesuai anjuran. Seringkali petani memberikan pupuk NPK sintetis secara berlebihan atau bahkan kurang karena tidak mampu membeli pupuk. Padahal tanaman jagung merupakan tanaman yang responsif terhadap pemupukan, yang terlihat nyata pada warna daunnya. Ketika warna daunnya agak kekuningan, berarti tanaman tersebut kekurangan Nitrogen. Oleh karena itu, jagung sering disebut sebagai indikator Nitrogen. Gagal atau suksesnya petani jagung dari aspek pemupukannya sangat didominasi oleh seberapa banyak Nitrogen yang diberikan, dan kecukupan unsur hara yang lain.

Nitrogen bersumber dari udara, ketersediaan tanah kaya organik, urea, dan yang terpenting dari hasil kinerja mikroba dalam pupuk hayati yang menambat N yaitu Azospirillum, Azotobacter, dan Rhizobium. Selama ini petani hanya mengandalkan Nitrogen dari Urea, padahal ini sangat berat dari sudut makro serta tidak efektif, dapat memacu percepatan terkurasnya deposit gas negara sebagai bahan baku Urea dan kerusakan lingkungan di lahan pertanian. Dari sudut mikro biaya produksi petani sangat tinggi dan kurang sehat hasilnya. Hal penting yang sering terlupakan yaitu menyuplai bahan organik di lahan pertanian secara rutin dalam jumlah seimbang untuk mencukupi kebutuhan neraca hara dalam tanah.

Pemberian pupuk hayati majemuk dapat menjadi solusi murah bagi pemenuhan hara Nitrogen bagi tanah dan tanaman serta dapat mengurangi penggunaan Nitrogen dari pupuk kimia sintetis. Pupuk hayati dengan kandungan populasi mikroba penambat N yang tinggi dapat menjadi kontributor nitrogen tinggi. Azospirillum sp. Dapat menghemat penggunaan pupuk nitrogen sintetis (buatan) sebanyak 15-60% (Okon dan Labandera-Gonzales, 1994). Selain itu, Azospirillum sp. juga mampu memperbaiki pertumbuhan akar tanaman jagung pada stadia awal pertumbuhan (Hastuti dan Gunarto, 1992).

Selain memiliki kemampuan menambat Nitrogen, Azospirillum sp. Mampu menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti auksin, IAA, giberelin, serta senyawa yang menyerupai sitokinin (Venkateswarlu dan Rao, 1983). Azospirillum yang menghasilkan IAA mampu mempercepat pertumbuhan tanaman, perkembangan akar lateral, merangsang kerapatan dan panjang rambut akar, yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan serapan hara pada tanaman padi sehingga meningkatkan tinggi tanaman padi dan menjadikan bakteri ini berfungsi sebagai pupuk hayati. (Lestari et al, 2007). Selain Azospirillum sp., Azotobacter chroococcum, A. vinelandii dan A. paspali juga mampu menghasilkan auksin (Azcon & Barea, 1975).

Adapun cara menyiasati bertanam jagung dengan pupuk hayati yaitu:

1. Berikan pupuk kandang minimal 3 ton/tahun.

2. Berikan pupuk hayati yang mengandung Azospirillum sp., Azotobacter sp., minimal sepuluh pangkat enam, dengan jumlah yang memadai.

3. Berikan pupuk urea 25% dari kebutuhan biasa (75 kg).

4. Berikan Zat Perangsang Tumbuh Organik (fitohormon) yang memiliki fungsi dalam pembelahan sel (sitokinesis), memanjangkan ukuran sel dan penjarangan antar jaringan tiap 2 minggu sekali ketika stoma/mulut daun membuka, pagi/ sore hari.

Dalam teori Jendral Sun Tzu “Siasat yang meliputi strategis, taktis, dan teknis mendominasi proses pemenangan dalam pertempuran. Begitu juga gagal membuat rencana berarti membuat rencana kegagalan.” Tentu cara bertani yang rasional, hendaknya memakai siasat untuk memaksimalkan laba dengan efektif dan efisien.

Penulis: Wayan Supadno (0811763161)

Formulator Pupuk Hayati Majemuk Cair & Granul Merk Bio-EXTRIM dan ZPT Organik Merk HORMAX

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

Tulis Komentar Anda