Kalau kita mau jujur memperhatikan nasi yang kita konsumsi pasti ada perbedaan antara hasil padi organik dan padi non organik. Nasi organik lebih tahan lama untuk tidak basi, pertanda lebih sehat. Itulah salah satu wujudnya dan tentu masih banyak lagi manifestasi lainnya.
Pupuk hayati memiliki 8 fungsi (1.Penambat Nitrogen 2.Pelarut Phosfat 3.Pelarut Kalium 4.Perombak Bahan Organik 5.Penghasil Fitohormon 6.Biokontrol Tanaman 7.Penghasil Antibodi 8.Mengakumulasi Logam Berat) yang salah satunya adalah mengakumulasi logam berat agar kadar logam berat tersebut tereduksi. Menurut Sutono (2002), logam berat dapat terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar pada tanaman seperti padi, rumput, beberapa jenis leguminosa untuk pakan ternak, dan sayuran. Logam berat seperti Pb, Cd, Cu, dan Zn sering terakumulasi pada komoditi tanaman. Sebagai contoh, berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa pupuk fosfat mengandung logam berat Pb antara 5 – 156 ppm (Setyorini et al dalam Charlena, 2004) dan 7 ppm Cd untuk tanah netral. Apabila pupuk tersebut digunakan secara terus menerus dengan dosis dan intensitas yang tinggi dapat meningkatkan Pb dan Cd yang tersedia dalam tanah sehingga meningkatkan serapan Pb dan Cd oleh tanaman.
Logam berat dalam jumlah besar akan meracuni tanaman dan tentu akan membentuk residu mengalir sampai kepada yang mengkonsumsi yaitu kita. Logam berat tersebut akan terserap kedalam jaringan tanaman melalui akar, yang selanjutnya akan masuk kedalam siklus rantai makanan (Alloway, 1990). Logam berat akan terakumulasi pada jaringan tubuh dan dapat menimbulkan keracunan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan apabila melebihi batas toleransi. Di Indonesia, kadar residu pestisida yang terkandung dalam bahan pangan dan sayuran cukup memprihatinkan. Sayuran seperti wortel, kentang, sawi, bawang merah, cabe merah dan kubis dari berbagai tempat budidaya sayuran di Jawa Barat dan Jawa Tengah pada tahun 1987 diketahui mengandung residu yang melampaui batas maksimum (Gayatri, 1994). Sehingga sungguh wajar sekali jika gerakan memakai pupuk hayati untuk memberi peran yang lebih berarti oleh petani kepada sesamanya, perlu dimassalkan di negeri ini.
Dampak imbas logam berat yang merupakan residu pertanian bagi manusia sangat banyak dan beragam, diantaranya retardasi mental (idiot), gangguan organ vital, dan gangguan panca indra salah satu yang paling sering muncul adalah autis (ketulian) itulah sebabnya begitu ketatnya di negara maju proteksi terhadap kadar logam berat, begitu juga mengapa untuk air minum sehat sebanyak triliyunan rupiah per tahun untuk anggaran belanja karbon aktif sebagai absorber logam berat. Menurut Maryse F.Bouchard peneliti dari Universitas Monteral dan Harvard School of Public Health (2009), pencemaran logam berat mungkin berkontribusi pada terjadinya gangguan mental, bahkan meski kadar pencemarannya masih tergolong rendah atau tidak berisiko. Sebelumnya berbagai penelitian telah mengingatkan bahaya logam berat bagi kesehatan, di antaranya adalah kerapuhan tulang, rusaknya kelenjar reproduksi, kanker, kerusakan otak, serta keracunan akut pada sistem saraf pusat. Moshman (1997) mengungkapkan bahwa akumulasi logam berat Pb pada tubuh manusia yang terus menerus dapat mengakibatkan anemia, kemandulan, penyakit ginjal, kerusakan syaraf dan kematian. Sedangkan keracunan Cd dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, kerusakan jaringan jaringan testicular, kerusakan ginjal dan kerusakan selsel butir-butir darah merah. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa penggunaan pupuk hayati saat ini sangat penting untuk mereduksi berbagai kemungkinan penyakit yang timbul akibat pengaruh residu logam berat pada produk pertanian. 
Berangkat dari fungsi pupuk hayati yang baik hati, sungguh sangat bijak jika di tengah-tengah kesulitan perluasan lahan pertanian tapi di sisi lain banyak lahan pasca eksplorasi tambang patut direklamasi lalu diberdayakan oleh pemangku profesi pertanian, tentu dengan pupuk hayati agar multifungsinya bisa maksimal, terlebih jika dilihat lebih makro lagi yaitu pentingnya memperhatikan kesehatan yang mengkonsumsi hasil panennya.
Ribuan tahun sebelum kita lahir, ribuan tahun pula setelah kita mati, sementara hidup kita hanya beberapa tahun saja. Ibarat mampir minum di tengah perjalanan nan panjang.
Untuk bekal perjalanan kelak, bukankah sudah saatnya kita menjadi petani yang mengedepankan hati agar diperhatikan Yang Maha Baik Hati, Tuhan…
Penulis : Wayan Supadno (Hp. 0811 76 3161)
Formulator Bio-EXTRIM (Pupuk Hayati Majemuk Cair dan Granul)