Wednesday, 27 August 2014
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian

Kiat Dongkrak Hasil Padi di Lahan Tandus Dari 3,5 ton/ha ke 7,5 ton/ha

Sabtu, 18 Juni 2011, 6:49

Ada lebih dari 1 juta hektarlahan tidur potensial di Indonesia yang belum termanfaatkan. Rata-rata petani enggan mengolahnya karena hasilnya yangrendah sedangkan biaya produksinya tinggi. Namun, ini merupakan tantangan dan peluang bagi Wayan Supadno (Hp. 0811763161) untuk merubah paradigma tersebut.“Saya akan mencoba dan membuktikan!” katanya.

hormon

Sebelumnya, banyak yang menyangsikan bahwa lahan tandus cadangan perumahan di Desa Singosari, Kec. Jonggol, Kab. Bogor dengan kandungan C-organik < 1% dan pH 4% seluas 21 hektar selama ini rata-rata hasil yang didapatkan petani dengan menanam padi Varietas Ciherang paling tinggi hanya3,5 ton/ha GKP.

Namun, setelah dikelola secara intensif hasilnya mampu mencapai 7,5 ton/ha GKP pada panen raya perdana padi seluas 8.5 hektar pada tanggal 11 Juni 2011 lalu. Acara ini turut dihadiri oleh Camat Jonggol, Asep Aer Sukmaji, beberapa Petugas Penyuluh Lapangan dari Dinas Pertanian setempat, serta puluhan kelompok tani setempat.

PPL Dinas Pertanian setempat bahkan hampir setiap hari datang ke sawah untuk memantau perkembangan tanaman. “Dari pertumbuhan vegetatif saja sudah jauh berbeda daripada tanaman milik petani-petani di sekitarnya. Anakannya lebih banyak empat kali lipat, batangnya jauh lebih tinggi, tegak dan kokoh, daunnya lebih lebar, tentu hasilnya juga akan lebih banyak daripada yang lain,”. Pendapat itu dibuktikan dengan melakukan panen ubinan (tiga lokasi secara acak), rata-rata hasilnya 7,5 ton bruto GKP (gabah kering panen) atau kalau dihitung secara bersih sekitar 6,7 ton GKP. Hasil ini masih lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas sawah intensif di Kabupaten Bogor, yang sekitar 6,2 ton GKP per hektar.

“Selama ini, hasilnya paling tinggi 4 ton per hektar, sudah menggunakan pupuk kandang, tapi hasilnya tidak sebagus ini,” kata H. Muhammad Suhendar, Ketua Kelompok Tani Tunas Mekar.

“Kuncinya ada tiga aspek, yaitu persiapan lahan, penanaman, dan pemeliharaan, ” jawab Wayan Supadno yang juga seorang formulator organik dan praktisi pertanian. Saat persiapan lahan, perkaya dengan bahan organic dan hayati, serta kombinasikan dengan NPK kimia 200 kg/ha. “Bagaimanapun juga, untuk mengejar produksi, kombinasi antara pupuk organik & anorganik secara berimbang adalah yang terbaik,” tambah Wayan. Kandungan C-organik tinggi dalam pupuk organik cair, berfungsi sebagai makanan/ energi mikroba yang terkandung dalam pupuk hayati majemuk untuk berbiak. Mikroba-mikroba itulah yang bekerja melarutkan unsur hara dalam tanah, termasuk NPK kimia, meningkatkan antibodi tanaman agar mampu bertahan dari penyakit, bahkan sekresinya menghasilkan hormon yang berfungsi merangsang pertumbuhan tanaman, sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak.

Dalam hal ini, Wayan diberikan pupuk kandang dua ton per hektar, dolomit 150 kg per hektar, dan pupuk NPK 200 kg per hektar. Lalu disemprot dengan gabungan Bio-EXTRIM dan ORGANOX sebagai biangnya berbagai mikroba multifungsi yang sangat dibutuhkan, masing-masing 10 liter ke dalam tanah pada pra tanam. pH tanah sawah Wayan sangat asam, oleh karena itu diperlukan dolomite untuk meningkatkan pHnya, pada kondisi tanah asam, penyerapan unsur hara kurang maksimal sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Bacillus sp.  berfungsi untuk meningkatkan imunitas tanaman agar tahan penyakit maupun yang dibawa vektor seperti wereng. Terlihat bahwa tanaman padi milik Wayan tumbuh sehat,bulirnya menguning, malainya merunduk, padat berisi serta bebas penyakit.

Pada proses penanaman, menggunakan sistem jajar legowo 5:1 atau 4:1 dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm atau 25 cm x 25 cm. Jajar legowo berguna untuk menjaga sirkulasi udara dan cahaya matahari agar tanaman dapat berfotosintesis lebih optimal, sirkulasi udara leluasa agar tidak menjadi sarang hama penyakit, sehingga dapat menghasilkan lebih maksimal. Bibit tanaman yang digunakan pun usia muda, yaitu 12 hari. “Rata-rata petani menanam bibit umur 21 hari, kemudian daunnya dipotong dan dibanting-banting, itu salah! Karena padi akan mengalami stress dan stagnasi, pertumbuhannya akan lambat, tidak cepat menganak, akhirnya hasilnya sedikit,” seru Wayan di depan para petani dan petugas lapangan.

Untuk pemeliharaan, juga menambahkan ZPT organik merek HORMAX yang disemprotkan secara kabut, dengan dosis 4 tutup botol per tangki 14 liter pada saat padi masak susu untuk memaksimalkan pengisian bulirnya. ZPT organik juga dapat digunakan untuk merendam benih dan akar saat pemindahan dari pembibitan dengan waktu secepat mungkin. Bagi Wayan, biaya total pengerjaan sawah Rp 8 juta per hektar merupakan bagian dari investasi, “karena memang upaya yang dilakukan adalah perbaikan tanah, saya akan menikmatinya di musim-musim berikutnya, toh ini juga sudah untung banyak,” katanya sambil tertawa. Biaya tersebut sudah termasuk sewa lahan, biaya tenaga kerja, biaya sarana produksi, dan sebagainya. Dengan hasil 6,7 ton GKP per hektar setara Rp 20,1 juta (jika harga padi Rp 3.000 per kg GKP), maka keuntungan yang bisa diraih mencapai Rp 12,1 juta per hektar. Dengan upaya perbaikan tanah pada lahan-lahan tandus potensial, berarti kita telah mengubah tantangan menjadi peluang, tentu akan lebih banyak yang bisa kita hasilkan dari pertanian. Ketahanan pangan nasional bukan lagi hanya sekedar cita-cita, tapi upaya nyata untuk Indonesia lebih sejahtera. Salah satu kunci kesuksesan ketahanan pangan nasional berawal dari kesadaran dan motivasi dari para petani bahwa tanah kita sedang sakit harus diobati, bahwa profesi petani merupakan profesi yang mulia dan patut disyukuri, bahwa rasionalisasi cara budidaya harus dijabarkan,” ujar Wayan saat memberi sambutan di hadapan Camat Jonggol beserta rombongannya.

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

Tulis Komentar Anda