<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Kenapa Kita Harus  Sadar dan Cinta Pertanian?</title>
	<atom:link href="http://bangkittani.com/topik-utama/kenapa-kita-harus-sadar-dan-cinta-pertanian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bangkittani.com/topik-utama/kenapa-kita-harus-sadar-dan-cinta-pertanian/</link>
	<description>Majalah Edukasi</description>
	<pubDate>Sun, 20 May 2012 11:16:58 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: indradhi</title>
		<link>http://bangkittani.com/topik-utama/kenapa-kita-harus-sadar-dan-cinta-pertanian/comment-page-1/#comment-1214</link>
		<dc:creator>indradhi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 07:49:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bangkittani.com/?p=1207#comment-1214</guid>
		<description>Sekedar menanggapi tulisan ini maupun tanggapan Pak Agus.
Problematika dunia pertanian sangat kompleks. Saya hanya bisa berharap : 1. Pemerintah serius mengurus dunia pertanian dan memberikan support sepenuhnya. 2. Masalah pertanahan diperketat.  Sebagai contoh kasus kami sendiri. Saat Orangtua meninggal kami menjual 4 hektar tanah untuk support pendidikan kami. Saat sudah bisa berdiri sendiri, mencoba untuk mengembalikan tanah pertanian 4 hektar warisan orang tua. Dana ada, niat ada, namun tampaknya kondisi dan lingkungan tidak memberikan support. Dari status tanah yang beraneka ragam, (Dari girik sampai sertifikat), kondisi tanah yang terlantar namun saat akan diusahakan, berdatangan sekian banyak orang mengaku sebagai pemilik, jalan masuk hancur, Listrik harus bayar sekian karena posisi yang cukup jauh dari "Trafo" (Walaupun tiang listrik ada di tanah saya tersebut). Urusan dengan BPN yang cukup melelahkan dan membutuhkan dana yang cukup lumayan. Yang lebih mengherankan saya, Tidak ada "petani" didaerah saya tersebut. Saya sangat kesulitan untuk bertani sendiri disela waktu saya bekerja di Jakarta. Tampaknya dengan TV masuk desa, masyrakat desa ikut menjadi "metropolis" sehingga anak muda mereka tidak ada yang berniat untuk menjadi petani. Maunya kerja di Jakarta sebagai buruh? Terbalik dengan saya.  Saya yang sudah terlalu lelah di Jakarta, ingin balik ke desa meneruskan pekerjaan orang tua. Tapi tentu saja dengan teknik dan teknologi yang lebih maju. (Kan sudah sekolah tinggi dengan biaya tanah 4 hektar) :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sekedar menanggapi tulisan ini maupun tanggapan Pak Agus.<br />
Problematika dunia pertanian sangat kompleks. Saya hanya bisa berharap : 1. Pemerintah serius mengurus dunia pertanian dan memberikan support sepenuhnya. 2. Masalah pertanahan diperketat.  Sebagai contoh kasus kami sendiri. Saat Orangtua meninggal kami menjual 4 hektar tanah untuk support pendidikan kami. Saat sudah bisa berdiri sendiri, mencoba untuk mengembalikan tanah pertanian 4 hektar warisan orang tua. Dana ada, niat ada, namun tampaknya kondisi dan lingkungan tidak memberikan support. Dari status tanah yang beraneka ragam, (Dari girik sampai sertifikat), kondisi tanah yang terlantar namun saat akan diusahakan, berdatangan sekian banyak orang mengaku sebagai pemilik, jalan masuk hancur, Listrik harus bayar sekian karena posisi yang cukup jauh dari &#8220;Trafo&#8221; (Walaupun tiang listrik ada di tanah saya tersebut). Urusan dengan BPN yang cukup melelahkan dan membutuhkan dana yang cukup lumayan. Yang lebih mengherankan saya, Tidak ada &#8220;petani&#8221; didaerah saya tersebut. Saya sangat kesulitan untuk bertani sendiri disela waktu saya bekerja di Jakarta. Tampaknya dengan TV masuk desa, masyrakat desa ikut menjadi &#8220;metropolis&#8221; sehingga anak muda mereka tidak ada yang berniat untuk menjadi petani. Maunya kerja di Jakarta sebagai buruh? Terbalik dengan saya.  Saya yang sudah terlalu lelah di Jakarta, ingin balik ke desa meneruskan pekerjaan orang tua. Tapi tentu saja dengan teknik dan teknologi yang lebih maju. (Kan sudah sekolah tinggi dengan biaya tanah 4 hektar) <img src='http://bangkittani.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Agus M Ramdan</title>
		<link>http://bangkittani.com/topik-utama/kenapa-kita-harus-sadar-dan-cinta-pertanian/comment-page-1/#comment-237</link>
		<dc:creator>Agus M Ramdan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 03:39:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bangkittani.com/?p=1207#comment-237</guid>
		<description>Warisah profesi

Profesi pertanian adalah profesi yang unik berbeda dengan profesi yang lain. 
Salah satu modal penting dalam profesi ini adalah.
1. Luas tanah garapan 
2. Keterampilan petani dalam menggunakan teknologi pertanian

Bila kita melihat sistim waris khusunya tanah maka kita bisa mengabil kesimpulan bahwa inilah biang keladi faragmentasi tanah pertanian.

Bayangkan bila seorang petani mempunya anak 8 orang dan mempunyai tanah 8 ha. Kalo di bagi rata kepada anak-anaknya maka tiap anak mendaptakan 1 hektar.
Sehingga produksi petani 1/8 dari orang tuanya dan pendapatanyapun akan kurang dari 1/8 dari pendapatan orangtuanya.  Bisa di bayangkan bagaimana susahnya seorang anak untuk mempunyai tanah yang setara dengan orang tuanya.

Mungkin kasusnya akan berbeda bila petani tersebut adalah petani sumber bahan industri misalkan.

1. Petani kapas
2. Pedagang kapas
3. Pembuat benang
4. Pedagang benang
5. Pembuat kain
6. Pedagang kain
7. Pembaut pakaian jadi
8. Pedagang pakaian jadi

Tapi kita tidak boleh memandang sebelah mata untuk pertanian pangan (beras) bisa juga profesi dari anak petani padi juga berbeda.

1. Petani padi
2. Pedagang gabah (Gudang Gabah)
3. Pengolah gambah menjadi beras.
4. Pedagang beras.
5. Pemilik restoran.

Dengan katalain 1 orang petani hanya bisa mewariskan kepada 1 orang anak saja. Sedangkan anak yang lain harus di arahkan menjadi pedagang atau pengusaha.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Warisah profesi</p>
<p>Profesi pertanian adalah profesi yang unik berbeda dengan profesi yang lain.<br />
Salah satu modal penting dalam profesi ini adalah.<br />
1. Luas tanah garapan<br />
2. Keterampilan petani dalam menggunakan teknologi pertanian</p>
<p>Bila kita melihat sistim waris khusunya tanah maka kita bisa mengabil kesimpulan bahwa inilah biang keladi faragmentasi tanah pertanian.</p>
<p>Bayangkan bila seorang petani mempunya anak 8 orang dan mempunyai tanah 8 ha. Kalo di bagi rata kepada anak-anaknya maka tiap anak mendaptakan 1 hektar.<br />
Sehingga produksi petani 1/8 dari orang tuanya dan pendapatanyapun akan kurang dari 1/8 dari pendapatan orangtuanya.  Bisa di bayangkan bagaimana susahnya seorang anak untuk mempunyai tanah yang setara dengan orang tuanya.</p>
<p>Mungkin kasusnya akan berbeda bila petani tersebut adalah petani sumber bahan industri misalkan.</p>
<p>1. Petani kapas<br />
2. Pedagang kapas<br />
3. Pembuat benang<br />
4. Pedagang benang<br />
5. Pembuat kain<br />
6. Pedagang kain<br />
7. Pembaut pakaian jadi<br />
8. Pedagang pakaian jadi</p>
<p>Tapi kita tidak boleh memandang sebelah mata untuk pertanian pangan (beras) bisa juga profesi dari anak petani padi juga berbeda.</p>
<p>1. Petani padi<br />
2. Pedagang gabah (Gudang Gabah)<br />
3. Pengolah gambah menjadi beras.<br />
4. Pedagang beras.<br />
5. Pemilik restoran.</p>
<p>Dengan katalain 1 orang petani hanya bisa mewariskan kepada 1 orang anak saja. Sedangkan anak yang lain harus di arahkan menjadi pedagang atau pengusaha.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

