“Rohnya negeri agraris ada pada para petaninya dan rohnya para petani ada pada rasa cintanya kepada profesi petani”.
Luar biasa! Meriah!, Rp 50 triliun / tahun hanya untuk impor hasil pertanian oleh negeri agraris ini untuk dikonsumsi oleh rakyatnya yang notabene juga para petani yang semestinya bisa memproduksi barang-barang yang diimpor tersebut. Jika Rp 50 triliun tersebut untuk membeli hasil produksi petani kita dan jika indeks pendapatan petani kita Rp 15 juta / tahun / keluarga maka akan bisa memberi lapangan pekerjaan sebanyak Rp 50 triliun : Rp 15 juta = 3,3 juta keluarga, jika 1 keluarga ada 4 jiwa maka bisa menghidupi 3,3 juta keluarga x 4 jiwa = 13,2 juta jiwa kaum petani. Belum lagi karyawan pabrik pupuk, sarana pertanian, toko pertanian dan lain-lain. Tentu angka ini sangat berarti bagi negeri ini terlebih di saat situasi seperti sekarang ini.
Karena saya membaca dan menganalisa data tersebut, spontan badan saya terasa bagai disambar petir. Darah saya bagai mendidih. Detak jantung sayapun bagai tak normal lagi. Terlebih perasaan saya seakan lepas kendali emosi karena merasa tidak terima dan tidak percaya setelah mengetahui data tersebut di atas. Semoga saja kondisi psiko-anatomi-fisiologis apa yang saya alami ini juga dialami oleh segenap insan pemulia dunia pertanian, sebagai manifestasi rasa cinta pekatnya kepada bangsanya melalui jalan nan indah yang bernama pertanian.
Ini semua terjadi mungkin karena saya menyadari sepenuhnya bahwa saya terlahir sekalipun dari keluarga petani pas-pasan. Dibesarkan hingga mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri juga karena hasil pertanian. Saya sangat adaptif dengan kultur pertanian karena masyarakat sekitar juga pertanian. Sekarang bisa hidup berkecukupan patut saya syukuri juga karena hasil dari pertanian, memiliki negara besar yang tercinta juga nyata-nyata berbasis pertanian dan tentu negara yang besar ini kelak diteruskan oleh generasi yang seharusnya mutlak sadar dan cinta pertanian juga. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi di negeri agraris ini nanti.
Sejarah telah memberikan pelajaran kepada kita, banyaknya situs-situs kejayaan masa raja-raja jaman dulu jaya karena cinta dan setia kepada bakat dari masyarakatnya tidak lain tidak bukan adalah bakat bertani. Bung Karno sebagai Bapak Proklamator ketika peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor yang menjadi cikal bakal Institut Pertanian Bogor berpesan “Hidup matinya suatu bangsa terletak pada ketersedian pangannya”. Pak Harto sebagai Presiden waktu itu karena cintanya kepada pertanian membuka lahan pertanian 1 juta hektar untuk menunjukkan kepada dunia luar terhadap jiwa besar yang konsisten sebagai bangsa agraris. Bahkan dalam ajaran Hindu di Jawa mempertegas “Jangan pernah sekalipun mengingkari Sang Hyang Dewi Sri, yang berarti padi atau arti lebih luas lagi pertanian, jika mengingkari maka dijauhi rejeki, sesakit-sakitnya mengais rejeki ketika dijauhi oleh rejeki”.
Seakan kita membiarkan dan tidak lekas mengantisipasi dengan gejala situasi sosial masyarakat pertanian yang berkembang saat ini, betapa dahsyatnya dampak imbas di era mendatang. Akibat dari gejala menurun drastis para petani yang ingin mewariskan profesinya kepada para ahli warisnya. Menurun drastis peminat untuk belajar di Program Studi Pertanian. Banyaknya para petani bertani di luar negeri dan hasilnya katanya diekspor tapi justru ke negeri sendiri. Banyaknya para petani-peternak meninggalkan sawah-kandang ternaknya pergi ke kota alih profesi karena di kota banyak investasi tapi di desa nyaris tidak ada tetapi daging, mie, tahu tempe, susu gula yang dikonsumsi justru dari impor. Tapi sisi lain kadang para pejabat habis waktu untuk berdebat mengadu argumentasi bukan berebut untuk berbuat.
Masalah sumber daya manusia pertanian adalah masalah fundamental karena aset termahal dari bangsa pertanian ini. Untuk mengembalikan lagi rasa cinta pertaniannya butuh energi sangat melelahkan. Investasi sangat mahal, waktu yang sangat panjang, butuh solusi yang sangat-sangat mendesak.
Karena masalah kecintaan masyarakat terhadap profesi petani adalah masalah budi pekerti, masalah emosional dan masalah rasional. “Rohnya negeri agraris ada pada para petaninya dan rohnya para petani ada pada rasa cintanya kepada profesi petani”.
Sudah banyak kita dapat pelajaran dari contoh-contoh produk konsumsi harian karena menurunnya pencitraan berdampak omsetnya menurun drastis akibat rendahnya kepercayaan konsumen, begitu juga produk yang tidak dipelihara promosinya loyalitas pelanggan akan banyak terputus sekalipun produk tersebut mutunya sangat bagus apalagi jika produknya tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan keinginan selera pasar tentunya pelanggannya akan bubar jalan grak…!!
Sangat mendesak untuk melakukan promosi edukasi logis melalui gerakan penyadaran dan bangkit membangun rasa cinta serta memuliakan dunia pertanian di negara besar berbasis pertanian ini. Tanpa didasari rasa cinta pertanian rasanya akan menjadi pekerjaan rumah yang sulit. Sebaliknya jika sudah didasari oleh rasa cinta yang pekat kepada dunia pertanian semua pekerjaan jadi mudah yang menyenangkan. Kondisi itu akan terwujud jika sudah tercipta kondisi semua pihak sadar wajib ikut membangun citra kepercayaan kepada pertanian. Salah satu cara yaitu promosi edukasi logis tiada henti. Jika tidak? Akankah kita menunggu hingga kehabisan insan-insan pemulia dunia pertanian? Akankah kita mewariskan masalah yang rumit melilit tersebut kepada para si Buah Hati sebagai penerus bangsa agraris ini? Kegiatan ini terasa belum mendapat perhatian serius, khususnya oleh para pemimpin penanggung jawab teknis.
Membangun negara pertanian besar butuh dukungan banyak pihak terlebih sektor permodalan. Mustahil terwujud kemakmuran masyarakat pertanian hulu-hilir jika hanya mengandalkan sumber dari APBN atau APBD saja. Hal mutlak membutuhkan partisipasi dari pihak swasta dan segenap para petani secara kolektif.
Juga sangat mendesak untuk melakukan sosialisasi edukasi logis kepada para petani karena banyak para ahli pertanian yang sangat rindu ingin membagikan ilmunya kepada para petani. Banyak para peneliti ingin mengeluarkan hasil temuannya yang selama ini masih banyak tersimpan rapi di lemari dan menyebar luaskan langsung kepada para petani sehingga semuanya bermanfaat sepanjang masa lebih abadi dari sekedar usianya. Banyak kebijakan pemerintah yang sangat bagus yang ingin terjabarkan langsung kepada para petani yang selama ini belum terkelola secara maksimal dan sesungguhnya betapa banyaknya para petani-peternak-nelayan sukses ingin menularkan kiat suksesnya kepada teman sejawatnya.
Mau tidak mau, suka tidak suka membahas negeri ini sama dengan membahas pertanian dan begitu juga sebaliknya, karena negeri ini negeri agraris. Begitu juga jika bercita-cita mewujudkan negeri ini menjadi negeri yang besar yang disegani maka tidak bisa ditawar-tawar lagi harus membesarkan pertanian dan membuatnya untuk patut disegani. Ibarat lahir dikodratkan menjadi lelaki sudah barang tentu wajib disyukuri, wajib bangga dan wajib mengembangkan karakter kelelakiannya. Jika ingin normatif, menyadari dan improvisasi jati dirinya sendiri. Agar tiada lagi impor hasil pertanian khususnya pangan oleh negeri agraris ini. (**)
Oleh :
Wayan Supadno | 0811763161
(wayansupadno@yahoo.com)
Agus M Ramdan menulis pada Senin, 28 Desember 2009, 10:39
Warisah profesi
Profesi pertanian adalah profesi yang unik berbeda dengan profesi yang lain.
Salah satu modal penting dalam profesi ini adalah.
1. Luas tanah garapan
2. Keterampilan petani dalam menggunakan teknologi pertanian
Bila kita melihat sistim waris khusunya tanah maka kita bisa mengabil kesimpulan bahwa inilah biang keladi faragmentasi tanah pertanian.
Bayangkan bila seorang petani mempunya anak 8 orang dan mempunyai tanah 8 ha. Kalo di bagi rata kepada anak-anaknya maka tiap anak mendaptakan 1 hektar.
Sehingga produksi petani 1/8 dari orang tuanya dan pendapatanyapun akan kurang dari 1/8 dari pendapatan orangtuanya. Bisa di bayangkan bagaimana susahnya seorang anak untuk mempunyai tanah yang setara dengan orang tuanya.
Mungkin kasusnya akan berbeda bila petani tersebut adalah petani sumber bahan industri misalkan.
1. Petani kapas
2. Pedagang kapas
3. Pembuat benang
4. Pedagang benang
5. Pembuat kain
6. Pedagang kain
7. Pembaut pakaian jadi
8. Pedagang pakaian jadi
Tapi kita tidak boleh memandang sebelah mata untuk pertanian pangan (beras) bisa juga profesi dari anak petani padi juga berbeda.
1. Petani padi
2. Pedagang gabah (Gudang Gabah)
3. Pengolah gambah menjadi beras.
4. Pedagang beras.
5. Pemilik restoran.
Dengan katalain 1 orang petani hanya bisa mewariskan kepada 1 orang anak saja. Sedangkan anak yang lain harus di arahkan menjadi pedagang atau pengusaha.
indradhi menulis pada Senin, 26 April 2010, 14:49
Sekedar menanggapi tulisan ini maupun tanggapan Pak Agus.
Problematika dunia pertanian sangat kompleks. Saya hanya bisa berharap : 1. Pemerintah serius mengurus dunia pertanian dan memberikan support sepenuhnya. 2. Masalah pertanahan diperketat. Sebagai contoh kasus kami sendiri. Saat Orangtua meninggal kami menjual 4 hektar tanah untuk support pendidikan kami. Saat sudah bisa berdiri sendiri, mencoba untuk mengembalikan tanah pertanian 4 hektar warisan orang tua. Dana ada, niat ada, namun tampaknya kondisi dan lingkungan tidak memberikan support. Dari status tanah yang beraneka ragam, (Dari girik sampai sertifikat), kondisi tanah yang terlantar namun saat akan diusahakan, berdatangan sekian banyak orang mengaku sebagai pemilik, jalan masuk hancur, Listrik harus bayar sekian karena posisi yang cukup jauh dari “Trafo” (Walaupun tiang listrik ada di tanah saya tersebut). Urusan dengan BPN yang cukup melelahkan dan membutuhkan dana yang cukup lumayan. Yang lebih mengherankan saya, Tidak ada “petani” didaerah saya tersebut. Saya sangat kesulitan untuk bertani sendiri disela waktu saya bekerja di Jakarta. Tampaknya dengan TV masuk desa, masyrakat desa ikut menjadi “metropolis” sehingga anak muda mereka tidak ada yang berniat untuk menjadi petani. Maunya kerja di Jakarta sebagai buruh? Terbalik dengan saya. Saya yang sudah terlalu lelah di Jakarta, ingin balik ke desa meneruskan pekerjaan orang tua. Tapi tentu saja dengan teknik dan teknologi yang lebih maju. (Kan sudah sekolah tinggi dengan biaya tanah 4 hektar)