Friday, 10 September 2010
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian

Kemana Perwira Pertanianku?

Selasa, 1 September 2009, 16:45

kemana-perwira-1Sungguh begitu membahagiakan hati ketika merenung teringat kisah masa kecilku, terlahir di keluarga petani pas-pasan dan di tempat masyarakat petani yang berada di Desa Curah Jati di pojok selatan Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, daerah yang tersohor sebagai lumbung padi Provinsi Jawa Timur, predikat yang membanggakan hati.

Kalaulah saya boleh mengibaratkan petani adalah sang akar bunga mawar merah, letaknya di bawah tak masalah. Kerjanya setia mencari sari makanan untuk semua, kadang terabaikan juga tak masalah. Walaupun sejujurnya jika tanpa akar maka batang, daun dan bunga yang selalu dipuja–puja karena indah warna nya serta semerbak mewangi baunya akan layu seketika.
Di negeri ini sangat mendominasi jumlah petaninya. Kadang yang tidak lagi mencintai dunia pertanianpun masih mau munafik. Terbukti secara psikologis jika disuruh menggambar selalu cenderung menggambar Pak Tani, sawah padi, pemandangan di sekitarnya dengan seutuhnya. Kenyataan ini membutuhkan sikap nyata untuk berbuat mengembalikan yang telah bergeser untuk kembali ke habitatnya. Yaitu para pasukan elit pemikir pertanian ke depan.

Terlalu tajam media masa, media elektronik dan media lain yang menyoroti betapa rapuhnya masa depan pertanian di negeri agraris ini. Banyaknya sekolah pertanian kekurangan murid, terlebih bangku kuliah di Perguruan Tinggi Program Studi Pertanian juga menurun drastis, padahal ini adalah kawah candradimuko-nya Perwira Pertanian kita.
Perwira Pertanian (Sarjana Pertanian) berarti dipersiapkan untuk mendesain strategi, taktis dan teknis pertempuran untuk menghadapi era globalisasi mendatang yang akan didominasi sektor pertanian. Tiada kemenangan pertempuran dunia pertanian tanpa dikomandani Perwira Pertanian yang memiliki mental kesetiaan yang mutlak, keilmuan profesional, kecerdasan lapangan dan terlatih di lapangan. Sekali lagi negeri agraris yang tercinta ini sangat membutuhkan Perwira Pertanian. Sungguh membuat air mata hati saya menetes tanpa saya sadari ketika bertemu dengan sahabat yang memiliki gelar Sarjana Pertanian yang almamaternya sangat bonafit, gedung kuliah bertingkat dengan prasarana pendidikan cukup mahal, modern dan lengkap, kini bekerja menjadi karyawan di luar sektor perta¬nian dengan gaji biasa–biasa saja. Saat itu juga terpikir oleh saya kenapa bisa jadi begini? Lalu saya bertanya alasan-alasan sebagai penyebab disersi dari profesinya. Ternyata jawabnya klasik tidak tahu harus kerja apa dan tidak punya modal. Anehnya dengan bangga pamer cerita semakin banyak pengikutnya. Maaf, mungkin dalam hal ini salah satu penyebabnya adalah proporsi proses pembelajaran dan penularan oleh pelaku agribisnis tentang kepekaan berintuisi agribisnis perlu ditambah.

Terkait hal tersebut saya teringat di Pekanbaru Riau sebuah proses kegiatan intensifikasi pertanian organik komoditi ekspor ke Singapura, ada bayam, sawi dan kangkung. Kolaborasi sinergis dengan berbagai pihak di antaranya TNI se bagai penyedia lahan sebagai wujud binter cinta rakyat petani, PT. RAPP sebagai penyedia sarana pertanian sebagai wujud implementasi program sosial pengembangan masyarakat , Dinas Pertanian sebagai pembina teknis, Dinas Perdagangan yang menjembatani ekspor ke Singapura karena orang Singapura lebih senang memakan sayur tak utuh sisa gigitan serangga daripada sayur mulus tapi sisa pestisida kimia. Ternyata hanya dengan 4 ha menghasilkan Rp 1 milyar lebih per tahun.

Lain lagi cerita buah durian montong di Jember usia 4,5 tahun. Per pohon sudah berbuah 18 sampai 25 butir rata-rata seharga Rp 50.000 / butir. Jika saja 1 ha ditanam 100 pohon dan yang berbuah 80% saja maka akan dapat omset 20 bu¬tir X 80 pohon X Rp 50.000 / butir = Rp 80 juta per ha. Tentu semakin besar pohon tersebut semakin produktif , omsetnyapun juga meningkat. Sisi lain negeri kita oleh Thailand dianggap pangsa pasar buah durian paling didambakan. Sasaran tembak yang empuk untuk dibombardir sesukanya dengan salah satu peluru andalannya yang bernama buah durian montong, yang sangat adaptif bila kita kembangkan di tanah air kita yang jauh lebih luas dari Thailand.

Lain lagi cerita lahan tidur di setiap pinggiran kota besar di seluruh Indonesia, terlebih lahan milik para orang kaya, para pengembang perumahan yang belum terkerjakan, mungkin juga lahan milik departemen pemerintah jumlahnya sangat luas. Jika kondisi ini dikondisikan dengan baik oleh pihak-pihak terkait tentu termasuk di dalamnya adalah perguruan tinggi sebagai produsen Perwira Pertanian agar jadi medan tempat berlatih se bagai target minimal untuk memenangkan pertempuran pasar bebas kelak.

Jauh lebih penting lagi peranan dari yang bersangkutan yaitu para Perwira Pertanian itu sendiri agar bisa mengambil posisi untuk berperan memimpin pengelolaan pertanian modern efektif yang baik, benar dan bijaksana. Banyak lahan tidur boleh dimanfaatkan untuk yang baik sepanjang diawali dengan cara yang baik, dijalani dengan baik dan hasilnya baik un¬tuk semua pihak. Hanya butuh mendidik dan melatih diri agar lebih sensitif terhadap intuisi agribisnis.

kemana-perwira-2Banyaknya lahan di luar jawa yang layak untuk dicetak menjadi sawah, lahan pertanian toh indek biaya tidak lebih dari Rp 7 juta per ha. Kondisi ini semestinya bisa melahirkan kreatifitas baru, bisa jadi sasaran tempat Perwira Pertanian bebas berkreasi, tak ubahnya dokter harus mengabdikan dirinya di desa-desa, untuk menggoreskan tinta emas tentang prestasi indahnya bagi Ibu Pertiwi dan di tengah-tengah pasukannya yang sekarang ini sedang menunggu kehadirannya yang selalu tampil terdepan guna mengantisipasi tantangan dunia pertanian di masa mendatang.

Padahal keadaan nyata ini memberikan dampak imbas sangat dahsyat bagi bangsa baik moril maupun materiil, betapa tidak jika melahirkan 1 orang Perwira Pertanian saja pasti butuh dana besar maka jika diakumulasikan terus menerus akan jadi pemborosan ekstra besar tapi tersistematis. Belum lagi jika semua Perwira Pertanian disolidkan, disatukan energinya agar si nergis total fokus menggarap di bidangnya maka tidak mustahil kita tidak perlu lagi menguras devisa triliunan rupiah jumlahnya untuk impor buah-buahan, kedelai, susu, sapi dan sarana agroindustri lainnya. Ini baru tan ta ngan namanya!.

Sesuai pesan dalam kitab suci “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri” tentu tidak cukup dengan duduk manis, berpangku tangan, meratapi jalan hidupnya bahkan fatalnya lagi menyesali kenapa dilahirkan menjadi Perwira Pertanian, yang mengkambing hitamkan siapa saja. Nikmatnya bisa bersepeda motor karena pernah jatuh dari belajar bersepeda motor, jika tidak pernah jatuh berarti tidak pernah naik sepeda motor, yang akhirnya tidak akan pernah tahu nikmatnya bersepeda motor.
Miliki yang dicintai dan cintai yang dimiliki. Do’aku di nadimu…(**)

Oleh :
Wayan Supadno | 0811763161
(wayansupadno@yahoo.com)

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

3 tanggapan untuk artikel “Kemana Perwira Pertanianku?”

  1. Wendrizal

    Wendrizal menulis pada Senin, 31 Agustus 2009, 13:23

    Mas wayan, maksudnya Bio Extrim.

  2. Wayan Supadno

    Wayan Supadno menulis pada Senin, 31 Agustus 2009, 21:29

    Bio-EXTRIM Merk dagang pupuk hayati cair yg memiliki populasi mikroba penambat N, pelarut P, K dan unsur makro lainnya yg jumlahnya ekstrim banyak.

  3. Agus M Ramdan

    Agus M Ramdan menulis pada Selasa, 22 Desember 2009, 10:51

    Bila bicara perwira saya ingat perwira penerbang di angkatan udara. Cukup menyedihkan bila melihat perwira penerbang yang tidak bisa terbang karan peralatan perang kita kurang bagus.

    Dengan kata lain sejago jago nya seorang perwira penerbang yang mengunakan pesawat foker (foker jaman red baron) tentu tidak dapat mengalahkan pilot amerika yang mengunakan F-16.

    Pemikiran diatas sejalan dengan selama petani kita hanya mampu mengimplementasika teknologi abad ke 7 tentu bisnis produksi pangan akan terpinggirkan.

    kalo lihat rumus kesejahtraan petani secara umum…

    teknologi + luas sawah garapan = kesejahtraan petani.

    Semaikin baik teknologi ( bukan mengunakan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan karna secara pribadi saya kurang setuju penggunaan bahan bahan kimia dalam produksi pangan ) ditambah besarnya rasio penggarapan tahan oleh petani tentu akan mensejatrakan petani. Degan kata lain sehebat apapun teknologi pendukung pertanian dan Sumber Daya Manusia yang di miliki, tanpa didukung luas lahan yang cukup, ya tidak efektif juga.

    Mungkin perlu di tanya pada petani/perwira pertanian saat ini dengan pertanyaan berikut….

    “Bila anda mempunyai hak untuk mengolah lahan sawah seluas 1000 hektar selama 20 tahun di daerah terpencil apa yang akan anda lakukan?”

    Bila jawabannya mirip dengan seorang wirausahawan maka layaklah kita memberika petani-petani tersebut kesempatan untuk berkembang. Jawaban dari petani tersebut akan terilihat siapakah wirausahawan dan buruh tani.

    Bila saja kita punya 15 orang saja petani yang tidak memiliki tanah berpikikir sebagai wirausaha kita punya harapan mempunya petani yang maju.

Tulis Komentar Anda