Thursday, 17 April 2014
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian

Diskusi dengan Hati Tentang Pupuk Subsidi

Sabtu, 10 Oktober 2009, 19:15

pak-wayanMari sejenak kita berdiam diri, menatap diri sendiri diskusi dengan hati nurani, agar di hari nanti lebih berarti lagi, mengkaji lebih teliti tentang arti subsidi untuk pera petani di negeri ini.

Pasti kita tahu dari mana sumber dana asal yang diberikan kepada pe­tani dengan paket bernama subsidi pupuk kimiawi, yang sebagian bahan bakunya dari impor dana itu berasal dari rakyat, sebagian juga dari para petani. Juga tidak menutup kemungkinan uang tersebut hasil utang dari luar negeri.

Kalau kita mau jujur, kadang terasa miris jika petani diklaim akan gagal panen jika tanpa pupuk kimia subsidi, yang nyata-nyata disubsidikan telah memberikan dampak sangat multi kompleks antara lain oleh pihak yang mengkonsumsi terlebih bagi si buah hati, kepihak lahan tidak lagi ramah, karena lahan pertanian tidak hanya membutuhkan kimia melainkan membutuhkan keseimbangan antara biologi, kimia dan fisika.

Sungguh malu hati ketika mengetahui jumlah dana yang dialokasikan untuk subsidi pupuk kimia sebesar Rp 17 triliun, dana yang sangat banyak, dana yang memiliki potensi strategis, dana yang dapat sinergis jika untuk kepenti­ngan memacu percepatan terwujudnya pertanian organik.

Jika saya boleh memilih, maka saya selaku petani lebih memilih disubsidi mesin produksi pupuk yang lebih manusiawi yaitu organik, tidak lain tidak bukan adalah ternak salah satunya adalah sapi unggul bakalan eks-impor.

Harga sapi unggul bakalan eks-impor Rp 8.500.000 / ekor seberat 350 kg karena harga sapi Rp 25.000 / kg sapi hidup, jika Rp 17 triliun dibelikan sapi tersebut dapat 2 juta ekor karena sapi per ekor mampu menghasilkan 30 kg kotoran per hari, maka kita bisa dapat pupuk kandang sebanyak  2 juta X 30 kg / ekor/ hari = 60.000 ton/ hari atau 21,9 juta ton pupuk kandang pertahun.

Jika tahun depan sapi tersebut beranak 80% saja maka jumlah pupuk akan tambah juga, tentu produksi pupuk kandang organik bertambah juga, tentu akan lahir kecerdasan lapangan para petani untuk melakukan krea­tivitas fermentasi pupuk kandang dan dampak imbas positif lainnya seperti penciptaan lapangan pekerjaan.

Pemikiran ini tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa tapi justru mencari titik temu agar dapat bermanfaat bagi siapa saja, untuk menjadi salah satu jalan menuju suatu keadaan terwujudnya kemakmuran rakyat karena konsep ekonomi kerakyatan, yang berangkat dari kreativitas rakyat juga.

Tapi apapun alasannya, sebuah pemikiran tetap pemikiran tentu implementasinya sangat tergantung kepada yang berkompetensi, yang lebih mengerti, lebih bisa merasakan, lebih bisa mendengar suara hati para petani di negeri yang kaya jumlah petaninya ini. Semoga pemikiran ini bermanfaat bagi negeri ini. Amin. (**)

Oleh :

Wayan Supadno | 0811763161

(wayansupadno@yahoo.com)

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

2 tanggapan untuk artikel “Diskusi dengan Hati Tentang Pupuk Subsidi”

  1. avatar

    surahmat menulis pada Minggu, 27 Desember 2009, 13:35

    Saya sangat setuju dengan pemikiran diatas, karena kenyataan dilapangan yang menikmati subsidi pupuk bukan petani nyatanya harga pupuk ditingkat petani juga masih tinggi diatas HET, dengan kata lain subsidi langsung ke petani akan lebih baik, contoh dengan alat pertanian ( mesin pengolah tanah, mesin pompa air) dan subsidi ternak seperti contoh diatas. Karena kalau kita lihat orang2 yang bemain di distribusi pupuk bisa hidup bergelimpangan harta tanpa harus kerja keras memeras petani yang membutuhkan pupuk dengan harga semaunya.

  2. avatar

    Agus M Ramdan menulis pada Senin, 28 Desember 2009, 14:57

    Haloo semua kira kira ada yang tahu mekanisme dari subsidi yang dilakukan oleh permerintah Amerika atau Uni Eropa?

    Kira kira mekanisme tersebut dapat dilaksanakan di indonesia atau engak yah.

Tulis Komentar Anda