Sunday, 20 May 2012
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian
Tentang Masa Depan Pertanian Indonesia

Dibutuhkan Keberpihakan Pemerintah di Sektor Pertanian

Selasa, 1 September 2009, 16:46

syafridaMASA depan pertanian Indonesia bersandar di pundak para sarjana pertanian. Seperti yang ditulis oleh J von Braun dalam bukunya World Food Situation mengungkapkan bahwa pertumbuhan sektor pertanian merupakan kunci dalam pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang. Namun, dewasa ini ada fenomena dimana para sarjana pertanian Indonesia kurang meminati pekerjaan ini. Jangankan sarjana pertanian yang kurang berminat, para calon mahasiswa pun menurun minatnya untuk melanjutkan kuliah di bidang pertanian. Hal ini yang menjadi keprihatinan dari Prof. DR. Syafrida Manuwoto, Guru Besar Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian IPB. Ia memaparkan penurunan minat mahasiswa untuk masuk di perguruan tinggi pertanian dalam sebuah buku dengan judul Fenomena Penurunan Peminat Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia.
“Saya prihatin terhadap kondisi pertumbuhan pertanian di Indonesia. Karena minat mahasiswa untuk masuk di bidang pertanian cenderung menurun,” ungkap perempuan peraih penghargaan Satyalancana Karya XX Tahun pada tahun 1998 ini. Ia menyebutkan fakta tentang minat mahasiswa untuk mengenyam pendidikan di bidang pertanian rentang tahun 2003 sampai dengan tahun 2008. Pada tahun 2003, peminat di bidang pertanian mencapai 50.000 calon mahasiswa. Namun, di rentang tahun 2004-2008 ada penurunan sekitar 5% dari jumlah pendaftar tahun 2003.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab penurunan minat mahasiswa untuk menimba ilmu di Fakultas Pertanian, di antaranya perubahan yang terjadi di masyarakat menyangkut permasalahan sosial, ekonomi, budaya, dan ilmu teknologi. Kondisi pertanian itu sendiri. Selain itu, perkembangan minat juga dilatarbelakangi dari institusi pendidikan. “Institusi pendidikan harus menggugat diri mereka sendiri dan mempertanyakan apa yang sudah disumbangkan bagi para sarjana pertanian.”

Tentunya tidak ada yang bisa disalahkan dalam situasi ini. Semuanya memiliki porsi yang harus membangkitkan kembali pertanian di Indonesia. Bila pertanian Indonesia bisa kembali menjadi kebanggaan, pastinya, sarjana lulusan perguruan tinggi pertanian akan sepenuhnya mempraktekan ilmunya sesuai dengan bidangnya. “Yang menjadi kelemahan di bidang pertanian di Indonesia yaitu mahasiswa cendrung memilih pendidikan di bidang off farm. Bidang ini meliputi pasca produksi pertanian. Sedangkan, bidang on farm cendrung kurang diminati oleh calon mahasiswa,” tegas Mantan Dekan Fakultas Pertanian IPB ini.

Pembenahan di sistem pendidikan juga harus diperhatikan. “Hendaknya, sarjana-sarjana pertanian ditunjang oleh tenaga-tenaga madya dan tenaga pelaksana di bidang pertanian.” Pendidikan-pendidikan formal pertanian seperti Politeknik Pertanian, Pendidikan Madya Pertanian, dan Sekolah Pertanian Menengah Atas harus kembali diangkat sebagai penunjang dan tenaga pelaksana di bidang pertanian.

Ada beberapa langkah alternatif yang dilakukan oleh pihak institusi pendidikan untuk menanggulangi masalah ini. “Mahasiswa pertanian harus memiliki bekal ilmu penunjang pertanian.” Seperti yang diungkapkan oleh Syafrida Manuwoto, mahasiswa pertanian IPB mendapatkan pengembangan kompetensi kewirausahaan. Pengembangan kreativitas, terutama pengembangan ilmu pertanian dan aplikasinya.

“Satu hal yang sangat penting adalah keberpihakkan pemerintah terhadap sektor pertanian.” Harus ada kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendukung pembangunan infrastruktur pertanian hingga ke pelosok desa. “Bila semua hal ini tercapai, saya yakin pertanian di Indonesia akan maju seperti negara-negara lain,” Harap Syafrida. Para sarjana pertanian pun bisa bekerja sesuai dengan bidang keilmuannya. Intinya, harus ada jaminan sosial ekonomi dan masa depan para sarjana pertanian bila bekerja di sektor pertanian. Harus ditumbuhkan rasa tanggung jawab dari sarjana pertanian terhadap ilmu yang dimilikinya. Para sarjana harus menanamkan sikap untuk membangun daerah asal.

Syafrida yakin, bila pertanian Indonesia maju, maka ada kecintaan dan rasa kebangsaan yang kuat dari para pelaku pertaniannya. Tak terkecuali para sarjana pertanian. (Iwa| 087870210399)

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

2 tanggapan untuk artikel “Dibutuhkan Keberpihakan Pemerintah di Sektor Pertanian”

  1. avatar

    Wendrizal menulis pada Senin, 31 Agustus 2009, 14:20

    Ada beberapa hal yang perlu kita garisbawahi sebagai kata kunci untuk mengembangkan minat bertani di Indonesia.
    1. Istilah Petani yg masih memiliki konotasi pekerjaan orang kampung yg tidak dengan sekolah saja masih bisa bekerja, ada opini yg berkembang di tengah-tengah masyarakat kalau hanya ingin bertani ngapain sekolah tinggi-tinggi ! Maka perlu dirubah istilah, bagi para sarjana yg akan berprofesi dibidang pertanian dg sebutan pengusaha agribisnis.
    2. Ketersediaan lahan bagi para sarjana belum ada, bagaimana seorang sarjana pertanian ingin berprofesi dibidang pertanian sementara tidak punya lahan yang cukup, kecuali pekarangan rumah.
    3. Modal tidak mendukung.

  2. avatar

    mumung mulyana menulis pada Senin, 5 Oktober 2009, 18:55

    artikel “Dibutuhkan Keberpihakan Pemerintah di Sektor Pertanian”, karena dari dulu sampai sekarang meningkatkan sektor industri, karena industri - industri menghasilkan devisa yang cukup besar pemasukannya negara (pemerintah)
    Sektor Pertanian di nomor dua-kan, dari sektor pertanian inilah ketahanan pangan/swasembada pangan akan lebih stabil merupakan modal dasar pertumbuhan perekonomian negara berkembang. Sehingga dapat menyerap tenega-tenaga ahli (sarjana pertanian) mengebangkan inovasi/teknik pertanian yang modern.

Tulis Komentar Anda