Nazirwan Tanjung
Danau Maninjau, Kecataman Tanjung Raya - Kabupaten Agam
081363905588
“Per bulan, kebutuhan pakan ikan paling sedikit 1.500 ton dan 2.000 ton ikan yang dihasilkan di danau Maninjau Sumbar. Peluang untuk mendirikan pabrik pakan dan pengalengan ikan terbuka lebar. Kini kampanye satu juta bebek di Maninjau juga kerap didengungkan”
Danau Maninjau merupakan danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatra Barat. Letaknya, tidak jauh dari ibu kota Sumatera Barat, Padang. Jarak dari Padang ke danau Maninjau sekitar 140 km, dari Bukit Tinggi 36 km, dan dari Lubuk Basung, ibu kota Kabupaten Agam, sekitar 27 km. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke danau Maninjau.
Danau Maninjau merupakan danau vulkanik yang berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Maninjau sekitar 99,5 km persegi dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau, jutaan tahun lalu. Hal ini terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai dinding.
Di Maninjau hampir seluruh penduduk, sekitar 75%, menggantungkan hidupnya dari danau Maninjau. Mereka umumnya menjadi petani ikan dengan mendirikan keramba jaring apung. Tercatat, sekitar 6.000 keramba jaring apung, dengan ukuran 5 m x 5 m x 3 m (kedalaman), yang dimiliki oleh penduduk di kecamatan Tanjung Raya. Petani ikan di danau Maninjau biasanya membudidakan ikan nila dan ikan mas. Per bulan, hasil ikan di danau Maninjau mencapai 2.000 ton.
Hasil panen ikan di danau Maninjau biasanya menjadi sumber perikanan
untuk memenuhi kebutuhan ikan di Sumatera Barat. Para petani kerap kesulitan mengirim ikan dalam keadaan segar. Mungkin, sudah saatnya ikan-ikan ini dikirim dalam bentuk lain, ikan air tawar dalam kemasan, misalnya. Perlu dicatat, produktivitas panen ikan di Maninjau sangat berlimpah. Hal ini butuh teknologi dalam pengolahan ikan agar hasil panen yang melimpah ini bisa diawetkan dengan baik dan masih memiliki daya jual tinggi.
Perikanan yang dibudidayakan oleh masyarakat di danau Maninjau sangatlah potensial. Bayangkan, berapa jumlah tenaga kerja yang diserap di sektor budidaya ikan ini? Berapa jumlah pakan ikan yang dibutuhkan dalam budidaya ikan di Maninjau? Kami, para petani ikan membutuhkan sedikitnya 1.500 ton pakan ikan per bulan. Pakan ini biasanya didatangkan dari kota Medan dan pulau Jawa.
Selama ini, di wilayah Kecamatan Tanjung Raya ataupun di Kabupaten Agam tidak ada pabrik pakan ikan. Kami mendatangkan pakan dari wilayah lain. Sempat ada beberapa calon investor di bidang pakan ikan yang sudah datang dan meneliti wilayah sekitar danau Maninjau terkait konsumsi pakan ikan. Namun, sampai saat ini belum ada yang merealisasikan pembangunan pabrik pakan ikan di wilayah ini.
Ada kendala yang menghambat investor pakan ikan, salah satunya adalah
transportasi. Selama ini saja, pakan selalu didatangkan dengan menggunakan jalur laut. Jadi, kedatangan pakan ikan terlambat karena transportasi dari provinsi Riau dan Sumatera Utara hanya dua kali dalam seminggu. Mungkin, transportasi ini menjadi kendala terbesar bagi calon investor, mereka kesulitan untuk mendatangkan bahan baku pembuat pakan ikan.
Menuju “Maninjau, Danau Sejuta Bebek”
Selain sektor perikanan dan kebutuhan pakannya yang sangat banyak, danau Maninjau juga sangat potensial dalam hal peternakan. Di danau Maninjau sangatlah potensial untuk membudidayakan bebek air. Kami, saat ini sedang mendengungkan kampanye Danau Satu Juta Bebek. Tujuannya jelas, menaikkan taraf hidup penduduk dan mengenalkan potensi pariwisata dengan ciri khas danau bebek.
Di sekeliling danau Maninjau, terdapat hamparan sawah di sepanjang Kelok 44. Makanya, kami berasumsi bila ada sawah, maka bebek bisa berkembang biak dengan baik. Hama sawah seperti keong emas yang selama ini hanya menjadi musuh petani, bisa dimanfaatkan menjadi pakan bebek. Untuk menambah daya tarik, bebek-bebek ini kelak akan dibiakkan di atas air danau Maninjau. Bila ini tercapai, berbagai sektor akan mendapatkan dampak positif.
Misalkan, para pedagang makanan tidak akan kesulitan untuk mencari bahan baku masakan bebek goreng. Kebutuhan telur bebek juga akan terpenuhi. Di samping itu, sektor pariwisata akan berdampak positif dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke danau Maninjau. Kami, masyarakat di sekitar danau Maninjau berharap potensi yang belum tergali ini menjadi perhatian dari pemerintah daerah agar masyarakat di danau Maninjau bangga akan daerahnya.(**)