Jika saja merujuk rekomendasi para ahli bahwa lahan pertanian di Kabupaten Banyuwangi sesuai moderat tanaman kedelai seluas 122.522 ha dioptimalkan, disubsidi benih unggul, direvitalisasi sistem pengairan maka mampu menghasilkan 735.132 ton/ tahun senilai Rp 3,67 triliun, secara otomatis Kabupaten Banyuwangi mampu memberikan kontribusi kedelai terbesar di Indonesia bahkan lebih besar dari total produksi kedelai nasional tahun 2007 yaitu 592.381 ton.
Sesungguhnya perjalanan kehidupan ini adalah proses pembelajaran tiada henti, jika diri kita bisa memposisikan diri sendiri sebagai insan yang selalu ingin tahu dan terus ingin tahu agar semakin lebih tahu lagi. Banyak rangkaian kata bermakna yang terkemas dalam slogan semboyan seakan memiliki roh, hidup sepanjang masa mampu mengobarkan semangat bagi yang malas dan membangkitkan bagi yang asyik tertidur.
Beberapa tahun silam Gubernur Sumut meluncurkan semboyan “Marsipature Huta Nabe” dengan pengertian Membangun Kampung Sendiri, ketika Gubernur sedang memacu pertumbuhan ekonomi melalui pedesaan. Di Kabupaten Pelalawan Riau walaupun sebagai kabupaten pemekaran juga meluncurkan slogan “Seiya Sekata, Merangkai Desa Membangun Negeri”, diluncurkan ketika membuat terobosan ekstrim membangun jalan dengan lebar 40 meter sepanjang 167 km dari desa ke desa ini tentu sa-ngat visioner. Di Jateng Gubernurnya juga meluncurkan semboyan “Mbalik Ndeso, Mbangun Ndeso” yang arti gramatikalnya adalah mengajak segenap masyarakat untuk mempertanggung jawabkan desanya masing-masing, dengan cara membangun kecintaan kepada negeri melalui kecintaan kepada desanya masing-masing.
Kali ini saya mencoba berbuat merangkai kata bermakna untuk membangun tanah tumpah darah Ibunda tercinta untuk melahirkan saya, Banyuwangi “telah memberi” kontribusi banyak kepada saya dari hasil pertanian dan peternakan, dikuras untuk membesarkan saya dari kecil hingga lulus Perguruan Tinggi Negeri juga entah sampai kapan nanti. Tulisan ini murni suara hati karena panggilan Sang Nurani, tanpa sedikitpun ada motivasi politik kedaerahan dan politik yang ada di daerah, apalagi bernuansa untuk melukai hati pihak lain.
Saya terlahir dari keluarga petani pas pasan, lahir di Dusun Curah Jati Desa Sumberjati, Kec. Purwoharjo, Kab. Banyuwangi - Jawa Timur. Kami sekeluarga pada tahun 1993 ikut Transmigrasi Swakarsa Mandiri ke Sulawesi lalu ke Sumatera. Kabupaten Banyuwangi sungguh indah, sungguh berpotensi di bidang pertaniannya.
Menurut data di Banyuwangi Dalam Angka, bahwa kontribusi Pendapatan Asli Daerah 60% bersumber dari hasil pertanian dalam arti luas, ini berarti yang menggaji Pemerintah Daerah dan DPRD Banyuwangi banyak berasal dari Sektor Pertanian, seharusnya tenaga, waktu, pikiran lebih banyak fokus untuk memperjuangkan sektor pertanian dalam arti luas, dari hulu sampai hilir, dari makro ke mikro bahkan dari strategi taktis dan teknis sekalipun.
Banyuwangi sungguh memiliki potensi yang sangat menguntungkan karena luasnya hampir tiga kali lipat Propinsi D.I Yogyakarta yaitu 5.782,50 km persegi dengan jumlah penduduk 1.540.000 (2003). Memiliki populasi sapi 101,821 ekor (2008), kambing 39.094 (2006), domba 43.282 (2007), ikan laut 62.299.281 kg (2006) pemilik bandar ikan terbesar ke 2 di Indonesia, padi 659.997 ton (BPS 2007), kedelai 50.424 ton (2008) berarti sebagai kabupaten produsen kedelai terbesar se-Indonesia.
Menurut hasil penelitian “Analisa Potensi Sumberdaya Lahan Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Banyuwangi Menggunakan Citra Landsat - 7 ETM” oleh Bidawi Hasyim, Islam Widya Bagja dan Suwarsono (Peneliti Bidang Pemantauan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional” memberikan rekomendasi bahwa lahan pertanian di Kabupaten Banyuwangi sesuai moderat untuk tanaman kedelai seluas 122.522 ha.
Pangsa pasar kedelai terbentang sangat-sangat luas sehingga negeri ini harus impor senilai hampir Rp 6 triliun untuk kebutuhan rakyat seluruh Indonesia yang sangat mengidolakan produk turunan dari kedelai yang salah satunya adalah tahu-tempe, bahkan pemerintah sampai sanggup harus memberi subsidi kepada industri tahu-tempe atas beban kedelai impor semata-mata demi menyelamatkan saudara-saudara kita yang terancam untuk dirumahkan karena tidak sanggup membeli kedelai impor. Ini bukan lagi peluang emas melainkan peluang berlian!
Masyarakat petani di Banyuwangi sudah sangat terampil menanam kedelai secara turun temurun bagaikan budaya yang takkan lepas dari masyarakatnya bahkan sebagai tanda bahwa masyarakat petani teramat terampil menanam kedelai, tahun 2008 Kelompok Tani Karya Bakti Desa Glagahagung mendapat Penghargaan Petani Kedelai Teladan Nasional oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.
Sumber bahan baku pupuk organik yang dikenal jauh lebih manusiawi di Banyuwangi sangat berlimpah bahkan sangat memungkinkan untuk ditingkatkan lagi produksinya karena banyaknya limbah yang bisa didapat dari ratusan ribu ternak milik rakyat dan limbah ikan laut yang dikenal memiliki potensi tinggi untuk pupuk organik ini jumlahnya ratusan ribu ton dari daerah pinggiran pantai karena Banyuwangi merupakan bandar ikan terbesar ke 2 se-Indonesia.
Limbah pasca panen kedelai terbukti sangat baik untuk ternak karena telah terbukti puluhan tahun dipakai oleh masyarakat untuk pakan ternak dalam kurun waktu puluhan tahun secara turun temurun, kondisi ini sangat bertalian erat dengan kebutuhan kita saat ini yang sangat-sangat mendesak untuk swasembada daging, susu dan kedelai.
Banyuwangi memiliki gunung terbesar di Pulau Jawa yaitu Gunung Raung (3.282 m) tentu secara logika memiliki deposit air yang luar biasa banyaknya, hanya masalahnya butuh penelitian, pengkajian dan pengembangan yang lebih detail lagi kelayakannya dari para pakar di bidangnya. Ini patut dijemput oleh pihak Pemda.
Masalah yang mendasar yang menimpa ratusan ribu kepala rumah tangga petani di Banyuwangi adalah sulitnya untuk mendapatkan air irigasi pertanian, padahal masalah air adalah masalah vital dan apabila diabaikan dampaknya akan sangat fatal. Belum menyebar luasnya benih kedelai unggul varietas terbaru contohnya Grobokan yang diklaim oleh berbagai pihak mampu menghasilkan 3 - 3,5 ton per hektar.
Masalah pengembangan peternakan yang berbasis kerakyatan adalah sulitnya untuk mendapatkan informasi kebijakan pemerintah yang sudah mulai pro ke pertanian dan mewujudkan konsep mendapatkan subsidi bunga kredit swasembada daging, padahal stimulus-stimulus semacam ini sangat dinantikan oleh petani.
Tepat sekali dengan apa yang disampaikan oleh Dekan FE Untag Banyuwangi Bapak Thoyib Kamino Hp. 081358223233 dikutip dari berita Fajar FM 12 April 2008 “…Banyuwangi ini adalah Kabupaten besar dengan potensi agraris yang besar hanya saja kebijakan yang ada justru mengubah masyarakat agraris ini menjadi masyarakat konsumtif…” dan setelah saya konfirmasi pertelepon menegaskan bahwa “Seakan para petani di Kabupaten Banyuwangi dibiarkan berjalan sendiri seolah tidak disadari kontribusi dari pertanian jumlahnya sudah triliunan per tahun, hal yang sangat mendesak adalah mengatasi infrastruktur irigasi karena menyangkut kelangsungan hidup ratusan ribu kepala rumah tangga petani, menghadirkan investor yang berbasis industri agro dengan bahan baku kedelai contohnya.”
Menganalisa data yang sangat minimal tersebut dan merekayasa untuk membuat sebuah hipotesa/ kesimpulan sementara bahwa sangat memungkinkan untuk mengoptimalkan produksi kedelai dan pengembangan ternak sapi potong serta susu secara besar-besaran dengan konsep masyarakat sebagai subyek pengembangannya hanya masalahnya butuh konsep yang aplikatif membumi. Terlebih sangat feasible jika hadir investor-investor yang membutuhkan bahan baku kedelai, agar para petani mendapat kepastian pasar dan harga yang stabil. Pemerintah tinggal proaktif menjemput bola yang bernama investor tersebut dan memberi perhatian berupa kemudahan perijinan serta menekan biayanya.
Jika saja luas 122.522 ha bisa dikelola dengan baik melalui irigasi layak, dengan memakai varietas terbaru dan pembinaan teknis terpadu bisa menghasilkan 3 ton saja/ ha/ musim dengan 2 kali musim tanam seperti sekarang ini akan menghasilkan luas 122.522 ha x 3 ton saja/ ha/ musim x 2 kali musim tanam = 735.132 ton/ tahun. Setara dengan 735.132 ton/ tahun x Rp 5.000/ kg = Rp 3,67 triliun.
Jika mampu menghasilkan 735.132 ton/ tahun senilai Rp 3,67 triliun, maka secara otomatis Kabupaten Banyuwangi mampu memberikan kontribusi kedelai terbesar di Indonesia bahkan dibandingkan dengan produksi kedelai tingkat propinsi se-Indonesia. Karena produksi kedelai Jatim 349.188 ton (2001), 300.184 ton (2002), 252.027 ton (2007). Sedangkan produksi kedelai nasional 1.369.156 ton (1999), 1.046.138 ton (2000), 826.932 ton (2001), 673.056 ton (2002), 725.777 ton (2003), 723.483 ton (2004), 808.054 ton (2005), 780.880 ton (2006), 592.381 ton (2007). Data diambil dari BPS Jatim.
Jika saja program Pemerintah Pusat yang telah dikeluarkan untuk membantu Petani dan Peternak antara lain: Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) dari total Rp 10,2 triliun, sebagian di antaranya yaitu Rp 2,2 triliun diberikan pada sektor peternakan, dengan subsidi dibebankan sebesar 5% pertahun tersebut dikucurkan ke Kelompok Tani atau Badan Usaha Milik Desa di Banyuwangi yang sudah tidak perlu lagi mendidik pola kelola ternak sapi yang benar, maka ke depan kontribusinya akan mendongkrak daya suplai ketahanan pangan cukup berarti. Pemda tinggal jemput bola karena program tersebut baru terserap 30%, tentu ini sangat berarti bagi kemajuan Petani dan Peternak di Banyuwangi.
Jika saja para investor yang bermain dibidang Industri Agro yang berbahan baku kedelai contohnya minuman susu kedelai dan kecap, dijemput dan diberi motivasi dengan segala macam kelebihan-kelebihannya dan manfaat-manfaatnya denga apa adanya serta komitmen dukungan Pemda berupa kemudahan terhadap pengurusan legalitas maupun keringanan pajak pada tahun-tahun awal produksi, tentu ini sangat berarti bagi para petani untuk kepastian pemasaaran hasil pertanian yang pada akhirnya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Banyuwangi
Semoga tulisan ini memberi arti bagi segenap masyarakat Banyuwangi khususnya dan negeri agraris yang tercinta ini. Semoga juga melahirkan para penulis potensi daerahnya masing-masing dan mengirimkan email ke: bangkittan@yahoo.com, untuk memajukan negeri kita yang tercinta.(**)
Wayan Supadno | 0811763161
(wayansupadno@yahoo.com)
kukuh shibyantomo menulis pada Kamis, 8 Juli 2010, 14:20
saya mahasiswa fe unair asli banyuwangi. setelah membaca artikel tersebut keinginan saya untuk memajukan perekonomian di banyuwangi menjadi muncul. mengingat di perkuliahan yg dibangun ialah bagaimana agar ilmu yang kita miliki dapat bermanfaat bagi orang di sekitar kita. saya ingin menjadi entrepreneur. apa yang bisa saya kembangkan dan wirausahakal di banyuwangi ?