Jengkol (Pithecellobium) identik dengan aroma tidak sedap, namun tidak demikian dengan peluang di bisnisnya. Setiap hari paling tidak, dibutuhkan minimal 50 ton jengkol untuk memenuhi kebutuhan pasar di Jakarta.
Begitulah harumnya penjualan komoditas kampungan model jengkol yang sempat kami cium di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta Timur. Itu pun baru sebatas pemantauan di kawasan Blok G, di sentra sayur mayur dan buah-buahan terbesar di Jabotabek itu.
Paling tidak ada 10 bandar besar jengkol yang bermain di blok tadi. Salah satunya adalah AHO, setiap hari buah berbentuk pipih itu turun dari dua truck colt diesel ,masing-masing bermuatan lima ton jengkol/truck-nya. Jengkol yang termasuk jenis polong-polongan itu didatangkan dari sejumlah daerah seperti Padang, Lampung, Sukabumi, dan Pekalongan.
“Jika sedang tidak masuk masa pa-nen, paling tidak saya terima 1 mobil berkapasitas 5 ton. Pasokan biasanya dari Padang, Lampung, Sukabumi, dan Pekalongan. Jumlah tersebut hanya cukup untuk satu hari,” ungkap Dodi pengelola lapak AHO.
Ada perbedaan antara jengkol asal Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Biasanya, jengkol dari Sumatera lebih kuat jika direndam di dalam air ketika proses pencucian. Tidak pecah dan justru akan lebih mekar apabila direndam lebih dari tiga jam. Namun tidak demikian untuk jengkol yang datang dari Pulau Jawa.
Untuk harga saat ini, buah khas wilayah Asia Tenggara itu dibandrol rata-rata Rp 9.000/kgnya. Lain lagi jika jengkol yang ada sudah dipilah menjadi tiga kategori super, sedang, dan kecil. Nilai jualnya bisa berkisar dari Rp 7.000 hingga Rp12.000 per kg.
“Dibanding komoditi lainnya, jengkol termasuk barang dagangan yang relatif stabil harganya. Selain itu, kebutuhannya juga tidak tergantung musim. Seperti kelapa santan misalnya, pembeli akan melonjak apabila jelang lebaran. Kalau jengkol, setiap hari orang pasti butuh,” lanjut Dodi bicara soal kebutuhan akan buah yang konon baik dikonsumsi bagi penderita diabetes dan jantung itu.
Dari harga jual tadi, pedagang umumnya meraup keuntungan bersih sebesar Rp 200/kg. Keuntungan itu sudah dipotong ongkos pengiriman, upah pekerja, dan biaya karung. Tak pelak dalam sebulan, Dodi dan lainnya mampu mengantongi keuntungan sekitar Rp 30 juta dari berjualan jengkol.
Manfaat Jengkol Bagi Tubuh
Boleh-boleh saja jika orang enggan mengkonsumsi jengkol karena faktor bau dan ketakutan terhadap kemungkinan keracunan asam jengkolat. Namun, jika menganggap buah kampungan ini tak bergizi, sebaiknya pandangan tersebut dikoreksi. Mengapa?
Pasalnya, di luar urusan tadi jengkol sesungguhnya termasuk bahan pangan kaya gizi. Dari sejumlah penelitian memperlihatkan, jengkol kaya karbohidrat, protein, vitamin A, B, dan C, fosfor, kalsium, alkaloid, minyak atsiri, steroid, glikosida, tanin, dan saponin. Bahkan, kandungan protein jengkol masih lebih tinggi daripada tempe (8,3 gram per 100 gram bahan) yang selama ini disebut-sebut sebagai sumber pangan nabati berprotein tinggi.
Seperti yang dikutip dari www.anekaplantasia.com. Bahwa dalam 100 gram biji jengkol, terkandung energi 133 kkal, protein 23,3 gram, karbohidrat 20,7 gram, vitamin A 240 SI, vitamin B 0,7 mg, vitamin C 80 mg, fosfor 166,7 mg, kalsium 140 mg, besi 4,7 mg, dan air 49,5 gram. Sebagai catatan, angka kecukupan gizi vitamin C yang dianjurkan per hari adalah 75 mg untuk wanita dewasa dan 90 mg untuk pria dewasa. Ini berarti, untuk memenuhi kebutuhan vitamin C per hari, kita cukup mengonsumsi jengkol sekitar 100 gram.
Karena jengkol kaya akan zat besi, tidak heran jika jengkol sering dianjurkan bagi para penderita anemia. Jengkol juga baik bagi kesehatan tulang karena tinggi akan kalsium, yaitu 140 mg/100 g. Peran kalsium pada umumnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu membantu pembentukan tulang dan gigi, serta mengatur proses biologis dalam tubuh. Dengan demikian, di balik efek bau, sesungguhnya banyak manfaat yang diperoleh dari mengkonsumsi jengkol. Jadi, kenapa mesti takut makan jengkol? (**)