Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau
Jl. Makmur Dg. Sitakka No.129
Maros 90512
Sulawesi Selatan Indonesia
Telp: 0411 – 371544
Fax: 0411 – 371545
Budidaya teripang tergolong mudah. Yang perlu diperhatikan adalah media untuk tumbuh kembang, pemilihan bibit yang baik, dan cara pengolahan agar mutu dan harga teripang olahan menjadi tinggi.
Teripang atau mentimun laut yang digolongkan ke dalam kelas Holothuridea merupakan satu di antara hewan laut yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Teripang memiliki prospek cerah sebagai bahan ekspor dan permintaannya semakin besar, terutama dalam bentuk kering dan teripang asap. Selama ini produksi teripang umumnya diperoleh dari penangkapan di alam yang sumber dayanya semakin terbatas. Untuk memenuhi permintaan pasar harus ditempuh melalui usaha budidaya. Budidaya teripang, khususnya teripang pasir (Holothuridea Scabra) memungkinkan dilakukan oleh masyarakat pantai karena teknik budidayanya cukup sederhana dan investasi yang diperlukan relatif kecil.
Sifat biologis teripang pasir yang khas adalah hidup pada habitat pasir atau lumpur yang ditumbuhi tanaman lamun pada
kedalaman relatif dangkal. Teripang mengambil makanan yang ada di sekitarnya (filter feeder). Salah satu sifat biologis teripang pasir yang penting diketahui dalam rangka budidaya adalah tubuhnya elastis sehingga mudah meluruskan diri melalui celah-celah yang sangat sempit. Berdasarkan sifat biologisnya, wadah yang cocok untuk budidaya adalah kurung tancap (hampang) memagar keliling habitat asli teripang dengan waring nilon setinggi 2 meter. Usaha budidaya teripang di dalam kurung tancap selain menjaga kelestarian sumberdayanya merupakan lapangan kerja baru bagi masyarakat pantai yang dapat memberi nilai tambah dalam peningkatan kesejahteraan.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya teripang adalah dasar perairan terdiri dari pasir, pasir berlumpur, berkarang, dan ditumbuhi tanaman lamun (rumput lindung). Terlindung dari angin kencang dan arus atau gelombang yang kuat. Tidak tercemar dan bukan daerah konflik serta mudah dijangkau. Kedalaman perairan lokal antara 50 – 150 cm pada saat surut terendah dan sirkulasi air terjadi secara sempurna. Mutu air, salinitas 24 – 33 ppt, kecerahan 50 – 150 cm, dan suhu 25 – 30 derajat Celcius.
Mempersiapkan Media Budidaya
Kurung tancap yang akan dijadikan sebagai media budidaya teripang memiliki bahan kontruksi balok berukuran 5 x 7 x 200 cm, waring nilon ukuran mata 0,2 cm, tali ris dari nilon, tali pengikat atau paku anti karat, dan papan tahan air. Kurung tancap ini harus dipasang di dalam air yang memiliki hamparan pasir.
Cara pemasangan yang harus dilakukan adalah tiang dipancang pada pasir dasar perairan dengan kedalaman sekitar 50 cm. Bagian tiang yang berada di atas permukaan sebagai tempat melekatkan waring. Waring yang sudah dilengkapi dengan tali ris disambung dengan papan. Papan yang telah disambung dengan waring dibalut lalu ditanam ke dalam lumpur sedalam 30 cm. Bila tidak ada papan, bagian ujung waring ditanam ke dalam lumpur sedalam 30 cm, kemudian bagian ujungnya dibelokkan ke dalam sepanjang 15 cm. Ukuran kurung tancap disesuaikan dengan kebutuhan.
Setelah media untuk budidaya teripang disiapkan, langkah selanjutnya adalah pemilihan benih. Pilih benih yang seragam, baik jenis dan ukurannya. Benih yang baik memiliki ciri-ciri tubuhnya berisi dan tidak cacat. Hindari benih yang diangkut dalam waktu lama (lebih dari 1 jam) dan dalam keadaan tertumpuk (padat). Hindari benih yang telah mengeluarkan cairan warna kuning. Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau malam hari, bisa juga saat suhu rendah. Pengangkutan benih dapat menggunakan wadah yang diberi substrat pasir khususnya pada sistem pengangkatan terbuka.
Teknik Budidaya Teripang
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam budidaya teripang adalah sebagai berikut. Benih teripang dengan berat awal 40-60 gram ditebar ke dalam kurung tancap dengan kepadatan 5 – 6 ekor/m2. Penebaran dilakukan pada pagi dan sore hari atau pada
saat suhu rendah. Sebelum benih ditebar ke dalam kurung tancap, adaptasikan terlebih dahulu agar dapat diketahui vitalitas maupun jumlah benih. Selama pemeliharaan, diberikan kotoran ayam yang dicampur dengan dedak sekitar 0,1 kg/m2 setiap seminggu sekali. Kotoran ayam dan dedak ini harus dicampur dengan air bersih dan diaduk merata agar tidak hanyut atau terapung. Pemberian kotoran ayam ini dilakukan saat air sedang surut. Pada sistem ini, teripang yang dipelihara tidak tergantung pada pakan buatan karena teripang tersebut berada pada habitat aslinya. Pemberian kotoran ayam berfungsi sebagai pupuk untuk merangsang pertumbuhan diatome yang merupakan makanan utama teripang. Masa pemeliharaan selama 4 – 5 bulan.
Panen dan Pengolahan
Setelah dipelihara selama 4 – 5 bulan, teripang sudah mencapai ukuran konsumsi yaitu berukuran 300 – 500 gram. Panen teripang dilakukan saat air surut terendah dan dilakukan beberapa kali karena banyak yang membenamkan diri dalam pasir dan lumpur. Untuk mengetahui apakah teripang sudah dipanen semuanya, dilakukan pengecekan pada air pasang, karena teripang akan keluar dari persembunyiannya setelah air pasang.
Cara pengolahan teripang tidak sama dengan komoditas perikanan lainnya, karena teripang tidak dikonsumsi dalam bentuk segar atau dalam bentuk kering. Mula-mula teripang segar dibersihkan isi perutnya dengan cara menusuk-nusukkan lidi pada bagian anusnya. Kemudian, bagian perutnya dibelah sekitar 5 – 10 cm untuk mengeluarkan isi perut yang masih tersisa (sesuaikan dengan ukuran) kemudian dibilas dengan air bersih. Setelah itu, teripang direbus selama 30 menit sampai matang. Untuk membersihkan kulit dapat direndam dengan NaOH, KOH, dan CaCO atau dengan bahan alami seperti parutan kelapa muda selama satu jam. Selanjutnya dilakukan pengeringan atau pengasapan untuk mengurangi kandungan air.
Pengeringan dapat dilakukan dengan sinar matahari atau oven dengan menggunakan bahan bakar berupa kayu keras, serbuk gergaji, terutama dari kayu ulin atau sabut kelapa. Namun yang terbaik adalah dengan menggunakan serbuk gergaji kayu ulin karena memiliki aroma dan warna yang baik sehingga mutu dan harganya lebih tinggi. Hasil pengeringan dengan sinar matahari mempunyai mutu yang rendah, karena biasanya berbau amis. Mutu teripang olahan yang baik adalah mempunyai berat 40% dari berat segar.
Harga teripang olahan dipasaran sangat dipengaruhi oleh ukuran dan mutu pengeringannya. Teripang dalam bentuk asapan dengan aroma yang baik harganya lebih mahal dibandingkan dengan teripang kering. (**)
Zulkarnaen menulis pada Rabu, 16 Juni 2010, 11:36
Mohon informasi untuk tempat pengolahan teripang menjadi ekstrak bapak ada ga?rencananya saya ada penawaran untuk ekstraksi teripang dalam kiloan..terima kasih
heprianto. s menulis pada Jumat, 1 April 2011, 15:48
salam kenal, saya tertarik dengan laman ini…
dan kalau boleh tau apakah anda juga bisa menyediakan (info stok barang) tripang olahan yg sudah kering…
terutama yang jenis susu / gajah?…berat kering = 3 sampai 2 ekor per kilo
karna relasi saya dibatam sangat mencari untuk pemblian guna pasar export…
terima kasih… kalau ada info, boleh kontak saya di email atau no: 0852 6401 8752