Tuesday, 22 May 2012
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian
Lahan Pasang Surut untuk Budidaya Kedelai

Kedelai Ditanam dengan Sistem Budidaya Jenuh Air

Minggu, 15 November 2009, 21:56

Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, MS.

Ketua Program Studi Agronomi, Sekolah Pacasarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Kondisi luas areal tanam dan tingkat produktivitaslahanpasangsurut

Luas areal panen dan tingkat produktivitas akan menentukan tingkat produksi kedelai  yang diperoleh dalam kurun waktu satu tahun. Bila dibandingkan kondisi sekarang terhadap tahun 1990, maka tingkat produktivitas kedelai pada tahun 1990 sebesar 1,11 ton / ha, dan pada tahun 2007 sebesar 1,29 ton / ha. Artinya ada peningkatan produktivitas kedelai yang relatif kecil, akan tetapi terjadi penurunan luas areal tanam  yang besar sekitar  58,85% yaitu pada tahun 1990 sebesar 1.334.000 ha dan pada tahun 2007 hanya 549.000 ha.

Keadaan ini menyebabkan produksi dalam negeri pada tahun 2007 hanya mampu menunjang 35% dari kebutuhan nasional. Dampak dari langkanya ketersediaan kedelai dalam negeri dan dunia menyebabkan harga kedelai melonjak pada awal tahun 2008 dibandingkan pada tahun 2007. Harga kedelai saat ini berkisar antara Rp 6.000 - Rp 8.000 per kg,  sedangkan pada tahun 2007 hanya berkisar antara Rp 3.500 - Rp 4.000 per kg. Harga kedelai yang tinggi  memberikan peluang usaha budidaya kedelai yang menguntungkan bagi petani jika harga sarana produksi seperti pupuk dan obat-obatan tetap terjaga dengan murah. Tahun 2009 ini, kondisi luas areal tanam dan tingkat produktivitas kedelai relatif masih sama dengan tahun 2007.

tabel1Kebutuhan  kedelai nasional pada tahun 2010  diperhitungkan sebesar 2,4 juta ton. Artinya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri jika kita hanya mampu memproduksi sebesar 700.000 ton per tahun, maka  perlu melakukan perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas tanaman. Peningkatan perluasan areal tanam sebaiknya di arahkan ke luar Jawa yang di antaranya dapat dilakukan di lahan pasang surut.

Potensi dan Permasalahan Lahan Pasang Surut

Meningkatnya kebutuhan akan pangan dan semakin menyusutnya lahan-lahan subur di pulau Jawa akibat konversi ke lahan non pertanian. Lahan pasang surut merupakan salah satu alternatif untuk pengembangan pertanian. Luas lahan pasang surut di Indonesia sekitar 20,1 juta hektar, dan sekitar 9,53 juta hektar berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian. Lahan pasang surut yang mempunyai potensi tinggi untuk ditanami kedelai seluas 2,08 juta ha, sedangkan yang berpotensi sedang  seluas 1,33 juta ha.

Lahan pasang surut dibagi menjadi empat golongan menurut tipe luapan air pasang,  yaitu Tipe A, lahan terluapi oleh pasang besar (pada waktu bulan purnama maupun bulan mati), maupun oleh pasang kecil (pada waktu bulan separuh). Tipe B, lahan terluapi hanya oleh pasang besar saja. Tipe C, lahan tidak terluapi oleh air pasang besar maupun pasang kecil, namun permukaan air tanahnya cukup dangkal, yaitu kurang dari 50 cm. Tipe D, lahan tidak terluapi oleh air pasang besar maupun pasang kecil, namun permukaan air tanahnya dalam, lebih dari 50 cm.

lahanpasangsurut2Permasalahan pengembangan kedelai di lahan pasang surut adalah tingginya kadar pirit yang menyebabkan rendahnya pH tanah pada saat kondisi teroksidasi. Kadar pirit yang tinggi menyebabkan produktivitas kedelai di lahan pasang surut masih rendah hanya sekitar 800 kg/ ha. Rendahnya produktivitas tanaman di lahan pasang surut disebabkan oleh tingginya kemasaman tanah, kelarutan unsur Fe, Al dan Mn serta rendahnya ketersediaan unsur hara terutama P dan K.  Oleh karena itu perlu adanya usaha penurunan kadar pirit dan penambahan hara makro untuk meningkatkan produktivitas kedelai di lahan pasang surut.

Usaha penurunan kadar pirit di lahan pasang surut dapat dilakukan dengan cara pengaturan tinggi muka air agar kondisi tanah lebih reduktif. Adanya “Teknologi Budidaya Jenuh Air” memberikan peluang untuk menurunkan kadar pirit. Penurunan kadar pirit juga dapat dilakukan melalui “Tanpa Olah Tanah” atau “Pengolahan Tanah Ringan”, sehingga pirit tidak terangkat ke permukaan, serta pemberian kapur dan pupuk kandang.

Budidaya Jenuh Air dan Penerapannya di Lahan Pasang Surut

Penelitian teknologi budidaya jenuh air telah dilakukan penulis sejak tahun 1990 dengan sumber dana dari Penelitian lahanpasangsurut3Dosen Muda, Penelitian Dasar, Hibah Bersaing, Aplied Reseach Management Project (ARMP), dan pada tahun 2009 saat ini dapat dana dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi untuk diterapkan di lahan pasang surut di Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan.

Budidaya jenuh air merupakan penanaman dengan memberikan irigasi terus-menerus dan membuat tinggi  muka air tetap. Air diberikan sejak tanaman berumur 14 hari sampai polong berwarna coklat. Tinggi muka air tetap akan lahanpasangsurut4menghilangkan pengaruh negatif dari kelebihan air pada pertumbuhan tanaman, karena kedelai akan beraklimatisasi dan selanjutnya tanaman memperbaiki pertumbuhannya. Tinggi muka air yang tepat di lahan pasang surut 15 cm di bawah permukaan tanah, dengan lebar saluran 30 cm dan dalam saluran 25 cm. Saluran air dipersiapkan pada setiap lebar bedengan 2 m. Adanya air pasang di lahan pasang surut dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan budidaya jenuh air. Pada saat pasang besar air akan semakin mudah masuk ke petakan melalui parit (saluran) yang telah dipersiapkan, sedangkan jika pasang agak kecil dapat didorong sedikit  dengan bantuan pompa air.

Penerapan Budidaya Jenuh Air (BJA) dapat dilakukan pada areal penanaman dengan irigasi cukup baik maupun pada areal dengan drainase kurang baik seperti lahan pasang surut. Di beberapa tempat, budidaya jenuh air dapat memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan produksi dibandingkan budidaya kering.

Pada saat penelitian dilakukan di lahan pasang surut, kedelai ditanam dengan jarak tanam 25 cm x 20 cm, 2 biji/ lubang (400 000 tanaman/ ha) dengan dosis pemupukan 2 ton kapur/ ha, 2.5 ton pupuk kandang/ ha, 200 kg SP 36/ ha, dan 100 kg KCl/ ha, dan diberi inokulum Rhizobium sp sebanyak 5 g/ kg benih. Hasil pengujian varietas kedelai tabel2akarpada budidaya jenuh air di lahan pasang surut menunjukkan bahwa varietas yang memberikan hasil tertinggi adalah Tanggamus, kemudian Slamet, Anjasmoro, dan terendah adalah Wilis. Tanggamus dapat mencapai hasil sebanyak 4,51 ton biji kering/ ha, karena mempunyai jumlah polong isi terbanyak, meskipun mempunyai bobot 100 biji hanya 10 gram. Oleh karena itu Tanggamus merupakan varietas terpilih yang akan dikembangkan selanjutnya pada teknologi budidaya jenuh air di lahan pasang surut.

Pengelolaan Lahan Pasang Surut dengan Sistem Budidaya Jenuh Air

Jika menggunakan Varietas Tanggamus yang memberikan hasil 4,5 ton/ ha pada skala penelitian, maka jika dikembangkan dengan skala usaha besar biasanya mengalami transfer teknologi dengan kehilangan hasil sekitar 40%, sehingga produktivitas kedelai tercapai 2,7 ton/ ha. Untuk memenuhi kebutuhan nasional sebesar 2,4 juta ton dengan kemampuan produksi sebesar 0,7 juta ton, maka masih perlu menambah produksi sebesar 1,7 juta ton. Oleh karena itu jika ingin diusahakan di lahan pasang surut dengan produkivitas 2,7 ton/ ha perlu area seluas 630.000 ha dengan teknologi budidaya jenuh air.

Perlu dibentuk kawasan budidaya jenuh air agar dapat dikelola secara terpadu dan tepat. Dalam pengelolaannya perlu diperhatikan beberapa hal. Tanam serempak dalam bentuk kawasan budidaya jenuh air, agar hama dan penyakit dapat ditekan terutama hama tikus. Penanaman dilakukan pada tipe luasan B dan C yang airnya tersedia tetapi tidak terkena luapan banjir. Pola tanam perlu  diperhatikan agar kedelai ditanam pada bulan Februari sampai Juli di lahan pasang surut agar air tersedia tapi salinitas belum tinggi. kedelaiPerlu perbaikan tata air makro dan mikro. Perlu disediakan sarana poduksi  kapur, pupuk P, K, dan Inokulant dengan harga yang terjangkau bagi petani di lapangan. Perlu diajarkan  cara penyimpanan benih kedelai sederhana di lapangan agar petani mampu mandiri dalam penyediaan benih. Perlu difasilitasi agar kedelai dapat dipasarkan, karena yang terjadi di lapangan sudah terbentuk jaringan pemasaranan kedelai impor, sehingga meskipun kedelai lokal mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan impor masih dibeli oleh pengarajin dengan harga lebih murah karena peng­rajin sudah tergantung dengan pemasok kedelai impor melalui penyediaan dana pinjaman sebelumnya. (**)

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

4 tanggapan untuk artikel “Kedelai Ditanam dengan Sistem Budidaya Jenuh Air”

  1. avatar

    taufiq menulis pada Senin, 11 Januari 2010, 14:05

    dari data hasil pengujian varietas, Tanggamus dapat menghasilkan 4,5 t/ha.. bagaimana cara menghitungnya. rasanya tidak mungkin ……

  2. avatar

    M.Rizki menulis pada Rabu, 24 Februari 2010, 19:29

    menurut saya penelitian ini sangat menarik untuk diuji cobakan pada daerah lahan pasang surut lainnya

  3. avatar

    agus joko santoso menulis pada Senin, 25 Oktober 2010, 20:34

    semoga penelitian ini bermanfaat dan dapat segera direalisasikan untuk para petani agar ketergantungan impor kedelai kita menurun…

  4. avatar

    Sahuri menulis pada Senin, 21 Maret 2011, 8:01

    Produksi kedelai tinggi di Lahan Pasang Surut sudah terbukti 2 Periode penelitian tahun 2009 dan 2010 Poyek Ristek di tingkat penelitian maupun petani. Hal ini karena di lahan pasang surut tersedia air dan kondisi suhu yang tinggi. Jika kondisi air tersebut ditata secara tepat dengan ketinggian muka air tertentu pada saluran bedengan ditambah agro input yang tepat dan kondisi radiasi yang tinggi, maka proses pertumbuhan akan cepat, pembentukan bunga dan buah akan banyak. Saya berharap dinas pertanian setempat maupun pusat merespon dan merealisasikan penelitain ini untuk swasembada kedelai di lahan pasang surut.

Tulis Komentar Anda