Sunday, 20 May 2012
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian

Bakal Jadi Sahabat Andalan Nelayan

Rabu, 16 Desember 2009, 0:51

“Kapasitas produksi yang dihasilkan sangat efektif untuk membantu nelayan mengolah hasil tangkapan sampingan menjadi hasil ikan yang memiliki nilai jual tinggi. Berbagai keunggulan Suritech, membuatnya diminati oleh berbagai kalangan dari luar negeri

bakaljadisahabat11Indonesia memiliki hasil tangkapan ikan yang melimpah. Hasil tangkapan ikan ini kelak terbagi menjadi hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan. Hasil tangkapan utama biasanya menjadi komoditas ekspor yang memiliki nilai jual tinggi. Sedangkan untuk ikan hasil tangkapan sampingan atau by-catch biasanya memiliki nilai jual yang rendah. Jenis-jenis ikan hasil tangkapan sampingan seperti kurisi, blambangan dan berbagai jenis ikan kecil lainnya hanya diolah menjadi ikan asin, pakan ternak, bahkan dibuang sebagai limbah saja. Dalam setahun hasil tangkap­an sampingan ini mencapai lebih ribuan ton di perairan Indonesia.

Hal inilah yang menjadi keprihatinan dari Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, M. Sc., Kepala Bagian Teknologi Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. “Hasil tangkapan sampingan di Indonesia sangat melimpah. Sayang, ikan-ikan yang tidak memiliki nilai jual tinggi ini, terkadang dibuang begitu saja sebagai limbah. Adapun pemanfaatan yang dilakukan hanya sebatas pengolahan tradisional. Ikan hanya dijadikan ikan asin atau pakan ternak,” ungkap Ari Purba­yanto menya­yangkan. Ari juga menambahkan, bila ikan-ikan ini diolah dengan benar, dijadikan surimi misalnya, maka nilai jual ikan tangkapan sampingan ini pasti tinggi. Harga yang tinggi ini otomatis meningkatkan pendapatan nelayan.

Atas pemikiran di atas, Ari Purba­yanto bersama timnya di Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB membuat terobosan baru. Terobosan ini berupa pembuatan sebuah mesin yang mampu mengolah ikan-ikan hasil tangkapan sampingan. Ikan-ikan ini dipisahkan dagingnya dari tulang dan kelak diolah menjadi surimi. Surimi adalah produk daging ikan lumat yang telah dicuci de­ngan air dan dicampur dengan krioprotektan untuk penyimpanan beku. Protein larut air (protein sarkoplasma), enzim, darah, komponen logam, dan lemak akan dikeluar­kan selama proses pencucian. Sehingga, daging ikan giling yang telah dicuci akan mengandung sejumlah besar protein serat yang larut garam (protein miofibrilar). Konsistensi surimi mirip dengan bubur kentang. Myosin dan aktin merupakan komponen utama dari protein ikan yang larut garam (protein miofibrilar) dan berperan penting dalam membentuk karakteristik utama surimi, yaitu kemampuan untuk membentuk gel yang kokoh tetapi elastis pada suhu yang relatif rendah (sekitar 40 derajat Celcius).

bakaljadisahabat32

“Mesin ini kami namakan Suritech, kependekan dari Surimi Technology,” tegas Ari dengan bangga. Mesin yang memiliki nama awal Fish Meat-Bone Separator ini pertama kali dibuat sekitar tahun 2004-2005. “Kami mengujicobakan mesin ini pertama kali atas Studi Hasil Tangkap Sampingan yang dilakukan di laut Arafuru, Papua,” ungkap Mochamad Riyanto, M. Si,

bakaljadisahabat23

bagian Teknologi Penangkapan Ikan IPB sebagai salah seorang periset Suritech.  Di perairan Arafuru ini, nelayan mengambil hasil laut berupa udang dengan menggunakan pukat udang. Namun, tak sedikit ikan-ikan lainnya terjaring. “Jumlahnya sangat banyak hanya dalam sekali tangkap saja,” imbuh Riyanto. Riyanto menambahkan, hasil tangkapan sampingan ini, oleh nelayan, hanya dibuang kembali kelautan sebagai limbah saja.

Dengan mesin Suritech yang diujicobakan ini, ikan-ikan diolah menjadi surimi. Hasilnya sangat mencengangkan, daging ikan yang dipisahkan memiliki kualitas yang sangat tinggi dan tingkat hasil peng­olahan yang efektif. Atas keberhasilan ujicoba ini, tim yang dipimpin oleh Ari Purbayanto semakin serius menyempurnakan mesin pemisah daging ikan ini.

bakaljadisahabat41“Saat ini Suritech sudah memasuki generasi ke-6,” cetus Riyanto. Berbagai macam perbaikan terus dilakukan untuk menyempunakan mesin ini. Suritech memiliki spesifikasi yang kompak de­ngan kualifikasi kapasitas pengumpanan bahan baku (input) ikan berkisar 80 kg per jam, efisiensi pemisahan ikan mencapai 94,18% dengan susut hasil sebesar 3,40%, konsumsi daya listrik yang dipakai sangat kecil yaitu 0,84 kwh, dan tingkat kebisingan mesin selama beroperasi sebesar 71,08 dB.

“Memang ada mesin yang juga meng­olah ikan menjadi surimi, namun mesin ini merupakan mesin impor dari luar negeri,” imbuh Riyanto. Menurutnya, Suritech memiliki berbagai keunggulan yang tidak dimiliki oleh mesin impor seperti Suritech menggunakan teknologi sederhana yang tepat guna bagi nelayan, usaha kecil dan menengah, hingga ke industri peng­olahan ikan. Suritech memiliki bentuk yang dinamis dan portable, kelebihan ini membuat Suritech siap menjadi sahabat nelayan baik di darat maupun di atas kapal di lautan lepas. Suritech sangat mudah dioperasikan, mesin ini juga tidak harus menggunakan jasa montir khusus untuk perbaikan. Suku cadang untuk mesin ini mudah didapatkan, karena menggunakan produk lokal. “Yang terpenting, Suritech dilepas dengan harga yang sangat murah, dibanding mesin impor. Kisaran harga yang ditawarkan sekitar Rp 22 juta - 27,5 juta per unit,” tegas Riyanto.

Di bawah kepemimpinan Beni Pramono, sebagai Kepala Produksi dan Pemasaran, Suritech ditargetkan bisa diproduksi sekitar 100 unit dalam setahun. “Saat ini Suritech yang sudah dipasarkan mecapai 38 unit yang tersebar di berbagai provinsi seperti Nangroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, Jawa Tengah,  Maluku, Kalimantan, Papua, dan berbagai provinsi lainnya. Suritech juga sudah dilirik oleh berbagai ne­gara di dunia di antaranya Amerika, Peru, Thailand, dan India. “Me­reka tertarik untuk mengenalkan Suritech di negara me­reka,” ucap Ari Purbayanto.

Saat ini, ungkap Ari, sudah banyak pihak yang tertarik untuk memproduksi secara masal mesin ini. Namun, ia tidak gegabah untuk menyetujuinya. “Saya berpegang teguh terhadap filosofi awal menciptakan Suritech. Kami ingin, dengan mesin ini, masyarakat nelayan yang ada di pesisir dapat terangkat taraf hidupnya.” Bila dilakukan produksi dengan menggandeng pebisnis, mesin ini ditakutkan memiliki harga jual yang tinggi. Namun, ia tidak menutup kemungkinan untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang memiliki visi dan misi yang sama. (Iwa)

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

Tulis Komentar Anda