Tuesday, 22 May 2012
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian
Rektor IPB, Prof. DR. Ir. Herry Suhardiyanto, M. Sc.

Menyikapi Permasalahan Pertanian di Indonesia

Penulis:
Selasa, 1 September 2009, 16:48

rektor-rev2Perlu kebijakan pemerintah yang mendukung sektor pertanian.

INDONESIA adalah negara kepulauan dengan lahan pertanian yang begitu luas. Makanya, Indonesia dijuluki sebagai negara agraris. Namun siapa sangka, di negara agraris ini, masalah pertanian begitu pelik dan seakan tidak memiliki jawaban pasti untuk menyelesaikannya. Untuk membahas permasalahan ini, Majalah Bangkit Tani, mewawancarai narasumber yaitu Rektor IPB, Prof. DR. Ir. Herry Suhardiyanto, M. Sc.

Apa pendapat Bapak tentang sarjana pertanian yang tidak setia profesi? Bagaimana langkah-langkah antisipasinya?
Saya harap, Sarjana Pertanian yang tidak bekerja di bidangnya tetap memperhatikan dunia pertanian. Misalnya, membangun wacana yang baik tentang pertanian jika bekerja di bidang media massa, berusaha menciptakan sebuah sistem ekonomi pertanian yang mendukung jika bekerja di sektor perbankan, dan lain sebagainya. Langkah antisipatif yang kami lakukan dengan menyediakan program bantuan modal usaha di bawah naungan Carrier Development Agency (CDA). IPB menyediakan sekitar Rp 2 miliar untuk proposal bisnis yang dianggap layak. Pertanian harus mendapat porsi perhatian yang sesuai untuk meningkatkan minat profesi pertanian. Bangun semangat juang untuk meningkatkan kecintaan terhadap produk nasional, terutama produk pertanian.

Sejauh mana upaya IPB meningkatkan peminat calon mahasiswa masuk ke Program Studi Pertanian, khususnya IPB?
Memang ada penurunan minat terhadap Fakultas Pertanian di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Alhamdulillah di IPB sendiri, penurunan minat tidak terlalu mengkhawatirkan. Peluang bidang pertanian sendiri cukup besar dalam menyumbangkan peningkatan kesejahteraan rakyat. Namun, saat ini seolah ada gap antara peluang dan potensi. Oleh karena itu IPB mencoba menjembatani gap tersebut dengan mengadakan Ujian Talenta Mandiri (UTM). Ini merupakan salah satu program jalur masuk IPB terbaru dengan proporsi penerimaan mahasiswa sekitar 10%.

Setujukah Bapak, jika porsi kewirausahaan dalam kurikulum di IPB ditambah dan langsung dibimbing oleh praktisi?
Tentu, saya setuju. Sebuah bangsa akan maju jika memiliki pengusaha 2% dari total penduduk. Jika ada 230 juta penduduk Indonesia, dibutuhkan 4,6 juta pengusaha. Saat ini Indonesia memiliki tidak lebih dari 1% pengusaha, sebuah angka yang masih jauh dari yang dibutuhkan.

Bagaimana Bapak memandang prospek pertanian Indonesia ke depan?
Dunia pertanian adalah dunia yang khas. Pertanian adalah sebuah keniscayaan bagi Indonesia. Pertanian dengan dimensinya yang luas seperti dimensi ketersediaan pangan, tenaga kerja dan lingkungan yang lebih ramah seperti keseimbangan ekologi dan ekowisata, menjadi sangat krusial bagi negara ini. Indonesia yang kaya sumberdaya dari Sabang sampai Merauke, memerlukan sebuah gerakan media pencitraan yang masif untuk meningkatkan minat di bidang pertanian.

Apa yang harus dilakukan agar pertanian Indonesia siap bersaing dengan negara lain di era perdagangan bebas?
Menurut saya, persaingan memang penting untuk memacu kinerja dalam rangka peningkatan mutu dan produktivitas, efisiensi kerja, penekanan biaya produksi serta peningkatan daya saing. Tetapi semua efek positif dalam persaingan tersebut memerlukan sebuah medan datar (persaingan yang seimbang, red). Oleh sebab itu, diperlukan upaya-upaya terpadu utuk mendukung kesiapan seluruh sektor pertanian Indonesia agar dapat bersaing dengan sehat dalam era perdagangan bebas. Namun, jika kita memang belum siap, jangan ragu-ragu untuk meminta dispensasi dari negara lain. Seiring dengan hal tersebut, harus ada supporting system pada petani, untuk dapat mengikuti era perkembangan yang terjadi di dunia luar.

Saat ini sektor pertanian digembar-gemborkan, oleh wakil rakyat, sebagai motor penggerak pembangunan Indonesia. Dengan segala aspeknya, yakni sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang banyak terberdayakan pada sektor pertanian, dan lain sebagainya. Namun, mengapa sejauh ini belum sesuai dengan realitanya?
Kita harus memahami bahwa mereka sudah berbicara di depan rakyat. Mereka sudah mengutarakan janji-janjinya. Dan itu semua merupakan buah pikiran para petinggi partai. Saya yakin, mereka berusaha untuk memegang komitmen dan kita selalu mengontrol agar program-program Pemerintah dan DPR berpihak pada petani. Pembangunan pertanian harus diarahkan pada pembangunan yang berkeadilan, berkedaulatan (berbasis pada kemampuan kita sendiri dalam menghasilkan produk sehingga mampu berdaya saing), dan berkelanjutan (karena kita harus mewariskan sistem untuk generasi mendatang).

Kemana seharusnya arah kebijakan pemerintah untuk memajukan sektor pertanian?
Kebijakan pemerintah dirasa sudah cukup baik. Ada tiga strategi yang sangat penting yang harus dilakukan pemerintah:

  • Affirmative action; yaitu keberpihakan pada pertanian.
  • Integrasi hulu–hilir; mulai dari kegiatan penghasil sarana produksi pertanian, kegiatan on farm, off farm, dan distribusi produk dilakukan secara terpadu.
  • Fokus; APBN dan sumberdaya kita terbatas. Oleh sebab itu, kebijakan harus diarahkan pada bidang dan komoditi yang tepat.

Apa kesan Bapak Rektor untuk Majalah Bangkit Tani?
Saya harap, Majalah Bangkit Tani menjadi media yang dapat menularkan semangat cinta pertanian dan motivasi untuk berwirausaha di bidang pertanian. (*)

Presiden Mahasiswa IPB sekaligus Koordinator Pusat BEM SI
(Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia)

Suranto Wahyu Widodo.

DI mata mahasiswa, pertanian adalah surga yang masih terpendam. Dengan berbagai potensi yang dimiliki Indonesia, pertanian ke depan akan maju bila Sarjana Pertanian bisa bekerja di bidangnya. Berikut wawancara yang dilakukan oleh Majalah Bangkit Tani dengan Pre¬siden Mahasiswa IPB sekaligus Koordinator Pusat BEM SI, Suranto Wahyu Widodo.

Apa penyebab menurunnya minat bekerja di pertanian?
Menurunnya minat pertanian saat ini akibat dari pencitraan pertanian yang masih “jongkok”. Pertanian saat ini dianggap kurang menguntungkan untuk dijadikan mata pencaharian.

IPB memiliki program-program yang mendorong kualitas mahasiswa. Menurut Anda, bagaimana kesela¬rasan program tersebut dengan harapan BEM?
Kurikulum IPB memberikan bekal mahasiswa agar dapat bertahan di segala bidang profesi. Secara tidak langsung hal ini menyebabkan lemahnya idealisme pertanian. Namun, sejauh ini program-program IPB yang bertujuan untuk menumbuhkan jiwa kepedulian terhadap pertanian seperti Go Field, Kuliah Kerja Profesi, dan program pengembangan kewirausahaan pertanian sudah baik.

Sebagai seorang mahasiswa pertanian, apa pandangan Anda terhadap prospek pertanian saat ini dan di masa depan?
Selama manusia masih membutuhkan pangan, sandang, dan papan, maka pertanian masih prospektif. Saya pribadi, siap menjadi agropreneur dengan mengolah SDA dan SDM secara kreatif dengan sentuhan teknologi tepat guna.

Sebagai seorang koordinator pusat BEM SI, dalam tataran nasional, bagaimana gerakan mahasiswa saat ini dapat berkontribusi dalam pembangunan pertanian?
BEM SI menyadari betul pentingnya peran pertanian dalam pembangunan bangsa. Sebagai bukti konkret kepedulian kami, BEM SI menyertakan pentingnya perwujudan kedaulatan pangan dan energi dalam Tujuh Gugatan Rakyat (Tugu Rakyat) yang kami perjuangkan selama setahun terakhir.

Pesan anda untuk Majalah Bangkit Tani?
Saya berharap Majalah Bangkit Tani membawa angin segar bagi citra pertanian Indonesia sebagai usaha menuju kebangkitan baru dunia pertanian. Semoga, Bangkit Tani dapat mengubah wacana yang sempit terkait dunia pertanian. Dapat menjembatani aspirasi masyarakat kepada pemerintah, dan menjadi sarana check and balance kebijakan-kebijakan strategis pertanian. (Lisma Safitri | 085710769701)

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

16 tanggapan untuk artikel “Menyikapi Permasalahan Pertanian di Indonesia”

  1. avatar

    aidil rahmatullah menulis pada Selasa, 20 Oktober 2009, 20:32

    makasih

  2. avatar

    zain menulis pada Jumat, 13 November 2009, 10:32

    . Bagaimana pandangan anda tentang prospek pertanian di masa mendatang?

  3. avatar

    Doni Gunawan menulis pada Rabu, 6 Januari 2010, 23:32

    Pendapat pendapat dan masukan masukan itu kiranya bisa didengar oleh wakil wakil Rakyat kita.
    Kita ini perlu sebenarnya harus malu lha wong disebut Negara Agraris yang dulunya Gemah Ripah loh Jinawi koq sekarang ini hampir semua bahan pertanian kita impor ???cobalah kita bersatu padu untuk serius mengevaluasi, mengkoreksi sistim sistim pertanian kita yang salah. - jangan cuma janji janji tetapi tidak ada realisasi malah mengkorup sana sini dan ini itu ..Kalau permainan permainan kotor itu bisa dihentikan dan orang orang kita yang piawai dalam bidang pertanian mau benar benar berkerja dengan hati bahu membahu dengan masyarakat tani , kami yakin pertanian Negara ini bisa berjaya kembali…… semoga ……

  4. avatar

    mirza aprilia menulis pada Senin, 21 Juni 2010, 7:37

    bagimana cara kita memberikan informasi khususnya kepada para petani karena menurut saya kadang dengan adanya pengetahuan baru tentang sistem pertanian yang didapat oleh mahasiwa sulit untuk diaspirasikan langsung kepada masyarakat.

  5. avatar

    jabon menulis pada Senin, 2 Agustus 2010, 12:10

    by jabon
    saya suka dengan pertanian karena pertanian adaah mata pencarianku saat ini

    salam kenal dari saya jabon

  6. avatar

    tuti apriyanti menulis pada Kamis, 5 Agustus 2010, 8:41

    walaupun saya kuliah di IPB, tapi aroma pertaniannya kurang terasa. hal ini terlihat dari lulusan IPB banyak yang bekerja di sektor non pertanian.

  7. avatar

    abdee menulis pada Rabu, 1 September 2010, 11:51

    saya bangga jadi mahasiswa pertanian, karena saya yakin sumber kehidupan Indonesia bahkan dunia berada dalam sektor pertanian. bayangkan kalau tidak ada pertanian? ketahanan pangan pasti tidak dapat terjamin keberlangsungannya. maka dari itu, mari kita ubah perspektif buruk tentang pertanian. pertanian itu bisa dijadikan mata pencaharian yang sangat menjanjikan mengingat keberadaannya yang sangat penting. “kulaih sambil ibadah” itulah motto kebanyakan mahasiswa pertanian, karena mereka berusaha pengentaskan kelaparan, kemiskinan dan selalu berusaha sekuat tenaga membela kaum tani dari kebijakan pemerintanh yang merugikan petani dan negara.
    by: student of agricultural engineering

  8. avatar

    baihaki menulis pada Minggu, 10 Oktober 2010, 15:04

    menurut anda apakah sekolah pertanian pembangunan ( SPP-SPMA ) itu juga berperan aktif dalam pembangunan pertanian di indonesia.

  9. avatar

    siti faizah amalia menulis pada Senin, 29 November 2010, 10:03

    bagaimana pandangan anda menyikapi masalah pertanian indonesia yang kian hari kian ditinggalkan oleh generasi muda, dan pemerintah kita sendiri pun jauh lebih heboh dengan hal-hal yang berkaitan dengan industri dan bisnis tetapi membelangkangkan masalah pertanian?

  10. avatar

    bina manaseh sianipar menulis pada Senin, 29 November 2010, 15:19

    saatnya mahasiswa pertanian mengembalikan citra Indonesia sebagai negara agraris dengan mendedikasikan ilmu pertanian yang dimiliki untuk kemajuan pertanian demi tercapainya kesejahteraan bangsa…

  11. avatar

    subhi huzaifi menulis pada Selasa, 30 November 2010, 1:12

    perlu ada sosialisai bung
    pengiklanan tentang bagusnya pertanian lebih di banyakin lagi

  12. avatar

    Poetri Agustine menulis pada Selasa, 30 November 2010, 13:14

    Melihat keadaan Indonesia sekarang.. Apakah Indonesia masih bisa disebut negara Agraris ??,,,

    http://poetria09.student.ipb.ac.id

  13. avatar

    ferita wijayani menulis pada Senin, 20 Desember 2010, 15:37

    dan kalaupun persediaan produk pertanian kita masih kurang, misalnya persediaan beras. kita sebagai seorang mahasiswa pertanian, cobalah mencari cara alternatif untuk menyikapinya. contohnya dengan mengganti beras dengan bahan pokok lainnya, seperti singkong, jagung, dan makanan lainnya yang mengandung karbohidrat, Jangan hanya mengimpor ke luar negeri.

  14. avatar

    Agen pupuk organik menulis pada Sabtu, 25 Desember 2010, 7:12

    Salam Prof… bagaimana menurut anda peran pupuk organik di indonesia? apakah mampu memperbaiki hasil pertanian indonesia? trims, seoga tmbh berjaya

  15. avatar

    Nixon menulis pada Selasa, 28 Desember 2010, 21:51

    Berbicara TTG pertanian,sudah sepatutnya para petani di Indonesia utk maju Dan menjadi kaya, perbankan seharusnya membrikan pinjaman lunar bagi para petani Dan pemerintah memberikan dukungan penuh.sy seorang karyawan disalah satu perusahaan asing di bidang minyak Dan gas tetapi say a juga sedang menjadi petani tambak udang.

  16. avatar

    imam habibi elhaq menulis pada Rabu, 19 Januari 2011, 18:15

    Saya suka dan tertarik dengan pertanian. Hal ini karena setiap manusia di bumi mendapatkan energi untuk mlakukan aktivitas dari produk pertanian, kita makan nasi, jagung, daging, telur (bukan besi atau timah) yang semuanya adalah produk pertanian. Sayangnya menurut Saya, perhatian pemerintah dalam sektor pertanian di Indonesia masih kurang. Masalah pertanian tidak bisa dilihat hanya dari aspek peningkatan produktivitas, namun juga dari aspek lahan. Makin banyak terjadi konversi lahan pertanian terutama untuk perumahan dan pusat perbelanjaan (misalnya di bekasi). Intensifikasi saja tidaklah cukup, harus ditunjang dengan ekstensifikasi. Apakah tidak ada kebijakan dari pemerintah untuk melndungi lahan pertanian? misalnya saja kebijakan lahan pertanian abadi dan larangan fragmentasi lahan pertanian?

Tulis Komentar Anda