Bukan hanya menjual bibit unggul, Slamet menerapkan sistem servis penjaulan yang baik terhadap pelanggan.
Hal inilah yang menjadikan usaha penjualan bibit unggulnya maju pesat.

Berawal dari pengalaman kerja di Trubus sejak tahun 1993 hingga 1998, Slamet Riyanto memulai usaha pembibitan tanaman unggul untuk dijual kembali ke konsumen. Tahun 1998 hingga tahun 2000 awal, Slamet hanya menjadi pengangguran. Di masa-masa itu menjadi masa kelam yang benar-benar tidak bisa dilupakan. Memanfaatkan pangsa pasar dari Trubus yang menjual bibit-bibit tanaman untuk kelas menengah hingga atas karena bibit yang dihasilkan sangat berkualitas, Slamet mencoba untuk memasarkan bibit yang dibelinya dari Trubus untuk pangsa pasar kelas menengah ke bawah dan memasarkan di daerah Jawa Tengah, khususnya Boyolali dan sekitarnya, serta untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari bibit yang dihasilkan dari budidaya hingga pascapanen dan pengolahan.
Tahun 1983, tepatnya, di daerah Semarang setiap desa memiliki program yang menganjurkan setiap warga memiliki minimal 5 pohon rambutan, hal tersebut semakin meyakinkan Slamet untuk memulai bisnis penjualan bibit tanaman unggul. Awalnya, Slamet hanya memiliki bibit tanaman yang banyak dicari dan diminati orang seperti rambutan, mangga, lengkeng, dan salak tetapi setelah permintaan yang cukup banyak dan perkembangan pasar dari Jateng hingga ke Jatim maka jenis-jenis bibit yang dimilikinya ditambah menjadi 90 jenis tanaman dari golongan buah-buahan, sayur-sayuran, dan jenis kayu-kayu seperti jati dan sengon. Bibit yang dijual Slamet, dengan bendera UD. Marta Tani, diambil dari Trubus dan Majalengka dengan sistem kredit sehingga memudahkan bagi Slamet untuk menjalankan usahanya karena kemudahaan dari penangkar bibit unggul.
UD. Marta Tani saat ini sedang mengembangkan bibit durian montong dan jambu getas merah (600 batang). Selain menyediakan bibit, banyak fasilitas yang disediakan UD. Marta Tani serta garansi juga disediakan oleh Slamet selaku pemilik UD. Marta Tani. Penanaman bibit hingga perawatan juga menjadi sarana bagi Slamet untuk menarik minat pembeli dengan biaya yang cukup ringan untuk servis penanaman. Slamet juga memberikan garansi apabila terdapat kerusakan dan kegagalan tanam akibat kesalahan penanaman dan perawatan yang dilakukan oleh pegawai UD. Marta Tani, serta setiap ada pembeli maka Slamet juga memberikan sedikit penyuluhan sehingga nantinya tidak mengalami kegagalan.
Tingkat konsumsi untuk jenis tanaman di Jawa Tengah paling banyak diminati yaitu jenis buah-buahan seperti rambutan, mangga, salak, durian montong, serta untuk penghijauan seperti sengon dan jati. Untuk harga, menurut Slamet, ditempatnya cukup mahal tetapi bibit yang dijualnya dijamin sangat berkualitas dan bergaransi serta fasilitas yang diberikan juga sangat lengkap dan terjamin. Banyak kendala yang sering dialami oleh Slamet di antaranya faktor musim, apabila musim kemarau tergolong sangat sepi. Sedangkan musim hujan merupakan lahan untuk mencari keuntungan penjualan bibit tanaman unggul. Kegiatan usaha pembibitan merupakan suatu usaha yang benar-benar lepas dan tidak ada campur tangan dari pemerintah, sehingga menurut Slamet perhatian yang diberikan pemerintah terhadap kaum pengusaha bibit tidak ada sama sekali bahkan untuk proyek-proyek penanaman kebanyakan dikuasai oleh kaum-kaum berduit yang tidak pernah mengenal cara-cara bercocok tanam.
Awalnya untuk pemasaran Slamet mengalami kesulitan sehingga harus “jemput bola” istilah bagi Slamet dengan mendatangi langsung petani buah-buahan, sayuran, dan kayu tetapi setelah konsumen merasakan kualitas bibit yang dijual merupakan kualitas unggul serta fasilitas dari UD. Marta Tani sangat memudahkan petani sehingga saat ini Slamet tidak lagi mendatangi langsung petani, tetapi petani yang mendatangi Slamet bahkan lebih banyak via telpon untuk pemesanan bibit. “Kesuksesan yang saya dapatkan tidak begitu saja terjadi tetapi penuh dengan usaha dan kerja keras, bahkan, sampai saat ini masih teringat betapa susahnya dulu saat membangun usaha penjualan bibit,” tutur Slamet kepada Majalah Bangkit Tani.
UD. Marta Tani saat ini memiliki 4 orang pegawai untuk pupuk organik dan 2 orang untuk pembibitan serta 10 tenaga order untuk penanaman dan perawatan terhadap konsumen atau pembeli. Harapan Slamet pemilik UD. Marta Tani yang bergerak dibidang penjualan bibit unggul adalah kerjasama dengan dinas pemerintahan agar dapat terjalin lancar dan tidak ada monopoli proyek sehingga pengusaha kecil juga mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan proyek dari pemerintah serta dalam peminjaman modal atau pengajuan modal karena menurut Slamet permodalan apabila diajukan untuk bidang pertanian lebih rumit dan bahkan susah untuk dicairkan. Slamet juga menyayangkan semakin banyaknya lahan aktif tanam yang diubah menjadi lahan tempat industri sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sektor pertanian karena banyak lahan yang alih fungsi. Semoga dengan hadirnya majalah Bangkit Tani dapat membantu petani dan pengusaha kecil bidang pertanian untuk mendapatkan informasi dan sebagai media sarana komunikasi antara petani dengan pemerintah, pengusaha, dan akademisi di bidang pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan. (Rizky S)
Analisa Usaha
1. Modal : lahan 5 tahun dengan
harga Rp 25 juta dengan luasan
1.000 m2
Operasional: mobil
dengan harga Rp 63 juta
Total : Rp 25 juta + Rp 63 juta =
Rp 88 juta
2. Operasional/bulan :
gaji karyawan per orang @
Rp 500.000 x 2 orang = Rp 1 juta.
Perawatan dan operasional :
Kurang lebih Rp 1,5 juta
Total pengeluaran per bulan
Rp 2,5 juta
3.Pembelian bibit rata-rata setiap
1,5 bulan sekali dengan biaya
setiap pembelian Rp 15 juta hingga
Rp 30 juta tergantung musim
atau pemesanan
Total : Modal Awal = Rp 88 juta
untuk peralatan dan lahan +
Pembelian bibit awal Rp 15 juta
= Rp 113 juta
4. Omset per bulan untuk musim
hujan Rp 25 juta kurang lebihnya
sedangkan untuk musim kemarau
Rp 10 hingga Rp 15 juta.
dhody menulis pada Sabtu, 3 Juli 2010, 11:33
Ironis , pakai racun u/ tingkatkan produksi padahal dari sisi hasil skr sdh turun krn tanah sdh tidak subur lg akibat racun yg ditinggalkan pupuk kimia.
bibit Jabon menulis pada Minggu, 4 Juli 2010, 10:46
menyediakan bibit apa saja? atau mungkin segala jenis bibit ada?