Tuesday, 22 May 2012
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian

Gemericik Bio Etanol di Kaki Gunung Salak

Senin, 16 November 2009, 4:32

Berangkat dari keprihatinan kelangkaan minyak tanah, Naldi mengembangkan Bio Etanol skala kecil. Kendati demikian, usaha itu telah mengangkat kesejahteraan dan desa tempatnya tinggal. Peluang besar pun sudah dibukanya untuk masa depan yang lebih baik.

bioetanol2Kabupaten Bogor kini tak hanya terkenal sebagai kota hujan, penghasil buah talas, Kebun Raya Bogor dan lainnya. Sejumlah orang mulai dari mahasiswa, peneliti bahkan pejabat tertarik berkunjung ke kota rimbun itu guna mempelajari pengelolaan Bio Etanol. Bahan bakar alternatif hasil penyulingan berbagai ragam hayati yang sudah banyak dikembangkan di berbagai negara maju di dunia.

Berlokasi di Kampung Kemang, Desa Sukaluyu dengan posisi di kaki Gunung Salak. Naldi selama hampir empat tahun belakangan ini mengembangkan dan memproduksi Bio Etanol. Padahal lelaki berusia 44 tahun itu tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus yang terkait dengan bahan bakar alternatif tadi.

Berangkat dari kelangkaan minyak tanah di sekitar tempat tinggalnya beberapa tahun lalu. Memotifasinya memulai pengembangan Bio Etanol dengan modal seadanya. Berbagai referensi mengenai proses produksi dikumpulkan hingga membuat mesin penyulingan.

“Saya prihatin melihat orang disekeliling saya termasuk keluarga sendiri antre minyak tanah. Tidak sengaja saya melihat informasi mengenai Bio Etanol yang dapat diproduksi sendiri untuk dijadikan bahan bakar alternatif selain minyak. Langsung saja saya mulai coba mengembangkan dengan modal seadanya,” ungkap Naldi awal mula pengembangan Bio Etanol.

Jatuh bangun mendera ketika proses awal pengembangan, mulai dari mencari bahan baku hinga menciptakan mesin suling yang tepat. Tak jarang pria rendah hati itu berguru ke sejumlah orang yang sudah lebih dahulu memproduksi Bio Etanol di berbagai wilayah Indonesia.

Memanfaatkan pekarangan seluas 12 x 6 meter di lahan rumah seluas hampir 8000 m2. Usaha tadi mulaibioetanol menunjukan sinar terang sejak tahun 2007. Bahan baku berupa singkong Apuy sudah dapat memenuhi kebutuhan produksinya dengan memberdayakan petani di sekitar tempat tinggalnya.

Begitu pula dengan mesin suling, dua buah mesin portable kini dengan rutin mampu menghasilkan 10 liter Bio Etanol per jam. Alat yang disebut siempunya sebagai tungku roket itu menjadi faktor penentu berhasil tidaknya mendapatkan cairan Bio Etanol.

“Banyak teman yang kesulitan dalam hal mesin suling, kendati formulanya sama. Tapi jika dalam proses penyulingannya tidak diperhatikan, etanol akan sulit dihasilkan. Untuk bisa menciptakan bioetanol3perlu banyak melihat dan mencoba,” ujar pria berpenampilan santai itu.

Meskipun mesin dan bahan baku sudah didapat, persoalan belumlah usai. Yakni soal pemasaran, memang Bio Etanol sudah banyak dibutuhkan di sejumlah bidang industri. Seperti farmasi dan automotif, namun guna memenuhi itu diperlukan modal tidak sedikit.

Sadar akan keterbatasan klasik di atas, Naldi pun baru bisa memasarkan Bio Etanolnya kepada pengrajin sandal di sekitar domisilinya. Tidak kurang dari 400 liter mampu diserap dengan harga jual mencapai Rp10.000 per liter. Dengan marjin keuntungan kotor mencapai sekitar 30 persen.

“Karena keterbatasan bahan baku, saya berharap bisa membuka lahan perkebunan singkong. Syukur-syukur lahan tidur milik pemerintah daerah yang ada di dekat rumah, bisa dimanfaatkan untuk itu. Jadi tidak perlu jauh membuka lahan di tempat orang, jika di sini pun sebenarnya ada,” harap Naldi menutup perbincangan dengan Bangkit Tani. (Azis)

bioetanol4PROFIL

Nama : Naldi

Alamat : Kampung Kemang, Desa Sukaluyu

Kab. Bogor – Jawa Barat

Telp. : 08561835605

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

Tulis Komentar Anda