Tuesday, 22 May 2012
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian

Butuh Mental Baja dalam Budidaya Ikan Gurame

Selasa, 1 September 2009, 16:59

ikanSemuaEMUA yang ada di alam raya ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan untuk kesejahteraan umat manusia. Tumbuhan, pepohonan, binatang, baik di darat maupun di dalam air hendaklah dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup manusia. Tentu saja pemanfaatan ini harus sesuai dengan fitrahnya. Tanpa ada keserakahan, menghalalkan berbagai cara, dan tetap menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhannya.

Kita meyakini, semua yang ada di bumi ini merupakan limpahan rahmat yang kemudian menjadi rezeki yang diberikan Tuhan pada manusia. Namun harap diingat, rezeki tidak datang dengan sendirinya. Dibutuhkan niat, kemauan, dan pengorbanan untuk meraih dan mendapatkannya. Mungkin dibutuhkan pengorbanan seperti materi, tenaga, dan waktu untuk meraih kesuksesan dalam menjalani suatu usaha untuk mendapatkan rezeki dari Tuhan. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar pada sosok petani ikan gurame yang berada
nun jauh dari kota. Ia masih konsisten hingga hari ini dalam menjalani usaha yang telah menghidupi keluarganya selama tiga puluh tahun lebih.

Pria yang biasa disapa Mang Ojang ini usianya sudah tidak muda lagi. Ia seakan membawa hidupnya untuk tenggelam dalam usaha budidaya ikan gurame. Pahit dan manis sudah dilewatinya selama berpuluh-puluh tahun. Buah dari kerja keras dan pengorbananya selama ini memang sudah dipetik. Ia bisa menikmati Gguramehidupnya saat ini hasil dari jerih payahnya dalam menjalani budidaya ikan gurame.

“Tidak mudah menjalani usaha budidaya gurame. Dibutuhkan kesabaran dan ketulusan.” Banyak halangan dalam membudidayakan ikan yang lumayan dikenal masayarakat ini. Biasanya ikan gurame mudah mati, mudah terserang penyakit, memiliki proses adaptasi yang lambat, dan tidak kuat terhadap penyakit. Petani ikan gurame harus memiliki mental baja jika ingin sukses. “Intinya, jangan cengeng menjalani usaha ini,” tegas Mang Ojang. Ketika berhasil, keuntungan yang bisa diraih sangatlah menggiurkan.
“Jika sedang untung, saya bisa mendapatkan keuntungan hingga tiga kali lipat dari modal yang saya keluarkan,” ujar Mang Ojang dengan bangga.

Saat ini, Mang Ojang memiliki 15 kolam ikan gurame dengan ukuran rata-rata per kolam 500m2. Setiap kolam diisi dengan bibit ikan seberat 5 kuintal ikan gurame. Harga bibit ikan gurame berkisar antara Rp 26.000 dengan ukuran satu kilogram sekitar 5-6 ekor. Dalam satu kolam, Mang Ojang membutuhkan modal bibit sebesar Rp 13 juta. Selain bibit, ia juga membutuhkan modal untuk pakan selama 6-7 bulan. Ikan gurame sampai dipanen membutuhkan pakan seberat 2 ton per kolam. Harga satu kilogram sejumlah Rp 4.000, Mang Ojang menghabiskan biaya untuk pakan sebesar Rp 8 juta. Untuk biaya tenaga, ia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 7 juta per kolam. Jumlah total modal yang dikeluarkan per kolam berkisar Rp 28 juta.

empangIkan-ikan tersebut akan dipanen dengan ukuran 2 ekor per kilogram dalam waktu 6 bulan. Bila bibit ikan yang ditebarkan sekitar 500kg dengan ukuran ikan 6 ekor per kilogram, maka akan dipanen ikan dengan jumlah 3.000 ekor dengan berat mencapai 1,5 ton. Ikan gurame tersebut ia jual dengan harga Rp 26.000. Dalam satu kolam ia akan mendapatkan penghasilan sebesar Rp 39 juta. Berarti, dalam sekali panen dalam satu kolam, Mang Ojang bisa mengantongi keuntungan bersih sebesar Rp 11 juta. Keuntungan yang fantastis, bukan! Selama ini, hasil panennya dipasarkan ke wilayah Bogor, Cianjur, dan Sukabumi.

Menurutnya, usaha budidaya ikan gurame tak selamanya mulus. Hampir setiap tahun ada masa paceklik karena ikan terserang hama dan penyakit. Namun, ia selalu memiliki jurus jitu dalam menangkal hama. “Saya selalu menggunakan taburan garam ke dalam air kolam agar ikan tidak terserang penyakit, terutama jamur. Jarak penaburannya sekitar 2 hari sekali,” ujarnya dengan santai.

Sesekali, Mang Ojang berkeluh kesah kepada Majalah Bangkit Tani. Selama berpuluh-puluh tahun ia menjalani usaha ini, namun tidak ada generasi baru yang terlihat mau meneruskan bertani ikan gurame. “Anak muda sekarang terlihat enggan bertani apalagi membudidayakan ikan gurame. Kami butuh regenerasi agar pasokan ikan tetap ada dari daerah kami dikemudian hari.” (**)

Mang Ojang
Gg. Slamet Desa Petir RT 01/01 Bogor
(0251) 8627582

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

5 tanggapan untuk artikel “Butuh Mental Baja dalam Budidaya Ikan Gurame”

  1. avatar

    iwin menulis pada Kamis, 24 Desember 2009, 22:45

    aku juga punya 13 kolam masing masing 500m insya alloh akuikuti jejakmu mang

  2. avatar

    Budiawan Hendiyana menulis pada Selasa, 29 Desember 2009, 16:41

    Kang ujang…kalo boleh tau itu pakai garam laut atau bukan?
    Mohon infonya kang….

  3. avatar

    sulistyo menulis pada Sabtu, 2 Januari 2010, 8:22

    pak ,untuk ukuran garamnya brp ya?per m3 air?
    tks

    sulistyo http://udwahyujati.blogspot.com

  4. avatar

    lili menulis pada Jumat, 29 Januari 2010, 13:56

    mang..
    sy ingin bk peternakan gurame
    langkah2 awal apa sj yg hrus dikerjakan krn sy buta sama sekali ttg hal ini
    dan hal2 apa sj yg perlu dihindari
    sekalian rugi / untung nya
    yg komplet ya mang..
    tks a lot

  5. avatar

    GOMOS NAINGGOLAN menulis pada Selasa, 18 Mei 2010, 8:33

    saya punya kolam terpal apakah bisa digunakan untuk beternak gurame???

Tulis Komentar Anda