Tuesday, 22 May 2012
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian

Menteri Baru, Harapan Baru

Rabu, 16 Desember 2009, 1:29

“Ibarat kapal, Departemen Pertanian punya nahkoda baru sejak 21 Oktober 2009.  Presiden RI, Susilo Bambang Yu­dhoyono, saat melantik Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, menetapkan Ir. Suswono, MMA menggantikan Dr. Ir. Anton Apriyantono, sebagai Menteri Pertanian masa bakti 2009 - 2014″

menteri1“Sebagai Menteri Pertanian, saya akan menjalankan jabatan ini secara profesional dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI,” kata Suswono kepada wartawan usai serah terima jabatan (Sertijab) dari Anton Apriyantono di Kantor Pusat Departemen Pertanian, Jakarta, sehari setelah dilantik.

Dalam pidatonya di acara Sertijab itu,  bibir mantan Ketua Komisi IV DPR RI ini langsung mengucapkan kalimat sanjungan kepada petani. “Para petani adalah pahlawan pangan. Kepada mereka perlu lebih diberikan apresiasi oleh pemerintah,” katanya.


Pada saat yang sama, Suswono juga prihatin akan nasib petani. Walaupun data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan nilai tukar petani (NTP) naik dari tahun ke tahun, namun dalam kenyataannya kesejahteraan dan kemakmuran me­reka masih jauh dari yang diharapkan.

Masalahnya adalah sempitnya pemilikan lahan petani, terutama petani pa­ngan khususnya di pulau Jawa. Menurut data BPS (2009) dari 17,8 juta Rumah Tangga (RT) petani pangan sebanyak 9,55 juta RT pemilikan lahannya di bawah 0,5 ha dan sebanyak 1,237 juta RT pemilikan lahannya di bawah 1.000 m2. Di antara mereka ada sekitar 7.687 RT petani yang tidak memiliki lahan.

menteri3

Menteri Pertanian, Suswono, me­ngatakan tidak mudah untuk meng­angkat kesejahteraan petani dengan kepemilikan lahan yang terbatas se­perti itu. “Tidak mungkin petani (pangan) dengan pemilikan 0,3 ha bisa kaya,” tuturnya.

Masalah kemiskinan inilah yang juga dipesankan mantan Menteri Pertanian Anton Apriyantono kepada Suswono. “Masih banyak tantangan yang harus dihadapi seperti besarnya tingkat kemiskinan, oleh karena itu kita dituntut untuk memberikan karya dan inovasi terbaik serta terus mengembangkan gagasan cerdas, cepat, tepat dan aman,” urai Anton yang akan kembali mengabdi menjadi staf pe­ngajar di Institut Pertanian Bogor.

Menurut Kepala Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Badan Litbang Pertanian Dr. Tahlim Sudaryanto sempitnya pemilikan lahan petani itu terjadi karena kenaikan jumlah penduduk yang masih tinggi, sementara itu pertambahan lahan areal pangan tidak terlihat nyata. “Bahkan cenderung stagnan,” kata Tahlim.

Berbeda halnya dengan di negara maju seperti di Amerika dan negara-negara Ero­pa. Di negeri tersebut malah terjadi sebaliknya jumlah petaninya berkurang dan pemilikan lahan per petani semakin luas. “Di Indonesia pun bisa terjadi konsolidasi lahan seperti ini ke depan,” katanya.menteri4

Konsolidasi lahan bisa terjadi bila sektor non pertanian, seperti sektor industri dan perdagangan, mampu menyerap tenaga kerja pertanian dengan upah yang jauh lebih memadai di banding pertanian. Sedangkan dalam jangka pendek yang bisa dilakukan pemerintah adalah meng­ajak petani untuk menerapkan inovasi teknologi dan rekayasa kelembagaan agar produktivitas dan efisiensi usaha tani meningkat. “Salah satunya dengan mene­rapkan mix farming,” kata Suswono.

Pertanian Industrial Unggul

Lalu apa visi pemabangunan pertanian yang ditetapkan Suswono? Ia mengatakan visinya adalah Pertanian Industrial Unggul Berkelanjutan yang Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Meningkatkan Kemandirian Pangan, Nilai Tambah, Ekspor dan Ke­sejahteraan Petani.

Ada empat sukses yang akan diraihnya dalam pembangunan pertanian kedepan. Pertama, swasembada pangan berkelanjutan. Kedua, tercapainya diversifikasi pangan. Ketiga, meningkatnya nilai tambah dan daya saing ekspor. Keempat, meningkatnya kesejahteraan petani.

Untuk swasembada pangan Suswono mengatakan saat ini telah dicapai swasembada untuk 2,5 komoditi, yakni swasembada beras (1), swasembada ja­gung (1) dan gula konsumsi (0,5). Dia mentargetkan hingga 2014 swasembada itu bisa dipertahankan dan ditambah capaian swasembada untuk 2,5 komoditi lagi, yakni swasembada daging sapi (1), kedelai (1) dan gula industri (0,5).

Suswono menjelaskan ada lima strategi yang akan dijalankan untuk mewujudkan visinya yakni membumikan pertanian industrial unggul. Pertama, menambah kewenangan yang lebih besar bagi Departemen Pertanian dalam menyelenggarakan pembinaan usaha agroindustri dan pemasaran hasil pertanian. Selama ini kebijakan agroindustri dan pemasaran hasil pertanian di pegang Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan. Dengan kewenangan yang lebih luas, maka Deptan bisa mengembangkan agroindustri dan pemasarannya yang lebih terintegrasi, efisien dan efektif.

Kedua, pengembangan kluster agro­industri perdesaan untuk komoditas stra­tegis yang memiliki daya saing tinggi guna meningkatkan ekspor dan memenuhi kebutuhan dalam negeri atau substitusi impor yang teringrasi dengan sentra-sentra produksi bahan baku dan penunjangnya.

Ketiga, memberikan insentif untuk mendorong investasi pengembangan agroindustri dalam negeri dengan mening­katkan daya saing di pasar internasional.

Keempat, mengintensifkan promosi, market intellegent dan kerjasama internasional untuk meningkatkan ekspor produk pertanian. Intensifikasi promosi akan dilakukan di negara-negara yang selama ini menjadi pasar produk pertanian Indonesia seperti Eropa, Amerika Serikat, India, China dan Jepang.

Kelima, mengembangkan kelembagaan petani dan melakukan capa­city building terhadap pengetahuan, kete­rampilan dan sarana prasarana yang dimi­liki. Termasuk mengubah paradigma pe­tani dari petani produsen menjadi petani pemasok dan pemasar. (**)

Data Pribadi Ir. H. Suswono, MMA

Tempat/ Tanggal Lahir :

Tegal, 20 April 1959

Pendidikan :

Sarjana Sosial Ekonomi Peternakan IPB (1984)

Magister Manajemen Agribisnis IPB (2004)

Doktor Manajemen Bisnis IPB (masih proses penyelesaian)

Pengalaman Kerja :

Dosen di IPB (1984-1987)

Kepala Biro Administrasi Umum Universitas Ibnu Khaldun Bogor (1987-1989)

Dosen di Universitas Ibnu Khaldun Bogor (1984-2004)

Sekretaris Lembaga Pelayanan pada Masyarakat Universitas Ibnu Khaldun Bogor (1985-1986)

Guru Madrasah Aliyah Negeri Bogor (1980-1983).

Tenaga Ahli Menteri Kehutanan dan Perkebunan (1999-2001)

Karier Politik :

Anggota DPR dari PKS (2004-2009)

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI (2005-2009)

Sekretaris Fraksi PKS MPR

Pengalaman Organisasi :

Wakil Sekjen PKS (2002-2007)

Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor (1982-1983)

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB

Penghargaan dan Karya Ilmiah :

PKS Award sebagai 100 tokoh muda Nasional (2008)

Buku “Bangkitlah Petani - Nelayan Indonesia”

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

Tulis Komentar Anda