Pagi itu Istana Negara Indonesia menggelar hajat besar. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadirkan para teladan nasional untuk acara tersebut. Di antara mereka hadir 33 orang yang bercaping (petani) teladan.
Beragam agenda agung disiapkan untuk mereka. Para teladan itu diajak untuk mengikuti serangkaian acara sakral, meliputi: 1) Sidang Pleno Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI (diwakili oleh Penyuluh Pertanian Teladan dari provinsi DKI, Banten dan Jawa Barat); 2) renungan suci di Taman Makam Pahlawan Kalibata; 3) acara pengibaran sang saka merah putih dan detik-detik proklamasi di halaman istana negara serta; 4) ramah tamah bersama Presiden serta Menteri Pertanian.
Selain 33 petani teladan, Presiden juga mengundang 33 orang penyuluh pertanian teladan dan 33 gabungan kelompok tani (Gapoktan) berprestasi tingkat nasional dari 33 provinsi di Indonesia. Juga hadir ratusan teladan di bidang non agribisnis, seperti teladan di bidang kesehatan, teladan di bidang pendidikan dan lain-lain.
Mereka diundang ke istana sebagai bentuk penghormatan negara atas jasa besarnya dalam menyediakan pangan dan membangun pertanian Indonesia. Tujuannya, agar mereka termotivasi dan lebih meningkatkan kinerjanya. Dan selanjutnya akan berdampak pada peningkatan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraannya.
Ada yang berbeda pada tahun ini dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya, pada pemberian penghargaan teladan dalam rangka HUT RI ke-64 ini, di samping diberikan penghargaan kepada petani dan penyuluh teladan juga kepada gapoktan penerima dana PUAP berprestasi.
Pemberian penghargaan pada Gapoktan, dinilai cukup strategis karena akan dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas usaha agribisnis yang dikelola oleh para Gapoktan. Selain itu, ke depan Gapoktan diharapkan dapat sebagai embrio terbentuknya lembaga keuangan mikro (LKM) di perdesaan yang mampu menjadi daya dorong pergerakan sistim perekonomian di perdesaan guna menopang kehidupan para petani. Bila mereka punya LKM maka tidak tergantung lagi pada para tengkulak.
Banyak jasa para petani dan penyuluh bagi perekonomian bangsa. Di antaranya pembangunan pertanian telah memberikan sumbangan besar dalam pembangunan nasional, terutama sebagai penyumbang devisa negara (komoditi perkebunan), pembentukan PDB, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat maupun sumbangan tidak langsung melalui ketersediaan/ ketahanan pangan yang dapat menciptakan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan.
Pada tahun 2008, Indonesia telah berhasil mencatat sejarah dengan berhasil menembus angka produksi gabah di atas 60 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), selanjutnya tahun 2009 ini, Deptan akan mentargetkan bisa mengekspor beras sebanyak 1 juta ton.
Pada tahun 2008 pula kontribusi komoditas hortikultura secara nasional terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) memperlihatkan kecenderungan yang terus meningkat yaitu sebesar 4,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Petani hortikultura, tahun 2008 telah mengalami peningkatan pendapatannya secara signifikan dibanding tahun sebelumnya terutama petani sayur-sayuran mengalami peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) cukup besar. NTP petani sayuran di Jawa tahun 2007 sebesar 121,94 persen naik menjadi sebesar 174,85 persen pada tahun 2008 dan NTP petani sayuran di luar Jawa tahun 2007 sebesar 118,62 persen naik menjadi sebesar 141,20 persen pada tahun 2008.
Untuk menambah wawasan dan memotivasi para teladan dan Gapoktan berprestasi tersebut, para teladan tersebut diajak berkunjung ke lokasi Agrowisata Bambu Kuning, di Tangerang, Propinsi Banten milik H Sopyan seorang petani yang memiliki intuisi bisnis yang luar biasa sehingga mampu mengubah usaha tani yang biasa menjadi usaha Agrowisata yang mendatangkan keuntungan yang luar biasa. (**)