Dr. Soen’an H. Poernomo, M. Ed
Kepala Pusat Data, Statistik
dan Informasi Departemen Kelautan dan Perikanan
Nila merupakan salah satu komoditi budidaya unggulan yang diharapkan turut mendongkrak tercapainya tujuan menjadikan Indonesia sebagai penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia. Upaya besar ini memiliki tujuan tunggal, yakni untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat kelautan dan perikanan. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, saat melepaskan varietas unggul ikan Nila Larasati dan ikan Nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia) di Perbenihan Budidaya Ikan Air Tawat (PBIAT) Janti, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, 23 November 2009 lalu.
Ikan Nila BEST yang secara genetika dikembangkan dari jenis ikan Nila GIFT asal Filipina, patut diharapkan menjadi produk andalan. Nila BEST memiliki kelebihan dalam kecepatan pertumbuhan, ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang buruk, dan daya tahan yang kuat serangan penyakit. Untuk mencapai ukuran 5 – 8 centimeter, kalau ikan lain memerlukan waktu dua bulan, Nila BEST hanya butuh waktu 45 hari. Ikan ini bisa memproduksi anakan 3 – 5 kali lebih banyak dari verietas lainnya. Ditahap pembesaran, untuk mencapai ukuran sebesar 300 – 500 gram, mampu berproduktivitas 1,5 – 2 kali lebih besar, dibandingkan dengan ikan non unggulan.
Ikan Nila BEST yang merupakan hasil kajian sejak tahun 2004 di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) Cijeruk, Kabupaten Bogor, ini berdasarkan kajian memiliki kekuatan 140% lebih tahan terhadap serangan penyakit Streptococeus dibanding varietas ikan lainnya.
Secara umum ikan Nila memang layak untuk dijadikan produk andalan budidaya perikanan. Di antara jenis ikan bersirip (finfish), ikan Nila memiliki pertumbuhan produksi tertinggi, yakni sekitar 23,96%, dalam kurun waktu 2004 – 2008. Kalau pada tahun 2004 produksi ikan Nila masih sejumlah 97.116 ton, tahun 2008 telah mencapai volume produksi 220.900 ton.
Di samping pasar domestik, ikan Nila juga memiliki prospek yang positif di pasar internasional. Konsumsi ikan Nila di Eropa maupun Amerika senantiasa menunjukkan kenaikan. Di Amerika Utara, pada tahun 2004 telah mengimpor ikan Nila sebesar 112.945 ton, meningkat 25% dibanding angka tahun 2003, dan lebih tinggi 68% dibanding tahun 2002. Setengah dari angka tersebut dipasok oleh Cina, sisanya dari Taiwan, Thailand, dan Indonesia .
Patut diakui, walaupun Nila memiliki prospek yang positif, namun untuk menjadi produk terbesar di dunia haruslah menghadapi persaingan ikan sejenis dari berbagai negara, termasuk dari Cina dan Amerika Selatan.
Produk budidaya perikanan yang berpeluang menjadi komoditi terbesar di dunia adalah rumput laut, banding, kerapu, dan lele. Masing-masing tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan pantai negara kepulauan yang panjang, disertai iklim tropis yang hangat sepanjang tahun, tentu banyak menjanjikan untuk tercapainya tujuan menjadi produsen terbesar. Disamping itu, perlu juga ketersediaan modal, tenaga pendamping yang handal, teknologi yang tepat, antar akses pasar yang besar. Untuk itu semua akan tercapai, apabila bisa terwujud Indonesia incorporated, pertalian antara masyarakat, pengusaha, dan pemerintah. Berdasarkan pengalaman keberhasilan pengembangan budidaya udang pada tahun 1980-an, ternyata pasar terbesar adalah unsur pengusaha yang menjalin kemitraan bersama masyarakat.
Di kesempatan peluncuran ikan Nila Larasati dan BEST, Fadel juga menyampaikan program Minapolitan, yaitu program mengembangkan perikanan sebagai penyangga perekonomian daerahnya. Pada tahap awal akan dikembangkan di 56 daerah pada tahun depan dan terus dikembangkan di daerah lainnya. Pada kesempatan yang sama, Fadel juga meminta dukungan Gubernur Jawa Tengah untuk membebaskan retribusi perikanan di daerahnya sehingga akan menggairahkan usaha bisnis perikanan. Sebagai solusinya, DKP akan memperjuangkan untuk meningkatkan Dana Alokasi Khusus (DKP) sebagai pengganti nilai retribusi yang dipungut. Secara spontan, Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo mendukung program Menteri Kelautan dan Perikanan, selama pengganti retribusi perikanan tersebut dapat direalisasikan.
Selama melakukan kunjungan kerja ke Jawa Tengah untuk melepas varietas unggul ikan Nila Larasati dan Nila BEST, Fadel juga berkesempatan melakukan panen ikan Nila Larasati dan melepas benih di Desa Nganjat dan Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Sebelum mengakhiri kunjungannya di Propinsi Jawa Tengah, Fadel berkesempatan melakukan peninjauan dan berdialog dengan masyarakat Kampung Lela di Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali. Fadel menjanjikan untuk menambah luas area budidaya lele di Kampung lele seluas 10 ha sehingga ke depan, area budidaya lele di kampung tersebut dapat ditingkatkan menjadi 35 ha. Peningkatan area tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi lele dari 12 ton per hari menjadi 20 ton per hari. Kampung lele merupakan salah satu model dari program Minapolitan yang dikembangkan DKP. (**)
ahmad menulis pada Kamis, 25 November 2010, 22:30
wah mantap nih,varietas baru gairah baru,mohon info untuk mendapatkan bibit ikan nila larasati…plissss