Bagi Tatang Gozali Gandasasmita dan istrinya, Ani Gozali, mengembangkan usaha ulat sutera bukanlah semata bisnis belaka. Lebih dari itu, mereka menanamkan cinta di dalamnya. Cinta terhadap pekerjaan, cinta terhadap edukasi, cinta terhadap hasil karya. “Saya dan Bapak menjalani usaha ini awalnya hanya sebagai kegiatan pengisi waktu luang,” ujar Ani Gozali dengan santai. Namun, kami tak menyangka usaha ini terus berkembang dan besar hingga sekarang. Bukan hanya sebagai penghasil kepompong dan kain tenun saja. Tempat ini sudah menjadi tempat kunjungan wajib para wisatawan baik dalam maupun luar negeri.
Tahun 2002 silam, Pak Tatang Gozali mulai menjalani usaha sampingan yaitu membesarkan ulat sutera. Ia mendapatkan ilmu dan ulat dari salah satu temannya di Departemen Perhutanan. Maklum, sebagai salah satu Pejabat di Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara, ia memiliki jaringan luas di departemen ini. Ia menyuplai kepompong hasil panen ke PT. Indoyado di Sukabumi.
Selain Pak Tatang Gozali di daerah Ciapus juga banyak petani yang tergerak untuk membudidayakan ulat sutera dan sama-sama menyuplai kepompong ke perusahaan tersebut.
Namun, baru berjalan selama 6 bulan, PT. Indoyado mengalami kebangkrutan Cinta dan menutup usahanya. “Padahal waktu itu kami mendapatkan hasil panen kepompong sekitar 1,4 ton.” Pak Tatang Gozali dan petani lainnya kebingungan, mau dikemanakan hasil panen ini. Ia pun memutar otak agar para petani tidak mengalami kerugian. Tanpa pikir panjang, ia langsung memborong kepompong tersebut.
Ia rela mengeluarkan uangnya untuk membeli alat pemintal sendiri. Kepompong hasil panen tersebut akhirnya dapat terselamatkan. Lambat laun, ia mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Sampai suatu waktu ada salah satu lembaga swadaya masyarakat membantu menyediakan mesin dan alat untuk mengolah kepompong menjadi kain sutera.
Kini, ia memiliki lahan sekitar 4 hektar untuk memproduksi kain sutera. 2 hektar lahan digunakan untuk menanam murbei, tanaman khusus untuk pakan ulat sutera. Sedangkan 2 hektar lainnya digunakan sebagai
tempat penetasan, kamar ulat kecil, kamar ulat besar, cafetaria, dan toko cenderamata.
Pak Tatang Gozali sukses menjalankan agribisnis yaitu berupa pengembangan kebun murbei, penetasan ulat sutera, pemeliharaan ulat kecil, pebesaran ulat hingga jadi kepompong, pemintalan benang sutera, dan penenunan benang menjadi kain sutera.
Produk yang dihasilkan berupa benang raw silk, benang thrown silk. Berbagai kain tenun sutera alam dalam berbagai jenis tenun seperti tenun bermotif, tenun ikat, tenun organdi, serta batik sutera. Koleksi produk penenunan tersebut dipamerkan di Galeri Rumah Sutera.
Pensiunan Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) ini, berhasil mengelola agribisnisnya dan menjadikan berbagai proses dalam mengolah kain sutera menjadi agrowisata. Batu Sutera Gede Alam menawarkan wisata pendidikan berbasis persuteraan alam, mulai dari cara berkebun murbei, penetasan telur ulat sutera, pemeliharaan ulat kecil dan ulat besar, pembentukan cocoon (kepompong), panen cocoon dan pengolahan pasca panen yaitu pemintalan cocoon menjadi benang sutera, twisting, sampai penenunan kain sutera. Dilengkapi dengan tempat peristirahatan beserta fasilitas rekreasi keluarga. Kegiatan agrowisata ini juga menawarkan berbagai jenis koleksi tanaman anggrek, tanaman hias, palm dan tanaman langka.
Wisatawan yang datang ke Batu Gede Sutera Alam ini tak terhitung jumlahnya. “Mereka umumnya ingin mengetahui proses pembuatan kain sutera,” ujar Ani Gozali. Wisatawan yang datang memang dari instansi pendidikan seperti siswa SD, SMP, SMA, dan Mahasiswa. Ada juga beberapa peneliti dari dalam dan luar negeri yang ingin mengembangkan proses budidaya ulat sutera. “Para peneliti dari instansi terkait juga sering menjadikan tempat ini untuk melakukan penelitian.”
Pak Tatang Gozali berharap usaha yang dikembangkannya bisa terus berjalan. Ia ingin membagikan ilmu-ilmu yang dimilikinya dalam mengelola perkebunan murbei, budidaya ulat sutera, hingga proses pembuatan kain sutera. Ia mengungkapkan beberapa kiat agar suskes menjalan kan usaha ini.
Hal yang harus diperhatikan adalah ketersediaan lahan untuk penanaman pohon murbei. Pohon ini adalah satu-satunya makanan ulat sutera. Pohon ini merupakan pohon yang tidak terlalu sulit untuk ditanam. Setelah pakan ulat sutera tersedia, buatlah tempat pembesaran ulat. Pak Tatang, selama
ini menggunakan telur-telur siap tetas dari Soppeng Sulawesi Selatan. Ia membuat dua buah rumah, satu rumah disediakan untuk proses penetasan atau breeding di Rumah Ulat Kecil. Sedangkan, rumah lainnya
dibuat untuk membesarkan ulat, atau biasa disebut dengan Rumah Ulat Besar.
Ia juga memiliki ruangan khusus untuk menjalankan proses pengolahan kepompong mulai dari pemintalan kepompong menjadi benang, ruang penenunan dan ruangan untuk memamerkan hasil produksi berupa kain sutera jadi.
Oleh :
Tatang Gozali Gandasasmita
Ciapus Raya No.100 Km.8, Bogor
(0251) 8388227
Agus Susanto menulis pada Jumat, 11 September 2009, 13:10
Salam kenal dari saya…………………. bisa untuk menambah solusi bagi anda, Bisa Gunakan Pupuk Bio Organik HERBAFARM, yang diproduksi oleh PT SIDO MUNCUL, Semarang, Jateng. Tanaman akan tumbuh dengan subur dan berbuah lebih besar, .
Wayan Supadno menulis pada Selasa, 15 September 2009, 22:24
Terimakasih atas atensinya, mohon dikirim ke alamat kami. terlebih pengalaman-pengalaman para petani sukses, agar petani kita makmur adanya. amien…