Indonesia termasuk dalam kawasan segitiga emas perputaran ekonomi dunia di tahun 2020.
Pertanian dan agribisnis disiapkan untuk menunjang pendapatan perekonomian Indoensia.

Kasawan Asia – Pasifik di tahun 2020 nanti akan mengalami perkembangan yang pesat di bidang pertumbuhan ekonomi. “Kawasan ini kelak akan menjadi pusat perputaran pasar dunia karena pendapatan domestik bruto di negara-negara ini meningkat sebanyak 72% dari angka yang ada sekarang,” ungkap Ernest E. Bethe III, Program Manager Agribusiness, International Finance Corporation pada acara Agribusiness Outlook 2010 yang diselenggarakan oleh Tabloid Agrina, 25 November 2009 lalu.
Indonesia yang terletak di kawasan ini mau tidak mau harus menyiapkan diri bila tidak ingin tertinggal dari negara lain. Ernest mengatakan yang sangat berpeluang dalam meraih kesempatan ini adalah tiga negara penting di Asia yaitu Cina, India, dan Indonesia. “Negara ini kelak menjadi negara segitiga emas ekonomi baru dunia dengan istilah Cindonesia,” tuturnya.
Salah satu bidang penyokong pertumbuhan ekonomi adalah sektor pertanian. Bidang ini memang dalam tahap perkembangan di sektor on farm dan off farm. Menteri Pertanian, Suswono, mengatakan memang masih banyak hambatan terkait dengan pertanian di Indonesia. “Kita masih terhambat beberapa kendala dalam proses peningkatan pendapatan di bidang pertanian. Hambatan-hambatan tersebut menjadi target kerja saya selama lima tahun ke depan untuk diselesaikan,” tuturnya.
Suswono menegaskan, ia menjalankan strategi program tujuh gema revitalisasi di bidang pertanian mencakup revitalisasi lahan, revitalisasi pembenihan dan pembibitan, revitalisasi infrastruktur dan sarana, revitalisasi sumber daya manusia, revitalisasi pembiayaan petani, revitalisasi kelembagaan petani, dan revitalisasi teknologi dan industri pertanian. Dengan tujuh program revitalisasi ini, Suswono yakin bisa memperta-hankan produksi pertanian di tahun 2009. “Tahun 2010 dan seterusnya, saya harap kita akan mendapatkan hasil yang lebih baik dengan program yang dijalankan.”
Apa yang dikemukakan oleh Suswono, diamini juga oleh Hermanto Siregar, salah seorang pembicara di Agribusiness Outlook 2010. Berbagai komoditas pertanian seperti padi menunjukkan kenaikan, tahun 2008 produksi padi sebanyak 60.325.925 ton naik di tahun 2009 menjadi 62.561.146 ton. Begitu pula dengan komoditas lain seperti jagung dan kedelai. Hal sama juga diikuti oleh produk perkebunan sebut saja cengkeh, jambu mete, kakao, karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, dan tebu.
Kenaikkan produksi pertanian tersebut hendaknya diikuti dengan kenaikkan harga di pasaran. “Produk-produk pertanian tersebut harus mendapatkan sentuhan teknologi pengolahan bila ingin mendapatkan nilai jual tinggi di pasaran dunia,” tandas Hermanto Siregar.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB ini menegaskan Indonesia harus menyiapkan diri sedini mungkin untuk meraih peluang perkembangan perekonomian yang kelak dipegang kawasan Asia – Pasifik. Tanda-tanda kesiapan ini sudah nampak telihat di tahun 2010. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat sekitar 6%. Produk Domestik Bruto pertanian naik sekitar 4%, dan industri berbasis agro bisa tumbuh sekitar 6%.”
Ada beberapa hal yang menjadi cacatan yang harus dilakukan dalam menjawab tantangan agribisnis di tahun 2010 ini. Misalkan faktor-faktor penting yang mempengaruhi ekonomi dunia seperti
pengaruh Krisis Finansial Global melalui jalur ekspor dan jalur foreign direct investment (FDI), lingkaran politik bisnis, dan pengaruh global warming. Di bidang agribisnis, ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan seperti konversi lahan pertanian, fluktuasi dan ketidakpastian harga, ketersediaan pupuk, lingkungan dan kesehatan, dan pembiayaan usaha tani bila ingin menyiapkan Indonesia untuk bersaing di dunia global tahun 2020 mendatang. (Iwa)