Penulis :
Mulyaningsih
Ketua Departemen Keputrian LDF FORSITA Fapet-IPB
Tergabung dalam KOGASE (Komunitas Gaul Sehat) IPB
Pintu gerbang menuju pasar bebas kini sudah terbuka lebar. Negeri ini tidak mungkin dapat menolak lagi akan produk-produk yang berasal dari negeri lain, khususnya produk peternakan dan pertanian. Bagaimana tidak, dengan adanya pemberlakuan FTA (Free Trade Area) atau biasa disebut dengan area perdagangan bebas ini akan menggiurkan negara yang memiliki kelebihan dari produk-produk pertanian maupun peternakan seperti Brazil, Amerika dan negara lainnya. Hal ini menjadi ancaman tersendiri bagi para petani kita. Bagaimana tidak, dengan banyaknya produk-produk yang berasal dari luar negeri maka akan menimbulkan persaingan. Masalahnya adalah ketika produk-produk luar negeri yang membanjiri negeri ini harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan produk dalam negeri. Hal ini membuat para petani kita kalah bersaing. Apalagi bea masuk terhadap barang luar negeri tidak dikenakan sehingga menimbulkan leluasanya produk-produk luar negeri membanjiri pasar dalam negeri. Mereka lebih gencar lagi ketika ada penandatanganan perjanjian pasar bebas di wilayah ASEAN – Australia - New Zealand (FTA-AANZ) pada tanggal 27 Februari 2009. Brazil dan Amerika Serikat sepertinya tak mau ketinggalan, mereka berusaha untuk memasukkan produk peternakan mereka ke Indonesia. Brazil bahkan sangat gencar untuk bisa memasukkan produk daging sapi ke tanah air, tentunya dengan kocek yang lebih rendah. Sadar atau tidak bahwa ternyata industri peternakan dalam negari tidak mampu untuk menyaingi produk-produk luar negeri. Menurut Ketua Gopan (Gabungan Organisasi Peternakan Ayam Nasional) bapak Tri Hardiyanto, menyebutkan bahwa para peternak kita masih belum siap alias belum mampu untuk menyaingi harga daging ayam Brazil yang lebih murah dari harga ayam dalam negeri ini. Harga komoditi daging ayam Brazil lebih murah 30% dari harga dalam negeri. Hal ini disebabkan biaya produksi mereka jauh lebih murah. Sebagai contoh, harga jagung yang digunakan untuk pakan di sana berkisar pada tataran Rp 600.000 – Rp 800.000 per kg, sementara di dalam negeri harga jagung berkisar Rp 2.500 - 2.700 per kg. Di sini dapat terlihat jelas bahwa dari harga pakan saja sangat jauh berbeda sehingga pada harga produknya pun akan berbeda jauh.
Artinya dilihat dari segi potensi negeri maka seharusnya permasalahan seperti pengadaan sumber pakan seperti jagung dan kedelai dapat kita penuhi sendiri. Untuk dua produk tersebut memang antara manusia dan hewan memakainya, sekarang tinggal ada pembagian yang jelas saja antara kebutuhan untuk manusia dan untuk ternak sebab pada dasarnya ternak juga akan dikonsumsi oleh manusia. Perlu adanya pendetailan wilayah di seluruh Indonesia ini, serta perlu adanya informasi mengenai kecocokan tanaman yang tumbuh pada daerah tersebut. Dengan adanya informasi tersebut maka akan memudahkan pengontrolan serta akan mudah untuk usaha untuk memaksimalkan jumlah produksi. (**)