Prospek untuk mendirikan usaha pembibitan sapi perah sangat terbuka. Dibutuhkan beberapa langkah yang bisa menentukan keberhasilan usaha pembibitan sapi perah.

Saat ini produksi sapi perah dalam negeri hanya mampu memasok susu segar sekitar 30% dari kebutuhan konsumen, sisanya, sebanyak 70%, dipenuhi melalui impor dalam bentuk susu bubuk. Oleh karena itu pemenuhan kebutuhan susu secara nasional diperlukan upaya melalui produksi dalam negeri, antara lain dengan meningkatkan populasi dan produktivitas sapi perah.
Bibit sapi perah memegang peranan penting dan bernilai strategis untuk mendukung terpenuhinya kebutuhan susu, sehingga perlu dikembangkan usaha pembibitan/rearing sapi perah yang dapat memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) atau persyaratan teknis minimal.
Tujuan pengembangan usaha pembibitan sapi perah adalah melakukan pemuliaan genetik, menyiapkan bibit sapi perah unggul yang adaptif, mendukung upaya menciptakan sentra pembibitan sapi perah, dan meningkatkan produktivitas sapi perah.
Tinjauan Teknis Usaha
Untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam usaha pembibitan/rearing sapi perah, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pemilihan Lokasi, dalam pemilihan lokasi pembibitan sebaiknya dilakukan pemetaan (mapping) lokasi usaha guna menentukan tata letak bangunan, sarana, dan prasarana. Tidak boleh bertentangan dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) setempat. Topografinya cocok sehingga kotoran dan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan. Didukung oleh infrastruktur yang baik (jaringan jalan, listrik, pengolahan limbah dan keamanan). Sumber Air, sumber air hendaknya mudah dicapai, memenuhi baku mutu air yang sehat, tersedia sepanjang tahun dalam jumlah yang mencukupi dan disediakan tidak terbatas (ad libitum). Sumber air harus bebas dari jasad renik yang bersifat patogen. Penggunaan sumber air tidak mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat sekitar.
Sumber Pakan atau Hijauan Makanan Ternak, memiliki luasan yang cukup untuk penanaman hijauan ternak (rumput). Pakan hijauan sebagai sumber serat harus berkualitas dan tidak ada zat toksik, dapat berasal dari rumput, leguminosa dan sisa hasil pertanian. Pakan hijauan merupakan sumber pakan utama bagi sapi perah. Pakan konsentrat sebagai pakan penguat harus berkualitas, mengandung kadar protein dan energi yang cukup.
Bangunan Kandang, bangunan kandang harus kuat, sirkulasi udara dan sinar matahari cukup, drainase dan saluran pembuangan limbah baik dan mudah dibersihkan, lantai tidak licin - tidak kasar, mudah kering, dan tahan injakan. Bangunan kandang harus dipisahkan antara lain untuk pedet, sapi dara, sapi bunting, sapi laktasi dan kandang beranak. Dibuat tempat penggembalaan/ exercise pedet dan sapi dara.
Pemilihan Bibit, bibit harus mempunyai silsilah (pedigre) yang jelas dan baik. Berasal dari daerah yang bebas penyakit hewan menular, dan dinyatakan sehat oleh instansi yang berwenang. Tidak memiliki cacat fisik, memiliki alat reproduksi normal, bentuk ideal, memiliki struktur kaki dan kuku yang kuat. Memenuhi persyaratan kuantitatif yang ditetapkan (umur, tinggi pundak, bobot badan, warna bulu, ambing).
Manajemen Pemeliharaan, pada pemeliharaan pedet yang terpenting adalah pemberian kolostrum, pemberian susu dan pakan padat dalam jumlah yang cukup. Penggembalaan/exercise dilakukan 1 – 3 jam setiap hari. Pedet harus diukur pertumbuhan berat badannya. Kebersihan sapi dan lingkungan harus diperhatikan, sapi dara dimandikan minimal satu kali sehari, sedangkan sapi laktasi dimandikan sebelum pemerahan susu. Nilai Body Condition Score (BCS) sapi laktasi sebaiknya tidak kurang dari 2,75 dan menjelang sapi kering kandang nilai BCS harus mencapai 3,5 - 4,0. Pakan hijauan diberikan 10% dari berat badan, sedangkan konsentrat 1,5 – 3,0% dari berat badan disesuaikan dengan produksi susu.
Manajemen Kesehatan Hewan (Keswan), melakukan desinfeksi kandang dan peralatan secara teratur. Menjaga agar tidak setiap orang bebas keluar masuk kandang, untuk mencegah penularan penyakit. Menjaga agar lokasi usaha tidak mudah dimasuki binatang liar serta bebas dari hewan peliharaan lainnya yang menularkan penyakit. Penanganan dengan benar terhadap ternak yang sakit atau mati. Setiap kali pemerahan harus dilakukan uji mastitis. Pemotongan kuku dilakukan minimal tiga bulan sekali. Mencatat setiap pelaksanaan pengobatan dan vaksinasi dalam kartu pengobatan ternak.
Manajemen Pembibitan, pengembangbiakkan dilakukan dengan metode Inseminasi Buatan (IB), Transfer Embrio (ET) atau sistem perkawinan alam. Harus dihindari terjadinya kawin sedarah (inbreeding). Sapi calon induk dikawinkan pada umur sekitar 15 bulan setelah mengalami dua kali birahi. Pencatatan (recording) dilakukan secara teratur dan terus menerus yang meliputi pemasangan eartag, foto ternak, identitas induk. Pengontrolan Kebuntingan (PKB), tanggal bunting, tanggal kelahiran, berat badan, jenis kelamin, tanggal dan perlakuan pengobatan. Bibit sapi perah hendaknya memperoleh sertifikat bibit, yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang.
Pengolahan Limbah, pengolahan limbah bertujuan untuk menjaga pencemaran lingkungan dan memberikan pemasukan tambahan dari hasil olahan limbah. Unit pengolah limbah akan mengolah limbah padat menjadi kompos/bokasi atau biogas, sedangkan limbah cair dapat dialirkan ke kebun rumput sebagai penyubur.

Sumber Daya Manusia (SDM), Memiliki karyawan yang sehat jasmani dan rohani serta tidak memiliki luka terbuka. Memiliki keahlian di bidang reproduksi, pakan, kesehatan hewan, penanganan dan pengolahan susu, pengolahan data base serta pengolahan limbah.
Pemasaran Hasil Rearing
Hasil/output rearing sapi perah adalah sapi dara bunting 3-6 bulan dengan usia sapi sekitar 20 bulan. Dara bunting sangat dibutuhkan oleh para peternak sapi perah, apalagi dengan kualitas yang bagus, tentunya akan memberikan nilai jual yang tinggi. Sasaran pasar yang akan dibidik di antaranya adalah peternak sapi perah, perusahaan budidaya sapi perah, balai-balai penelitian di bawah lingkup Departemen Pertanian dan juga Dinas Pertanian di lingkungan Pemerintah Daerah.
Analisa Finansial
Usaha pembibitan/rearing sapi perah membutuhkan modal kerja sebesar Rp 8 juta, yang akan dipergunakan untuk pembelian pedet lepas colostrum/lepas sapih dan untuk operasional pemeliharaan sampai menjadi dara bunting (umur sekitar 20 bulan). Harga jual dara bunting 6 bulan yang berkualitas saat ini berkisar Rp 13 juta sampai dengan Rp 17 juta.
Modal kerja tersebut di luar perhitungan modal investasi untuk pembangunan sarana dan prasarana yang meliputi biaya pembuatan kandang, biaya penanaman kebun rumput dan biaya pembuatan unit pengolah limbah.
Saat ini telah dilakukan pola kerjasama usaha antara pihak peternak sebagai pengelola usaha dengan investor. Peternak menyiapkan sarana dan prasarana (modal investasi) sedangkan investor menyiapkan modal kerja. Antara pengelola dengan investor dilakukan pembagian hasil usaha setelah usaha menghasilkan.
Dengan dikembangkannya usaha pembibitan/rearing di sentra – sentra peternakan sapi perah, maka kebutuhan akan bibit sapi perah yang berkualitas dapat terpenuhi dan impor bibit sapi perah yang sampai saat ini masih berlangsung akan dapat dikurangi. (**)

petrus sitepu menulis pada Kamis, 25 Maret 2010, 15:23
Pak Yudha yth,
Mohon informasi detail sapi perah (bibit) yg ready-stock di farm bapak, banyak teman yg berminat.
Regards,
Petrus Sitepu
Gundaling Farm - Berastagi - SUMUT
Ig Sudarwanto menulis pada Kamis, 20 Mei 2010, 21:56
saya sangat tertarik dengan beternak sapi perah namun untuk mendaptkan bibit yg ber kualitas susah sedangakan untuk indukan impor berapa harganya dan dimana untuk mendapatkan / membelinya
zakki menulis pada Selasa, 22 Juni 2010, 12:27
thanks infonya gan.. ayo majukan sapi perah Indonesia..
SA'I menulis pada Rabu, 4 Agustus 2010, 10:18
saya sangat setuju bila ada rumah pembibtan sapi perah,supaya orang yg membutuh tidak salah2 beli. dan ini saya membutuhkan bibit sapi perah unggul kira2 dimana ya saya harus beli tolong info nya?