Nilai-nilai luhur dari nenek moyang mengajarkan kita untuk mencintai dan menghormati alam. Salah satunya dengan menggunakan pestisida nabati. Hendaknya kita kembali ke nilai-nilai luhur agar tanah dan air kita kembali subur.
Nama: Rizki Suhardianto
Email:rchiples@yahoo.co.id
No Telp: 085236252020

Indonesia merupakan negara agraris, lahan pertanian terhampar luas dari Sabang sampai Merauke. Banyak rakyat Indonesia juga berprofesi sebagai petani baik petani kecil atau tradisional dan petani modern. Petani tradisional identik dengan sistem atau cara
tanam yang masih tradisional dengan menggunakan cara bertanam turun-temurun sedangkan petani modern menggunakan cara bertanam dengan menerapkan bantuan teknologi yang telah maju dan berkembang. Tanaman untuk tumbuh membutuhkan pupuk serta perawatan dari serangan hama dan penyakit tanaman, kebutuhan-kebutuhan tersebut saat ini banyak didapatkan dari penggunaan pupuk kimia yang telah lama terbukti mampu meningkatkan hasil tanam dari petani-petani di Indonesia. Sedangkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit tanaman banyak digunakan bahan-bahan kimia (pestisida kimia) yang mampu memberikan hasil yang cepat dan terbukti mampu mengendalikan serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan).
Pestisida kimia yang telah akrab dengan petani-petani di Indonesia saat ini dirasa sangat merugikan lingkungan sekitar walaupun pestisida kimia secara langsung memberikan hasil yang signifikan terhadap serangan OPT. Penggunaan pestisida kimia dalam jangka waktu yang panjang telah membawa kerugian-kerugian yang tidak disadari oleh petani-petani Indonesia. Contoh nyata, pestisida kimia dapat menimbulkan kerusakaan agroekosistem lingkungan. Untuk mengurangi dampak kerusakan agroekosistem ini, sekaranglah saat yang tepat kembali ke masa nenek moyang kita dahulu kala dimana bahan-bahan kimia masih belum akrab dengan kehidupan alam Indonesia serta petani-petani Indonesia.
Nenek moyang kita telah menggunakan pestisida nabati untuk menanggulangi serangan OPT. Pestisida nabati adalah pestisida yang terbuat dari bahan-bahan tanaman atau berasal dari tumbuhan dan tanaman yang tidak berbahaya bagi lingkungan dan agroekosistem alam Indonesia.
Pestisida nabati sebenarnya pernah menjadi bagian dari sistem tanam oleh petani-petani dahulu kala. Tetapi, sejak petani-petani mengenal DDT tahun 1939 dan terus berkembang pesat dari tahun ke tahun sehingga munculnya pestisida sintetis atau pestisida kimia. Pestisida nabati dirasa sangat cocok dan sesuai dengan kelestarian alam Indonesia yang semakin hari kian tercemar. Selain tidak menimbulkan kekebalan terhadap hama dan penyakit serta OPT yang lain, pestisida nabati juga sangat aman bagi lingkungan sekitar sebab terbuat dari bahan-bahan yang tidak berbahaya. Selain mudah didapatkan karena bahan-bahan pestisida nabati disediakan alam, pembasmi hama ini dapat dibuat dengan skala industri rumahan atau skala besar sehingga dapat menjadi usaha baru di dunia pertanian Indonesia.
Perbandingan Pestisida Nabati dan Pestisida Kimia
Pembuatan pestisida nabati tidak terlalu rumit dan susah, hanya dengan menggunakan tanaman-tanaman yang dapat digunakan atau dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Banyak tanaman-tanaman yang dapat dimanfaatkan menjadi pestisida nabati seperti yang banyak dijelaskan di literatur atau berbagai pustaka di antaranya sebagai berikut ini :
• Sirsak yang dimanfaatkan bagian bijinya untuk mengendalikan hama Trip.
• Pepaya yang dimanfaatkan daunnya untuk mengendalikan hama jenis ulat Lepidoptera dan hama bertipe penghisap.
• Tembakau yang dimanfaatkan bagian akar, batang, dan daun untuk mengendalikan hama bertipe penghisap.
• Srikaya yang dimanfaatkan bagian tanaman bijinya untuk mengendalikan ulat.
• Mimba (daun), Jarak (biji), bawang putih, lombok, dan masih banyak lagi.
Bahan-bahan yang terbuat dari tanaman akan sangat aman bagi lingkungan sekitar dan tidak berbahaya bagi alam, serta tergolong sangat mudah didapatkan walaupun hasil yang diberikan tidak langsung tampak tetapi dengan menggunakan bahan nabati hasil akhirnya akan sangat memuaskan dan tidak kalah dengan bahan-bahan kimia yang tidak ramah lingkungan. Saatnya kita kembali ke asal kita dan meninggalkan bahan-bahan kimia demi kelestarian alam dan senantiasa terjaganya alam kita demi anak cucu kita di masa yang akan datang. Menjaga lingkungan merupakan ibadah yang paling sederhana tetapi paling luhur dan bijaksana. Majulah Pertanian Indonesia! (Rizky S.)
hasan menulis pada Sabtu, 5 Maret 2011, 4:38
tolongt ampilkan resep pestisida nabati untuik mengendalikan hama dan penyakit tanaman cabe