Para peternak yang tergabung di Kelompok Peternak Maju Sejahtera sudah menggunakan pelepah daun kepala sawit sebagai pakan utama sapi-sapi mereka. Hasilnya, sapi mereka memiliki peningkatan yang lumayan tinggi dibanding pakan konvensional.
Kelompok Peternak Maju Sejahtera
Kampung Makmur Jalur I Riau
Sugiono/Pon Mukpiat
081365339799
Peternakan yang berada di kawasan perkebunan kelapa sawit harusnya memiliki keterpaduan dengan perkebunan kelapa sawit itu sendiri. Hal ini disadari betul oleh Pon Mukpiat, Anggota Kelompok Peternak Sapi Maju Sejahtera. Bila ada keterpaduan antara peternakan dan perkebunan kelapa sawit, maka hal ini akan menimbulkan hubungan mutualisme yang saling menguntungkan.
Salah satu bentuk riilnya yaitu pemanfaatan limbah perkebunan kelapa sawit, dalam hal ini pelepah kelapa sawit. “Pelepah kelapa sawit telah lama kami manfaatkan menjadi pakan utama bagi sapi-sapi yang ada di peternakan kami,” ungkap pria yang akrab disapa Hen ini dengan lugas. Para peternak di Kelompok Ternak Maju Sejahtera yakin betul pelepah kelapa sawit memiliki dampak positif bagi pertumbuhan sapi-sapi mereka.
Hen memiliki dua jenis sapi yang dipelihara saat ini, yaitu sapi Bali dan sapi Simmental. Sapi Bali merupakan sapi plasma nutfah Indonesia. Sapi ini merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos Banteng), jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Sapi Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku, dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor. Sedangkan sapi Simmental atau yang lebih dikenal sebagai sapi Metal, merupakan sapi yang berasal dari sungai Simme, Swiss. Sapi ini memiliki ukuran besar, memiliki corak warna putih, coklat, hitam. Saat ini, sapi ini tersebar di hampir seluruh dunia.
Kedua jenis sapi ini diberi pakan yang sama, yaitu pakan olahan dari pelepah kelapa sawit. “Awalnya kami menambahkan unsur-unsur seperti bungkil kedelai, dedak, dan tepung Star Bio, selain daun kelapa sawit. Namun, untuk menyediakan bahan-bahan tersebut dibutuhkan pengeluaran dana dan tenaga yang lumayan besar. Akhirnya kami memutuskan hanya menggunakan pelepah kelapa sawit sebagai makanan ternak secara manual,” jelas Hen.
Dampaknya, sangat mencengangkan. Sapi Bali dan sapi Metal yang digemukkan oleh para peternak di Kampung Makmur Jalur I Riau mengalami pertumbuhan yang cepat. “Sapi-sapi kami mengalami perubahan yang signifikan. Umumnya mereka mengalami peningkatan berat badan. Otot-otot dari sapi-sapi ini tampak berisi.” Saat ini, Hen terus memberikan sapi Bali pakan pelepah kelapa sawit. Sedangkan, untuk sapi Metal, ia kembali menggunakan pakan konvensional. “Sapi Metal membutuhkan makanan yang lumayan banyak. Kami kewalahan bila harus menggunakan pelepah kelapa sawit.”
Menurut Hen, sapi Bali memiliki kelebihan yang berbeda dibanding sapi Metal. “Sapi Bali lebih cepat bereproduksi. Sapi ini mampu beranak dalam setahun. Selain itu, sapi ini lebih cepat besar bila digemukkan. Harga jual sapi ini juga memiliki kisaran harga antara Rp 6 juta – Rp 12 juta.” Hen memiliki sapi Bali ini atas kerjasama dengan pihak lain. “Hasil produksi sapi nantinya dibagi dua. Sedangkan untuk sapi Metal saya dapatkan melalui bantuan dari Dinas Peternakan setempat.”
Hen saat ini memiliki sapi sekitar delapan ekor. “Empat sapi merupakan sapi Bali dan empat lainnya sapi Metal.” Untuk 15 sapi dibutuhkan sedikitnya 60 – 80 pelepah kelapa sawit. Jumlah ini setara dengan limbah panen sawit sekitar dua hektar. Jumlah sapi di sini mencapai ratusan. “Jadi kami kekurangan pasokan pelepah sawit. Padahal, kami merapa di tengah-tengah perkebunan sawit.”
Penemuan pelepah daun kelapa sawit ini hadir bukan berarti tanpa kendala. Ada beberapa kendala yang menyertai penemuan ini. Hen menuturkan dengan lugas beberapa kendala. “Kami kesulitan mendapatkan pelepah daun kelapa sawit. Padahal, kami berada di perkebunan sawit yang luasnya ribuan hektar.” Sugiono dan rekan-rekannya sangat kesulitan dalam medapatkan bahan baku pakan. Hal ini dikarenakan kepemilikan lahan perkebunan berada di tangan perusahaan. “Kami harus mendapatkan ijin dari pemilik perkebunan untuk mendapatkan pelepah daun kelapa sawit. Dan proses itu, memakan waktu yang lama andai kata diijinkan. Kebanyakan dari pemilik perusahaan memanfaatkan limbah perkebunan ini menjadi pupuk untuk mereka gunakan sendiri.”
Saat ini, sugiono dan rekannya di Kelompok Tani Maju Sejahtera hanya memanfaatkan pelepah daun kelapa sawit yang berada di lahan mereka sendiri. “Saat ini, kami hanya mendapatkan pasokan pelepah daun kelapa sawit yang berada di lahan kami. Selain itu, kami juga memanfaatkan lahan tetangga yang dimiliki oleh pribadi, bukan perusahaan.”
Integrasi usaha peternakan dengan tanaman perkebunan kelapa sawit memberikan dampak yang sangat besar, terutama dalam memperbaiki manajemen pengelolaan perkebunan kelapa sawit dan pengelolaan sapi yang efektif bagi peningkatan produktivitas. Bila perkebunan-perkebunan kelapa sawit di Indonesia diarahkan menjadi sentra bibit sapi potong, maka dalam kurun waktu tertentu hal ini dapat mengurangi ketergantungan negara pada sapi dan daging impor. (Iwa)

Effendi Alamri menulis pada Sabtu, 30 Januari 2010, 14:59
Artikelnya bagus, patut dicontoh. Salut untuk pak Sugiono dan kelompok ternaknya. Di Kaltim sedang diujicobakan juga hal yg begini. Memang harus ada kerjasama antara peternak dengan pemilik lahan perusahaan perkebunan untuk mendapatkan bahan pakan ternak tsb. Kekhawatiran menejemen perusahan inti sawit pasti terhadap tindakan kriminalitas akan kehilangan buah kelapa sawitnya. Kecurigaan semacam ini dapat diatasi dengan musyawarah dan keterlibatan Pemda setempat atau tokoh masyarakat agar keamanan kebun sawit inti dapat terjamin. Pemanfaatan limbah untuk kompos sudah sangat berlebihan dari serat buah sawit hasil perasan. Semoga dengan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak, hasil yg Bapak harapkan dapat berkembang lebih pesat lagi untuk menunjang kebutuhan produk hewani yg banyak dibutuhkan masyarakat. Sukses selalu
ardy pertadu menulis pada Sabtu, 27 Maret 2010, 15:32
pak sugiono saya tertarik dengan inovasi anda, dan saya akan coba itu di daerah jambi. karena saya dijambi punya perkebunan sawit sendiri, sehingga tidak ada kendala perizinan dalam hal penggunaan limbah perkebunan. tapi ada bbrpa hal yang perlu saya ketahui mengenai pakan pelapah sawit ini, apakah pelepah sawit yang diberikan harus diberi perlakuan dulu atau langsung saja diberikan? tolong jelaskan bagaimana persiapan yang harus dilakukan hingga pakan pelepah sawit ini siap dimakan oleh ternak? kulit dari pelepah sawit memiliki lapisan yang keras, apakah itu diberikan juga pada sapi atau harus dibuang dulu? tramakasih..
Dr. Ir. Agung Nugroho, SU. menulis pada Kamis, 29 April 2010, 16:27
Subhanallah… Moga Pak Sugiono dan kawan-kawan tetap mendapat hidayah..karena telah melakukan tahap penting dalam siklus alami rantai-rantai makanan di perkebunan (sawit khususnya)…yangmana sekarang sedang disoroti oleh beberapa LSM (yang juga mempunyai tujuan baik). Saya juga ikut membayangkan alangkah baiknya pupuk kandang dari sapi itu dikembalikan di kebun-kebun sawit…sehingga bermanfaat. Saya pribadi akan membantu meyebar luaskan artikel ini dengan cara saya berikan sebagai bahan kuliah tambahan di fakultas kami. Juga saya beritahukan kepada para mahasiswa kami yang akan melakukan Kuliah Kerja Profesi selama sebulan tahun 2010 ini di perkebunan kelapa sawit. Moga kenyataan ini dapat menjadi tambahan informasi untuk membuat kebijakan-kebijakan untuk melestarikan lingkungan kita, dan sebaiknya inovasi Bapak Sugiono dan teman-2 ini ditindaklanjuti oleh pejabat berwenang yang tentunya juga mencintai alam lingkungan. Selamat dan sukses. Wasalam. Agung Nugroho, Fakultas Pertanian -Univ, Brawijaya. Malang
H. Nahar Effendi Yusuf menulis pada Minggu, 16 Januari 2011, 11:48
Saya terkesan setelah membaca artikel ini. Sebagai pensiunan PNS saya memiliki aktivitas baru sebagai “peternak” beberapa ekor sapi dan kambing. Ternak itu saya pelihara di kebun kelapa sawit yang sudah berbuah (nilik saya). Karena di sekitar kebun banyak sekali rerumputan sebagai pakan ternak, pekerja yang saya gaji jarang memanfaatkan pelepah daun sawit sebagai pakan. Saya ingin mengetahui lebih lanjut tentang kandungan zat-zat di dalam pelepah daun sawit; dibandingkan dengan rumput gajah dan rumput raja mana yang lebih baik. Terima kasih, wassalam