Saturday, 4 September 2010
Bangkit Tani » Majalahnya Para Pemulia Dunia Pertanian

Jadi Petani…? It’s Okay!

Rabu, 16 Desember 2009, 12:00

setahun3Menekuni profesi sebagai petani merupakan pilihan yang langka dan luar biasa. Seribu satu alumni perguruan tinggi yang memiliki kemauan demikian adalah putra daerah asal Cibungbulang, Bogor. Usnadi adalah sapaan beliau, memilih pilihan yang luar biasa dahsyat ini. Usnadi menekuni profesi petani tulen. Bergulat dengan lumpur, menyemai bibit, meneliti dan mengembangkan teknologi sederhana pengendalian hama, melakukan serangkaian penelitian lapang demi mendukung pengembangan pertanian.

Ketika ditanya motivasi menjadi seorang petani, tentunya seseorang i­ngin menerapkan dan mengembangkan segenap ilmu yang dipelajari selama duduk bangku kuliah, tapi Usnadi dengan santainya menjawab, “memanfaatkan waktu dengan tepat sasaran,  mengembangkan kreativitas, dan yang paling unik adalah ada kepuasan tersendiri”, tandas alumni Departemen Sosial Ekonomi UNPAD (Universitas Padjajaran) 1988 ini.

Hal menarik yang di dapat selain kepuasan tersendiri, adalah hidupnya senantiasa dilimpahi barokah oleh Allah SWT meskipun secara nominal penghasil­annya kecil, tetapi hidupnya lebih damai dan bahagia. Selain itu jauh  dari hal-hal yang bersifat haram diban­dingkan de­ngan profesi yang lain. Awalnya keputusan Usnadi banyak mendapat cemohan dari tetangga sekitar. Keputusannya dianggap sama seperti orang gelo’ bin nyeleneh. Mereka memandang seorang sarjana dari perguruan tinggi ternama memilih pulang kampung menjadi petani. Diolok-olok, dicemooh adalah santapan kesehariannya.

Salah satu nada sinis mereka adalah “Usnadi… Usnadi… sudah kuliah dengan biaya mahal, kok mau-maunya pulang kampung jadi petani. Tidak sekolah juga orang bisa jadi petani, apa teu sayang gelar sarjanamu?” Usnadi menjawab de­ngan bijak bahwa ia terlahir dari keluarga petani dari kecil. Hidup di tengah-tengah masyarakat petani. Walau ilmu yang di pelajari di kampus adalah Sosial Ekonomi tapi sangat bermanfaat bahkan Usnadi menemukan sesuatu yang berharga agar masyarakat di kampungnya tertarik de­ngan program-program yang akan dikembangkan, yaitu meningkatkan pendapatan petani.

Ungkapan-ungkapan tersebut kadang membuat orang tua dan saudara Usnadi tidak enak. Namun suara sumbang itupun lama-lama mulai tidak terdengar bahkan hampir-hampir tak terdengar. “Mudah-mudahan ini pertanda positif yang menunjukkan mereka agar menyadari maksud saya pulang kampung, setelah melihat dan merasakan manfaat kegiatan yang saya jalankan nantinya,” harapnya.

Aktivitas kesehariannya adalah bertani dan bertani. Mengabdikan diri untuk masyarakat seperti mengelola kelompok tani dan Gapoktan di desa, ketua Litbang kompos di Dinas Cipta Karya, meneliti dan mengembangkan pertanian dengan berbagai teknologi baru yang sesuai. Di­samping itu juga Usnadi mengembangkan pemanfaatan sampah organik menjadi kompos, pemanfaatan sampah plastik sebagai barang yang memiliki nilai tambah yang lebih seperti tas, dompet, kesed, dan kerajinan yang lain. Kesibukan yang lain terkadang banyak mahasiswa yang berkonsultasi dan bekerjasama dengannya dalam penelitian tugas akhir, Usnadi sangat senang dapat membantu. Bahkan sering Usnadi melanjutkan penelitian lanjutan demi mengembangkan produktivitas pertanian di desanya.

Beberapa teknologi yang berhasil dikembangkan dan disebarkan Usnadi di tengah masyarakat antara lain :

  • Pengembangan kotoran kelelawar untuk megurangi serangan hama.
  • Pengaruh pupuk N rendah dan P tinggi terhadap tanaman.
  • Perbandingan padi konvensional dan padi SRI terhadap produktivitas padi.
  • Pengaruh pemupukan pada tanaman kacang.
  • Pengaruh perguntingan tunas lateral pada tanaman bengkoang.

Karena kegigihan, kerja keras, ke­sabaran, kejujuran dan keuletan Usnadi berhasil menuai hasilnya. Masyarakat di kampungnya sangat antusias terhadap penemuan-penemuannya. Pada prinsipnya Usnadi berpendapat, “Sumbangan terbesar adalah ketika kita memberikan kontribusi yang nyata dan bermanfaat untuk masyarakat.”

Pesannya untuk generasi harapan nantinya agar jangan malu dan justru seharusnya bangga menerjuni dunia pertanian yang sangat dahsyat ini. Asal kita tekun Insya Allah rezeki yang kita dapatkan juga barokah.

Pengalaman hidup Usnadi bisa dijadikan inspirasi bagi semua kalangan masyarakat. Hendaknya pilihan sebagai petani adalah sebuah jabatan dan profesi yang harus mendapatkan tempat yang istimewa, karena motor penggerak pembangunan adalah pertanian. Menuju Indonesia jaya dan sejahtera. (**)

Anda dapat memberi komentar untuk artikel ini.

Tulis Komentar Anda