Tahun 2010 adalah waktu yang telah dicanangkan oleh pemerintah sebagai tahun beras organik. Untuk mencapai hal tersebut, tentulah tidak semudah membalik telapak tangan. Meskipun telah banyak paya-upaya yang telah dilakukan, baik melalui regulasi, sosialisasi dan penyuluhan serta demonstrasi plot padi organik untuk mendorong petani-petani kita agar berminat dan tertarik dalam mengembangkan padi organik, namun kenyataan membuktikan bahwa masih sangat sulit untuk mengajak petani untuk menerapkan pengelolaan tanaman padi secara organik. Beras organik sepertinya masih merupakan produk yang sangat langka padahal tingkat kebutuhan beras organik atau beras sehat semakin meningkat seiring dengan makin tingginya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi beras yang sehat. Hal tersebut tentu menjadi peluang yang sangat baik bagi para petani-petani kita untuk dapat meningkatkan pendapatan atau penghasilan yang lumayan besar karena saat ini harga beras organik di pasaran dihargai dua kali lipat dan bahkan lebih dibanding dengan harga beras non organik. Namun lagi-lagi sayang karena masih hanya sebagian kecil dari petani-petani kita yang menangkap peluang usaha tersebut dan telah terbukti bahwa petani yang mengelola dan mengembangkan padi organik akan mendapatkan penghasilan yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan menanam padi non organik.Saat ini, berbagai paket teknologi budidaya padi organik telah banyak dipublikasikan dan disosialisasikan kepada masyarakat petani padi tentang teknik budidaya padi secara organik, misalnya metode SRI (System of Rice Intensifikation), IPAT (Intensifikasi Padi Aerob Terkendali), IIRA (Indonesia Inovasi Ridho Allah), dan masih banyak lagi paket-paket teknologi lain yang pada intinya adalah menjelaskan tentang teknik budidaya padi secara organik.Salah satu kendala yang cenderung menghambat perkembangan penanaman padi secara organik adalah karena petani pada umumnya menganggap bahwa budidaya padi secara organik terkesan lebih rumit dan biayanya lebih mahal disbanding budidaya padi non organik. Berangkat dari alasan tersebut, (Ggerakan Sidrap Membangun) sebagai sebuah gerakan moral yang berorientasi pada usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat petani di Kabupaten Sidrap Provinsi Sulawesi Selatan telah berhasil membuat sebuah loncatan yang cukup jauh kedepan dalam melakukan inisiasi dan pengembangan padi organik melalui paket teknologi GgSM.
Meskipun masih hanya merupakan unit-unit demonstrasi plot di beberapa tempat, namun hasil produksi menunjukkan bahwa jumlah produksi per ha semuanya di atas 10 ton/ ha. Bila dibandingkan dengan system yang produksi rata-ratanya hanya sekita 6,0 - 6,5 ton/ ha maka secara kuantitas hasil produksi dengan paket teknologi GgSM masih jauh lebih tinggi produksinya dan yang lebih istimewa lagi bahwa beras yang dihasilkan adalah merupakan beras organik yang sehat.Paket teknologi merupakan sebuah paket teknologi yang mencoba mengkombinasikan berbagai terapan teknologi budidaya padi organik yang aplikasi dan penerapannya disesuaikan dengan tingkat penerimaan dan pemahaman petani binaan. Dengan demikian, terapan dan aplikasi paket teknologi yang dilakukan oleh petani binaan akan berbeda dari satu demplot dengan demplot yang lain. Ternyata dengan cara pendekatan teknis yang seperti itu, maka petani target binaan merasa tertarik dan senang untuk melakukan dan menerapkan sistem budidaya padi secara organik.
Sebagai contoh, ada petani yang lebih senang melakukan tanam pindah tetapi ada juga yang lebih senang melakukan tablea (tanam benih langsung), ada petani yang sudah menerapkan sistem tanam legowo 2 : 1 atau legowo 5 : 1 tetapi ada juga petani yang belum menerapkan legowo; ada petani yang melakukan pindah tanam pada umur 15 – 18 HSS tetapi ada juga petani yang baru berani melakukan pindah tanam pada umur di atas 20 HSS; ada petani yang sudah menerapkan tanam satu batang per lubang tanam tetapi ada juga petani yang masih menanam 3 atau 4 batang per lubang tanam.
Pengelolaan Tanah
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam penerapan paket teknologi adalah kegiatan merecoveri tanah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan keanekaragaman kehidupan biologi di dalam tanah; menambah bahan organik dalam tanah; serta menetralisir senyawa-senyawa beracun dalam tanah. Tujuan utama recoveri tanah ini adalah untuk menciptakan tanah yang sehat untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi yang lebih sehat dan optimal.Langkah-langkah untuk me-recovery tanah adalah :
Memasukkan air ke lahan sawah (bila kondisi tanah sawah kering) sampai kondisi tanah sudah cukup basah dan mudah untuk dibajak.
Menyiramkan kultur mikroba tanah yang bersifat indegeneus. Kultur mikroba yang digunakan adalah kultur mikroba yang di dalamnya mengandung jenis mikroba non simbiotik penambat N bebas dari udara, mikroba selulotik, mikroba pelarut phosphat dan kalium serta mikroba yang mampu menghasilkan zat perangsang tumbuh.
Membalik tanah sampai kedalaman 25- 30 sentimeter pada 14- 21 hari sebelum tanam (Olah Tanah I).
Bersamaan dengan olah tanah I, dilakukan juga pembenaman jerami.
Setelah tanah selesai dibalik, siramkan kembali kultur mikroba tanah.
7 – 10 hari sebelum tanam: lakukan penggenangan maksimal agar diperoleh struktur tanah yang lebih renyah dan mudahuntuk dilumpurkan.
4 – 1 hari sebelum tanam: siramkan kembali kultur mikroba tanah seperti yang digunakan pada saat pengolahan tanah I, tebarkan kompos yang sudah matang minimal 1 ton/ha, tambahkan pula konsentrat pupuk organik padat yang mengandung unsur hara makro dan mikro – asam humat – asam pulvat – chelat hayati minimal 3 kg/ ha. Setelah itu, lakukan kembali olah tanah II.
Pada saat olah tanah II, dilakukan pembajakan secara detail yang dimulai dari tengah lahan – bergerak dengan arah melingkar – dan terakhir dibagian tepi lahan. Lakukan 2 – 3 pembajakan sehingga diperoleh struktur tanah lumpur yang halus.
Pengolahan tanah II dilakukan sedemikian rupa sehingga permukaan tanah secara keseluruhan tanah menjadi rata.
Setelah olah tanah II, lahan kemudian didiamkan selama 1 - 3 hari untuk mengendapkan lumpur sawah.
1 hari sebelum tanam atau 0 hari tanam, keluarkan air genangan sampai kondisi tanah macak-macak, buat saluran air (lebar 30 cm, dalam 15 – 20 cm) di seluruh bagian dalam pematang dan juga beberapa saluran yang melintang tengah sawah dengan arah timur – barat. Jarak antara setiap saluran yang melintang di tengah sawah adalah 4 – 5 meter.
Selanjutnya membuat larikan tanam dengan menggunakan caplak yang jarak tanamnya disesuaikan dengan keinginan petani (umumnya legowo 2 : 1 dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm)
Pengelolaan Persemaian (4 hari sebelum sebar benih)
Menetapkan lokasi petak persemaian (letak lokasi persemaian dan lokasi penanaman diperhitungkan sedemikian rupa sehingga tidak membutuhkan waktu melebihi 15 menit antara waktu pencabutan sampai penanaman bibit).
Luas petak persemaian 3 -5% dari luas penanaman (tergantung kebutuhan yang disesuaikan dengan teknik penanaman).
Petak persemaian dibersihkan dari sisa batang padi atau tanaman rumput.
Memasukkan air ke lahan persemaian (bila kondisi tanah sawah kering) sampai kondisi tanah sudah cukup basah dan mudah untuk dibajak.
Menyiramkan kultur mikroba seperti yang diberikan pada saat pengolahan tanah I; kemudian lahan persemaian dibajak sebanyak 2 kali.
Setelah dibajak 2 kali, tebarkan pupuk kompos yang sudah matang minimal 100 kg; tambahkan pula konsentrat pupuk organik padat yang mengandung unsur hara makro dan mikro – asam humat – asam pulvat – chelat hayati sebanyak 250 gram.
Tanah dibajak kembali minimal 2 kali sampai diperoleh struktur tanah lumpur yang halus.
Diamkan lahan persemaian selama 2 – 3 hari.
1 hari sebelum sebar atau 0 hari sebar, keluarkan air genangan sampai kondisi tanah macak-macak, buat bedengan (lebar 120 cm; panjang mengikuti lahan; tinggi bedengan 20 cm; jarak antara bedengan 30 – 40 cm); membuat saluran air mengelilingi bagian dalam pematang persemaian(lebar 30 cm, dalam 15 – 20 cm).
Menaburkan abu sekam padi tipis-tipis ke permukaan bedengan (dilakukan setelah permukaan bedengan rata).
Pengelolaan Benih
Sebaiknya pilih benih padi non hibrida karena padi non hibrida biasanya lebih responsip terhadap perlakuan pupuk organik dibanding padi hibrida.
Gunakan benih bermutu baik dan sehat.
Kebutuhan benih tergantung pada cara tanam (sebagai acuan bahwa dengan pola tanam legowo 2 : 1 dengan 1 batang per lubang tanam maka akan membutuhkan 7 – 8 kg benih).
Masukkan benih ke dalam wadah perendaman (jangan menggunakan wadah dari bahan logam), kemudian tuangkan air hangat sampai setinggi 2 – 3 cm di atas permukaan benih (air yang digunakan harus menggunakan air yang bersih dan bebas klorin).
Tambahkan kultur mikroba tanah ke dalam air perendaman, selanjutnya aduk-aduk benih dalam air perendaman selama ± 5 menit (benih yang mengapung segera diangkat dan dibuang).• Rendam benih selama 24 jam, tambahkan dengan segenggam garam dapur dan 1 kg abu sekam padi (kemudian diaduk-aduk selama ± 5 menit) pada saat ½ jam sebelum benih diangkat dan ditiriskan.
Setelah ditiriskan, benih kemudian diperam dalam karung plastik yang bahagian dalamnya telah dilapisi terlebih dahulu dengan daun pisang (lama pemeraman adalah 1 – 2 hari).
Ciri benih yang telah siap sebar adalah bila telah keluar ujung akar sepanjang 1 – 2 milimeter.
0 hari sebar : sebarkan benih secara merata kepermukaan bedengan.
Sebarkan benih diatas permukaan bedeng yang telah dipersiapkan terlebih dahulu dengan menggunakan gerakan telapak tangan yang digetarkan (jangan menyebarkan benih dengan cara lengan
diayunkan seperti melempar karena akan menyebabkan benih tertancap lebih dalam ke atas permukaan bedengan).
Pengaturan tinggi air dipersemaian dilakukan sama seperti persemaian padi non organik.
7 hari setelah sebar : dilakukan penyemprotan pupuk organik cair I
14 hari seteleh sebar : dilakukan penyemprotan pupuk organik cair II
15 – 18 hari setelah sebar : benih siap untuk dicabut dan dipindahkan
Pada saat mencabut bibit : jangan mencuci lumpur yang melekat pada akar tanaman, perlakukan bibit yang yang telah dicabut dengan hati-hati agar bibit tidak mengalami stres.
Pengelolaan Tanaman Hara – Air
Bila lahan sudah siap untuk ditanami dan bibit dipersemaian telah memenuhi syarat maka bibit padi segera dapat ditransplantasi atau dipindah tanam.
Bibit ditransplantasi pada umur yang masih muda (15 – 18 hari setelah sebar). Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi guncangan serta meningkatkan kemampuan tanaman dalam memproduksi batang dan akar selama masa pertumbuhan vegetatif, sehingga anakan yang muncul lebih banyak dalam setiap rumpun dan bulir padi yang dihasilkan juga lebih banyak karena panjang malai juga bertambah.
Bibit ditanam satu-satu dalam setiap lubang tanam. Hal ini bertujuan agar setiap tanaman mempunyai cukup ruang untuk tumbuh menyebar dan memperdalam perakarannya. Semakin banyak akar yang tumbuh dan semakin panjang akar yang terbentuk maka semakin besar batang dan daun yang tumbuh dan pada akhirnya akan semakin banyak bulir yang terbentuk dan berat bulir pun juga bertambah.
Jarak tanam adalah 50 x 25 x 12,5 sentimeter (jarak tanaman dalam baris adalah 12,5 cm; jarak antara baris 25 cm; setiap 2 baris tanaman kemudian diberi jarak legowo 50 cm). Hal ini dimaksudkan agar tanaman memiliki lebih banyak ruang untuk tumbuh menyebar ke samping sehingga anakan akan lebih banyak terbentuk. Selain itu, dengan jarak tanam yang seperti ini maka akan diperoleh lebih dari 10.000 rumpun/ha. Dengan demikian, semakin bertambahnya jumlah rumpun dan ditunjang dengan semakin banyaknya jumlah anakan yang terbentuk serta diikuti dengan malai yang lebih panjang dan jumlah bulir yang lebih banyak dan berat maka akan semakin besar potensi produksi gabah yang dihasilkan.
Pada saat menanam, bibit ditanam tidak terlalu dalam (maksimal sedalam 2 cm). Selain itu, usahakan bibit padi ditanam tegak mengarah ke atas.
Kondisi tanah diusahakan lebih banyak dalam kondisi aerob (retak basah). Satu minggu pertama setelah tanam, tanah tetap dipertahankan dalam kondisi lembab tetapi tidak tergenang, selanjutnya tanah diusahakan dalam keadaan retak basah dengan menggunakan teknik irigasi berselang. Bila tanah sudah nampak merekah dan kering maka air irigasi dimasukkan pada sore hari. Ketinggian air pada saat air dimasukkan adalah maksimal 2 cm. Setelah tergenang selama 2 jam atau pada pagi hari berikutnya maka air genangan sudah dapat dikeluarkan kembali (sisakan air hanya pada saluran yang telah dipersiapkan selanjutnya). Penggenangan hanya diberikan hanya untuk keperluan penyiangan gulma, pemupukan dan terapi air untuk tujuan pengendalian hama tanaman.
Pada saat tanaman berada pada fase pengisian bulir, maka perlu dilakukan penggenangan secara maksimal. Setelah masa pengisian bulir maka pertahankan kembali kondisi retak basah (pada saat 15 hari sebelum panen sudah perlu dikeringkan sampai tiba masa panen)
Pendangiran dilakukan sebanyak 3 kali (umur 10 hari, 20 hari dan 30 hari setelah tanam untuk tanam pindah, dan umur15 hari, 25 hari dan 35 hari setelah sebar untuk tanam benih langsung). Minimal pendangiran dilakukan sebanyak 2 kali. Pendangiran ini dimaksudkan selain untuk menyiangi dan membenamkan gulma jika ada, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa manfaat dari pendangiran tersebut akan mendorong semakin banyak oksigen yang tersuplai masuk kedalam tanah. Semakin banyak oksigen yang masuk ke dalam tanah maka akan meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas bakteri aerob di dalam tanah. Semakin tinggi aktivitas bakteri aerob di dalam tanah maka akan semakin meningkat Kapasitas Tukar Kation (KTK) di dalam tanah. Dan semakin tinggi KTK di dalam tanah maka semakin meningkatkan daya serap akar tanaman terhadap unsur hara tersedia dan pada akhirnya akan meningkatkan suplai hara dari akar tanaman ke bagian atas tanaman.
Pemupukan susulan dilakukan dengan penyemprotan Pupuk Organik Cair (POC) sebanyak 3 kali (umur 15 hari, 35 hari dan 55 hari setelah tanam untuk tanam pindah dan umur 20 hari, 40 hari dan 60 hari setelah sebar untuk tanam benih langsung). Dosis dan jenis POC disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan ketersediaan produknya dilokasi setempat. Pada saat melakukan penyemprotan POC, ditambahkan juga kultur mikroba yang berfungsi untuk mengikat N bebas dari udara.
Penyemprotan Zat Perangsang Tumbuh (ZPT) organik dilakukan pada saat umur 35 hari, 45 hari dan 55 hari setelah tanam untuk tanam pindah dan umur 40 hari, 50 hari dan 60 hari setelah sebar untuk tanam benih langsung. Jenis dan dosis ZPT organik juga disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan produknya di lokasi setempat.
Pengelolaan Hama dan Penyakit
Serangan hama dan penyakit pada pertanaman padi yang dikembangkan secara organik akan mempengaruhi tanggapan terhadap pengelolaan tanaman-hara-air yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat produksi baik secara kualitas maupun kuantitas. Berdasarkan hasil pengalaman dilapangan, tingkat serangan hama dan penyakit pada pertanaman padi yang dikelola secara organik selalu menunjukkan tingkat intensitas serangan yang lebih rendah dibanding dengan yang non organik. Hal tersebut tentu disebabkan karena pertanian secara organik akan mendorong tanaman untuk menghasilkan senyawa polifenol yang akan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit tanaman.Meskipun demikian, untuk menghindari kehilangan hasil maka bila terjadi serangan hama dan penyakit maka tetap dilakukan penyemprotan pestisida nabati yang ragam dan jenisnya sudah banyak beredar dipasaran saat ini. Khusus untuk serangan penggerek batang atau ulat grayak biasanya masih dapat dikendalikan dengan menggunakan teknik penggenangan air yang ditinggikan selama 2 hari.
Pengelolaan Panen
Panen dilakukan bila bulir padi sudah menunjukkan bulir matang secara fisiologis. Ciri-cirinya adalah warna bulir padi berwarna kuning cerah secara keseluruhan, bila ditekan dengan kuku jari tangan maka sudah terasa keras dan tidak meninggalkan bekas tekanan kuku. Cara yang lain adalah memotong 2 – 3 rumpun padi tepat dibagian pangkal batang tanaman padi. Bila dalam waktu 3 – 4 hari masih tumbuh daun baru dari pangkal batang padi berarti proses pengisian padi belum maksimal dan waktu panen masih perlu ditunda, tetapi bila tidak tumbuh lagi maka panen sudah dapat segera dilaksanakan.
Demikian sistem budidaya padi secara organik dengan menerapkan paket teknologi GgSM yang teknik aplikasinya diselaraskan dengan tingkat penerimaan dan pemahaman petani binaan. Saat ini penerapan paket teknologi sudah memasuki musim tanam kedua. Seiring dengan komitmen untuk lebih meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan petani maka penyempurnaan paket teknologi masih terus ditingkatkan sesuai hasil evaluasi di lapangan dan seiring dengan semakin cerdasnya petani binaan. Berdasarkan hasil dan tingkat produksi yang diperoleh (semua demplot binaan berproduksi di atas 10 ton/ha) maka semakin banyak petani yang berminat untuk menerapkan pertanian organik.
Untuk musim tanam selanjutnya telah terdaftar lebih 100 hektar sawah yang akan menerapkan paket teknologi GgSM. Bahkan beberapa kabupaten tetangga juga sudah menerapkan paket teknologi ini dan akan terus dikembangkan pada areal yang lebih luas lagi. Hal ini patut disyukuri karena ini merupakan cikal bakal bagi pengembangan padi organik di Kabupaten Sidrap pada khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya. (**)
Anda dapat mengikuti update artikel ini melalui RSS 2.0 feed.
4 tanggapan untuk artikel “Budidaya Padi Organik dengan Paket Teknologi GSM”
Ardiansyah al Ertha menulis pada Jumat, 5 Februari 2010, 11:25
BUKAN SEBUAH SANDIWARA, Ada suatu kenyataan yang aneh, dilihat dari geografisnya Indonesia lebih tepat disebut negara maritim, kenyataan hingga kini tetap kokoh dengan label negara agraris. Artinya, Indonesia bukannya dikenal dan terkenal karena batu bara, timah, minyak, emas maupun hasil industrinya, tetapi mencuat dan dicatat karena hasil buminya yang melegenda berabad-abad. Buktinya, teh, kopi, kopra, kelapa sawit, rempah-rempah, minyak atsiri, telah lama melanglang buana dengan membawa trade mark Indonesia. Ya, petani kita telah membuat Indonesia punya nama di dunia ! Pernyataan ini bukannya untuk membesar-besarkan jasa petani. Sebab petani Indonesia memang ” orang besar “. Dan justru terasa lebih besar lagi ketika nama mereka jarang dikenal. Di Jawa, petani sering hanya disebut dengan perumpamaan Si Dadap atau Si Waru, Si Suta atau Si Naya. Seolah nama mereka tak layak dicatat. Karyanya saja yang ditunggu, buah tangannya saja yang perlu. Ibarat, semua suka makan berasnya, tetapi tidak ingin terpercik lumpur dari sawahnya. Dalam pandangan banyak orang, petani hanyalah ” wong cilik “. Sama halnya rumputan yang tumbuh di permukaan tanah. Memang, jasa mereka besar dalam mencegah erosi permukaan bumi ini. Tetapi, resikonya terus juga terinjak dan diinjak oleh jutaan kaki hewan dan manusia. Mungkin, gara-gara posisi petani selalu terletak dibawah, dekat dengan tanah, banyak generasi muda anak cucu petani yang enggan mewarisi profesi ini, dan kepengin mencicipi hidup di alam yang ” lebih benderang dan tinggi “. Entah jadi pegawai negeri, guru, dosen, pengusaha dll. Yang penting meninggalkan desa, meninggalkan predikat ” wong tani ” yang dinilai tak punya masa depan karena akan terus dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan di sekitarnya. Oleh cangkul, tengkulak, pasar, mall, hingga selera-selera modern dan global yang makin berkuasa di dunia. Potret kecil ini tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Sebab, dunia pertanian Indonesia rasanya memang belum pernah menjadi subjek. Para peteni pun belum memproleh kemandiriannya secara individu, social, dan professional. Pada realitasnya, dunia pertanian selalu mengalami tarik-menarik, baik oleh kekuasaan, ilmu pengetahuan, pasar, hokum, ekonomi, perdagangan, hingga dinamika social politik di tanah air. Bertahun-tahun dunia pertanian telah menjadi “ lapangan sepak bola “ bagi para avonturir yang mencari keuntungan disana, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh “ menanam “ benih-benih bermutu dan layak dikenang zamannya. Setidak-tidaknya karena alasan seperti diataslah, relawan media komunikasi pertanian SIDATANI melakukan gerakan menjumpai para petani diseluruh pelosok negeri, menyambung silaturahmi positif konstruktif. Sekaligus membangun tradisi belajar bersama “ asah-asih-asuh “ secara terbuka (seperti difatwakan oleh Ki Hajar Dewantara), yang dijiwai semangat tenggang rasa dan patembayatan tinggi. Soalnya, sesuatu yang tak pernah berubah di dunia ini, adalah perubahan itu sendiri. Dengan demikian, para petani pun akan menghadapi perubahan demi perubahan yang kadang terlampau cepat, kadang belum sepenuhnya dimengerti, sehingga tidak sampai diketahui dan diantisipasi sama sekali. Untuk itu, relawan media komunikasi pertanian SIDATANI benar-benar ingin membantu menemukan celah lorong untuk lolos dari berbagai permasalahan yang membelit petani selama ini. Mungkin, gerakan jumpa petani ini kesannya terlalu tinggi, terlampau berlebihan. Namun, kami para relawan SIDATANI yakin. Tidak ada jalan yang tiba-tiba mulus di masa awal. Tidak ada bukit yang tiba-tiba rata. Tidak ada sawah yang tiba-tiba berpematang. Seluruh tatanan itu harus dibuat dan membutuhkan cucuran keringat. Pendek kata, relawan SIDATANI telah bertekad jumpa petani menjadi saudara, menjadi sahabat petani di seluruh Indonesia. Kami akan sama-sama menyangkul, merumput, membuat benih, menanam, memelihara, memberantas hama penyakit, hingga memanen, dan bergandengan tangan menangani berbagai kegiatan pasca panen yang cukup rumit di lapangan. Terakhir sekali, kami mengetuk hati para dermawan, untuk membiayai perjalanan relawan SIDATANI jumpa petani, dalam bentuk penjualan : PAKET JUMPA PETANI, senilai Rp. 57.500,- (lima puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) berupa 1 (satu) liter pupuk bio organic HERBAFARM + 1 EKS MAJALAH SIDATANI, dari penjualan paket tersebut, Rp. 7.500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah) akan kami gunakan untuk biaya perjalanan JUMPA PETANI ke seluruh Indonesia. Paket JUMPA PETANI akan kami kirimkan kepada para dermawan, atau bisa juga di sumbangkan kepada para petani, melalui relawan SIDATANI. Bagi dermawan yang berminat bisa transper melalui : Ardiansyah al Ertha, SE – Bank Central Asia (BCA), Cabang Katamso Yogyakarta, rekening : 4450941943 atau Bank Mandiri, Cabang Katamso Yogyakarta, rekening : 1370005425307. Bukti transper, mohon FAX : 0274 – 370324 atau Telp/SMS ke : 08172346363, 081321490378.
edy purnomo menulis pada Minggu, 7 Februari 2010, 21:48
giman cara menenam padi dengan sistem SRI
befridesi upastri menulis pada Rabu, 14 April 2010, 16:38
apakah budidaya padi organik bisa diterapkan di sawah yang tadah hujan? ataukah hanya bisa diterapkan pada lahan sawah yang mempunyai irigasi? terimakasih
H.Tambunan menulis pada Selasa, 11 Mei 2010, 11:40
Saya berminat melakukan pengembangan padi organik di Nusa Tenggara Timur, sementara mempersiapkan sutau Lembaga Pertanian Sehat. Kami ingin bekerjasama dengan teman2 yang sudah melakukan pengembangan padi organik di pulau jawa..
Ardiansyah al Ertha menulis pada Jumat, 5 Februari 2010, 11:25
BUKAN SEBUAH SANDIWARA, Ada suatu kenyataan yang aneh, dilihat dari geografisnya Indonesia lebih tepat disebut negara maritim, kenyataan hingga kini tetap kokoh dengan label negara agraris. Artinya, Indonesia bukannya dikenal dan terkenal karena batu bara, timah, minyak, emas maupun hasil industrinya, tetapi mencuat dan dicatat karena hasil buminya yang melegenda berabad-abad. Buktinya, teh, kopi, kopra, kelapa sawit, rempah-rempah, minyak atsiri, telah lama melanglang buana dengan membawa trade mark Indonesia. Ya, petani kita telah membuat Indonesia punya nama di dunia ! Pernyataan ini bukannya untuk membesar-besarkan jasa petani. Sebab petani Indonesia memang ” orang besar “. Dan justru terasa lebih besar lagi ketika nama mereka jarang dikenal. Di Jawa, petani sering hanya disebut dengan perumpamaan Si Dadap atau Si Waru, Si Suta atau Si Naya. Seolah nama mereka tak layak dicatat. Karyanya saja yang ditunggu, buah tangannya saja yang perlu. Ibarat, semua suka makan berasnya, tetapi tidak ingin terpercik lumpur dari sawahnya. Dalam pandangan banyak orang, petani hanyalah ” wong cilik “. Sama halnya rumputan yang tumbuh di permukaan tanah. Memang, jasa mereka besar dalam mencegah erosi permukaan bumi ini. Tetapi, resikonya terus juga terinjak dan diinjak oleh jutaan kaki hewan dan manusia. Mungkin, gara-gara posisi petani selalu terletak dibawah, dekat dengan tanah, banyak generasi muda anak cucu petani yang enggan mewarisi profesi ini, dan kepengin mencicipi hidup di alam yang ” lebih benderang dan tinggi “. Entah jadi pegawai negeri, guru, dosen, pengusaha dll. Yang penting meninggalkan desa, meninggalkan predikat ” wong tani ” yang dinilai tak punya masa depan karena akan terus dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan di sekitarnya. Oleh cangkul, tengkulak, pasar, mall, hingga selera-selera modern dan global yang makin berkuasa di dunia. Potret kecil ini tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Sebab, dunia pertanian Indonesia rasanya memang belum pernah menjadi subjek. Para peteni pun belum memproleh kemandiriannya secara individu, social, dan professional. Pada realitasnya, dunia pertanian selalu mengalami tarik-menarik, baik oleh kekuasaan, ilmu pengetahuan, pasar, hokum, ekonomi, perdagangan, hingga dinamika social politik di tanah air. Bertahun-tahun dunia pertanian telah menjadi “ lapangan sepak bola “ bagi para avonturir yang mencari keuntungan disana, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh “ menanam “ benih-benih bermutu dan layak dikenang zamannya. Setidak-tidaknya karena alasan seperti diataslah, relawan media komunikasi pertanian SIDATANI melakukan gerakan menjumpai para petani diseluruh pelosok negeri, menyambung silaturahmi positif konstruktif. Sekaligus membangun tradisi belajar bersama “ asah-asih-asuh “ secara terbuka (seperti difatwakan oleh Ki Hajar Dewantara), yang dijiwai semangat tenggang rasa dan patembayatan tinggi. Soalnya, sesuatu yang tak pernah berubah di dunia ini, adalah perubahan itu sendiri. Dengan demikian, para petani pun akan menghadapi perubahan demi perubahan yang kadang terlampau cepat, kadang belum sepenuhnya dimengerti, sehingga tidak sampai diketahui dan diantisipasi sama sekali. Untuk itu, relawan media komunikasi pertanian SIDATANI benar-benar ingin membantu menemukan celah lorong untuk lolos dari berbagai permasalahan yang membelit petani selama ini. Mungkin, gerakan jumpa petani ini kesannya terlalu tinggi, terlampau berlebihan. Namun, kami para relawan SIDATANI yakin. Tidak ada jalan yang tiba-tiba mulus di masa awal. Tidak ada bukit yang tiba-tiba rata. Tidak ada sawah yang tiba-tiba berpematang. Seluruh tatanan itu harus dibuat dan membutuhkan cucuran keringat. Pendek kata, relawan SIDATANI telah bertekad jumpa petani menjadi saudara, menjadi sahabat petani di seluruh Indonesia. Kami akan sama-sama menyangkul, merumput, membuat benih, menanam, memelihara, memberantas hama penyakit, hingga memanen, dan bergandengan tangan menangani berbagai kegiatan pasca panen yang cukup rumit di lapangan. Terakhir sekali, kami mengetuk hati para dermawan, untuk membiayai perjalanan relawan SIDATANI jumpa petani, dalam bentuk penjualan : PAKET JUMPA PETANI, senilai Rp. 57.500,- (lima puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) berupa 1 (satu) liter pupuk bio organic HERBAFARM + 1 EKS MAJALAH SIDATANI, dari penjualan paket tersebut, Rp. 7.500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah) akan kami gunakan untuk biaya perjalanan JUMPA PETANI ke seluruh Indonesia. Paket JUMPA PETANI akan kami kirimkan kepada para dermawan, atau bisa juga di sumbangkan kepada para petani, melalui relawan SIDATANI. Bagi dermawan yang berminat bisa transper melalui : Ardiansyah al Ertha, SE – Bank Central Asia (BCA), Cabang Katamso Yogyakarta, rekening : 4450941943 atau Bank Mandiri, Cabang Katamso Yogyakarta, rekening : 1370005425307. Bukti transper, mohon FAX : 0274 – 370324 atau Telp/SMS ke : 08172346363, 081321490378.
edy purnomo menulis pada Minggu, 7 Februari 2010, 21:48
giman cara menenam padi dengan sistem SRI
befridesi upastri menulis pada Rabu, 14 April 2010, 16:38
apakah budidaya padi organik bisa diterapkan di sawah yang tadah hujan? ataukah hanya bisa diterapkan pada lahan sawah yang mempunyai irigasi? terimakasih
H.Tambunan menulis pada Selasa, 11 Mei 2010, 11:40
Saya berminat melakukan pengembangan padi organik di Nusa Tenggara Timur, sementara mempersiapkan sutau Lembaga Pertanian Sehat. Kami ingin bekerjasama dengan teman2 yang sudah melakukan pengembangan padi organik di pulau jawa..